Jepang Resesi, Indonesia Tidak Terpengaruh

Jepang Resesi, Indonesia Tidak Terpengaruh

NERACA

Jakarta – Meski dalam dua dekade terakhir tingkat pertumbuhan ekonomi Jepang turun dan negara itu adalah salah satu pasar ekspor terbesar Indonesia, tetapi Indonesia tidak terpengaruh.

“Sebetulnya Jepang sudah mengalami resesi selama 25 tahun,” kata Sekretaris Komite Ekonomi Nasional (KEN) Aviliani kepada Neraca. Tetapi, tambah dia, belakangan ini kondisi Jepang memburuk karena Eropa dan Amerika Serikat mengalami kesulitan ekonomi.

Jepang mempunyai utang yang sangat besar. Menurut data dari Kementerian Keuangan Jepang, sampai akhir September 2012, utang Jepang mencapai 983,30 triliun yen atau setara dengan US$ 12,4 triliun. Jepang terlihat sehat dan masih selamat sampai sekarang, kata Aviliani, karena bisa membayar utangnya dari dana masyarakat.

Selain utang yang membengkak, Jepang mempunyai masalah karena penduduknya mengalami penuaan. Penduduknya yang berusia 65 tahun ke atas sebanyak 20%. Lebih gawat lagi, pemuda Jepang agak kesulitan untuk mengambil keputusan menikah.

Banyaknya penduduk berusia tua membuat konsumsi dalam negeri Jepang rendah. Menurut Aviliani, yang membuat Jepang agak terdongkrak pertumbuhan ekonominya adalah ekspornya yang mencapai 75%.

Namun, ketika ekonomi negara-negara target ekspor Jepang seperti Eropa dan AS menurun, pertumbuhan ekonomi Jepang pun terganggu.

“Itulah yang terjadi sekarang. Karena dia terancam, maka PDB- nya menurun. Akan terjadi PHK. Resesinya bisa parah karena industri dalam negerinya menurun,” jelas Aviliani.

Negara samurai tersebut adalah salah satu negara pasar ekspor terbesar Indonesia, selain Eropa, AS, dan China.

Namun demikian, menurut Aviliani, perlambatan ekonomi Jepang itu tidak akan berpengaruh banyak terhadap ekspor Indonesia ke Jepang. Hal ini dikarenakan jenis barang-barang ekspor Indonesia adalah bahan baku. “Walau miskin, orang tetap minum kopi,” kata dia.

Barang-barang yang biasa diekspor Indonesia ke Jepang adalah produk-produk pertanian, seperti CPO, kakao, kopi, dan udang. “Barang-barang yang berkaitan dengan produk pangan,” jelas Aviliani.

Lebih-lebih, Indonesia terdukung dengan konsumsi domestiknya yang tinggi. “Ini masih bisa kita andalkan,” kata Aviliani.

Menurut dia, dengan pemerintah tidak melakukan apa-apa saja, hanya mengandalkan konsumsi domestik dan ekspor, Indonesia masih mempunyai pertumbuhan ekonomi di atas 6%. “Kalau kita bisa menambah dengan infrastruktur dan pemerintah mau investasi lebih besar lagi, maka bisa 7%, bahkan lebih,” tutup dia.

BERITA TERKAIT

OJK: Masyarakat Jangan Percaya Pinjaman Online Tidak Terdaftar

OJK: Masyarakat Jangan Percaya Pinjaman Online Tidak Terdaftar NERACA Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) selaku lembaga independen yang melakukan…

Optimistis di 2019, BMW Indonesia Bakal Rilis 10 Mobil Baru

BMW Grup Indonesia akan meluncurkan sebanyak 10 mobil terbaru pada 2019, menunjukkan kepercayaan pabrikan mobil mewah asal Jerman itu dalam…

Ini Tantangan Baru Industri Pariwisata di Indonesia

Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Tarif Rp12.000, LRT akan Beroperasi April 2021

  NERACA Jakarta – PT Adhi Karya selaku kontraktor pembangunan kereta ringan Jabodebek (LRT) menyampaikan bahwa progres pembangunan LRT telah…

Lewat Tol Trans Jawa, Angkutan Logistik Layak Disubsidi

  NERACA Jakarta - Tarif angkutan logistik tertentu di jalan tol, khususnya Tol Trans Jawa dinilai layak disubsidi sebagai solusi…

Stasiun Cisauk jadi Daya Tarik Investasi Properti

  NERACA Jakarta - Keberadaan Stasiun Cisauk, Kabupaten Tangerang ini, setiap harinya melayani sekitar 6.200 penumpang dengan 132 perjalanan KRL…