Strategi Dagang Indonesia Dinilai Masih Lemah

NERACA

Jakarta - Indonesia dinilai belum maksimal dalam memanfaatkan perdagangan internasional, terutama dalam pasar bebas. Padahal perdagangan internasional ini harus dikelola dengan baik dan strategis, padahal pergaulan ekonomi internasional merupakan sesuatu yang tak bisa dan tak perlu dihindari.

“Bahkan harus bisa menggunakan perdagangan internasional yang lebih terbuka dan bebas untuk memajukan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia,” kata Mantan Komisaris Utama PT Pertamina, Endriartono Sutarto melalui siaran persnya di Jakarta, yang dikutip pada Minggu (18/11).

Selain itu, lanjut mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn) ini, pemerintah khususnya Kementerian Perdagangan juga perlu melakukan persiapan yang cermat dan strategis. Sehingga tak hanya membuka pasar bagi produk negara dan bangsa lain. “Tapi juga siap memanfaatkan terbukanya pasar internasional bagi produk-produk domestik yang berkualitas dan kompetitif,” tambahnya.

Yang tak kalah penting, sambung Endriartono lagi, pembenahan masalah infrastruktur. Karena hal ini penting untuk mendukung produksi dan distribusi barang serta jasa. “Setidaknya nilai tambah yang tercipta dapat lebih maksimal didistribusikan kepada tenaga kerja yang terlibat di dalam proses produksi dan distribusi,” ungkapnya.

Menurut Endriartono, pertumbuhan ekonomi nasional secara makro cukup baik tapi realitasnya belum memberikan dampak positif pada perbaikan kesejahteraan rakyat. "Berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik), produk domestik bruto Indonesia hingga triwulan II tahun 2012 tumuh 6,4%," paparnya.

Diakuinya, laju pertumbuhan ekonomi nasional cukup baik di tengah lesunya pertumbuhan ekonomi internasional menyusul krisis pasarfinansial di Amerika Serikat pada 2008. Tingkat inflasi dan nilai tukar rupiah terhadap dolar sepanjang tahun 2012, menurut dia, juga cukup terkendali yakni inflasi pada tingkat 8,5 % serta nilai tukar rupiah terhadap dolar sekitar Rp9.600.

"Dengan pertumbuhan ekonomi tersebut, Indonesia mendapat pujian dari berbagai lembaga ekonomi internasional, dipersepsikan semakin aman bagi investasi asing, serta tergolong dalam negara tujuan investasi yang semakin disukai," jelasnya.

Namun persoalan yang mendasar, kata Endriartono, ternyata indikator makro ekonomi yang baik tersebut tidak berimbas terhadap perbaikan kesejahteraan rakyat. “Ada kontradiksi antara indikator makro ekonomi yang dibanggakan dengan realitas masih besarnya jumlah rakyat miskin yang hidup di bawah standar kebutuhan fisik minimum,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Endriartono berupaya mencermati indikator pertumbuhan ekonomi secara makro dan relevansinya terhadap kondisi rakyatIndonesia. Menurut dia, untuk menilai tingkat kesejahteraan, digunakan indikator produk nasional bruto (PNB) per kapita, yang merupkan bagian dari produk demestik bruto (PDB) serta pendapatan warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Indikator lainnya, kata dia, meliputi, tingkat inflasi, tingkat pengangguran, belanja pemerintah, tingkat konsumsi, dan posisi neraca perdagangan. "Jika mencermati kondisi perekonomian nasional, dengan menggunanakan indikator tersebut, pertumbuhan ekonomi nasional secara makro relatif tinggi yakni membesarkan kue ekonomi nasional secara riil. Sayangnya kue yang lebih besar itu, hanya dinikmati oleh sebagian kecil rakyat," katanya.

Di satu sisi, kata dia, orang Indonesia yang masuk dalam jajaran orang terkaya di dunia bertambah, tapi di sisi lain, jumlah penduduk miskin juga bertambah banyak."Angka kemiskinan di Indonesia masih tinggi," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Endriartono mengutip data BPS, bahwa penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan pada 2011 ada sekitar 12,36% atau sekitar 30 juta jiwa, sedangkan data Bank Dunia, penduduk miskin di Indonesia mencapai 100 juta jiwa.

BERITA TERKAIT

Indonesia Bisa Tiru Vietnam Manfaatkan Perang Dagang

NERACA Jakarta – Peneliti Indonesia for Global Justice (IGJ) menilai pemerintah Indonesia bisa meniru strategi yang dilakukan pemerintah Vietnam dalam…

Indonesia Bisa Jadi Korban Perang Dagang AS-China

NERACA Jakarta – Wakil Presiden Eksekutif Hubungan Internasional Institut China, Ruan Zongze, menyebut bahwa Indonesia bisa saja menjadi korban dari…

Disambut Positif Pelaku Pasar Dubai - Indonesia Rayakan Listing Dua Sukuk Hijau

NERACA Jakarta - Penerbitan Sukuk hijau pemerintah Indonesia senilai US$ 2 miliar di Nasdaq Dubai mendapatkan respon positif dari pelaku…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

RI Dukung Deregulasi Perdagangan Internasional

  NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendukung penyederhanaan prosedur perdagangan internasional, demikian disampaikan Staf Ahli Bidang Hubungan Internasional Dody…

Imbas Perang Dagang, Indonesia Punya Peluang

NERACA Jakarta – Indonesia dinilai memiliki peluang di tengah bergulirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China. Sebab, Indonesia masih…

Jasa Penerbangan - GMF Tawarkan Perawatan Pesawat Lebih Murah Dibandingkan Asing

NERACA Jakarta – PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia menawarkan perawatan pesawat lebih murah dibanding dengan perusahaan perawatan pesawat (MRO) di…