BI Optimalkan Bauran Kebijakan Moneter dan Makroprudensial - Dukung Ketahanan dan Pertumbuhan Ekonomi Nasional

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan bauran antara kebijakan moneter dan makroprudensial guna mengefektifkan kinerja moneter yang mampu mendukung ketahanan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Perry Warjiyo di Bandung, Minggu (18/11) mengatakan bauran kebijakan ini merupakan pelengkap dan penyempurna kebijakan moneter yang hanya mengacu pada kerangka target inflasi dan kebijakan suku bunga, yang hasilnya tidak selalu efektif dan efisien "Hasilnya terbatas dan ketidaksempurnaan pasar keuangan menyebabkan transmisi suku bunga tidak selalu efektif berpengaruh pada perekonomian," kata Perry seperti dikutip Antara.

Untuk itu, BI sejak 2010 telah menerapkan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial yang mengoptimalkan lima instrumen kebijakan yaitu suku bunga, nilai tukar, pengendalian arus modal asing, kebijakan makroprudensial terhadap sektor keuangan dan komunikasi kebijakan.

"Penerapan di Indonesia sejak 2010 sampai sekarang terbukti lebih efektif dan efisien mampu mendukung ketahanan perekonomian nasional dari dampak krisis global. Majalah the Economist bahkan menilai kebijakan ini mampu membawa Indonesia menjadi negara yang memiliki ekonomi paling stabil sejak lima tahun terakhir," katanya.

Dijelaskannya, jika hanya mengandalkan kebijakan suku bunga untuk stabilisasi harga, ada berbagai faktor yang menyebabkan kebijakan ini tidak selalu efektif dan efisien seperti faktor non moneter, informasi asimeteris, perilaku risiko dan moral hazard yang menyebabkan transmisi suku bunga tidak selalu bekerja efektif.

"Kebijakan suku bunga tidak bisa dipergunakan sebagai instrumen yang bersifat alokatif dan distributif terhadap sektor atau segmen ekonomi tertentu yang diperlukan untuk penciptaan lapangan kerja," katanya.

Dampak berlebihan bauran kebijakan ini juga memperbaiki kondisi pasar keuangan yang terpengaruh kondisi prosiklisitas keuangan yang menimbulkan dampak berlebihan pada siklus ekonomi.

"Prosiklisitas kredit dan PDB pada periode ekspansi sekarang ini semakin menguat, tercermin dari pertumbuhan kredit riil yang masih meningkat meskipun pertumbuhan ekonomi sedikit melambat," kata Perry.

Prosiklisitas pada kredit ini juga berhasil mengukur optimalisasi kredit sesuai kapasitas outputnya, sehingga BI bisa mengendalikannya seperti pada kebijakan loan to value (LTV) dan kebijakan uang muka untuk kredit properti dan otomotif.

Terkait dengan keberadaan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang akan mulai mengawasi perbankan pada 2014, Perry mengatakan bauran kebijakan moneter dan makroprudensial ini juga akan terus dilanjutkan sebagai landasan untuk integrasi kebijakan BI dalam mencapai stabilitas moneter dan ikut menjaga stabilitas sistem keuangan.

BI, dalam stabilitas sistem keuangan, berwenang pada kebijakan makroprudensial pengawasan sistemik dan pengembangan pasar jangka pendek.

Sementara itu, OJK berwenang untuk pengawasan mikroprudensial terhadap kelembagaan perbankan, lembaga keuangan bukan bank dan pasar modal yang mencakup perizinan, ketentuan prudensial, pengawasan, penilaian kesehatan dan pengenaan sanksi. (doko)

BERITA TERKAIT

ADB Sebut Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Jadi Contoh Di Asia Tenggara

      NERACA   Jakarta - Presiden Bank Pembangunan Asia atau Asian Development Bank (ADB) Takehiko Nakao mengatakan pertumbuhan…

Soal Tiket "Mahal" dan Nasib Maskapai Nasional

Oleh: Metta Dharmasaputra, CEO Katadata.co.id Jalur udara, tak lagi menjadi primadona arus mudik Lebaran tahun ini. Tiket pesawat yang naik…

Amarta: Kebijakan Anies Jangan Dikaitkan Pilpres 2024

Amarta: Kebijakan Anies Jangan Dikaitkan Pilpres 2024 NERACA Jakarta - Ketua Aliansi Masyarakat Jakarta (Amarta), Rico Sinaga menilai, terlalu dini…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Infrastruktur Belum Mendukung Kegiatan Ekspor Impor

      NERACA   Jakarta - Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Andry Satrio Nugroho mengatakan…

Mendes : Penyerapan Dana Desa Hingga 99%

      NERACA   Jakarta - Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Eko Putro Sandjojo mengatakan…

PLN Siap Topang Kebutuhan Listrik Industri

    NERACA   Jakarta - Listrik merupakan infrastruktur penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, mendorong investasi, dan pemerataan industri, yang…