Neraca Pembayaran Surplus US$1,5 Miliar di Akhir tahun

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyatakan bahwa Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) bisa mencapai surplus sampai di atas US$1,5 miliar di triwulan IV atau akhir 2012. Sementara surplus di triwulan III 2012 hanya mencapai sekitar US$900 juta.

“Pertama karena defisit transaksi berjalan lebih rendah, dari 2,4% dari PDB di triwulan tiga, menjadi 2,2% dari PDB di triwulan empat. Kemudian juga disebabkan surplus neraca modal yang akan lebih besar, dari investasi langsung dari luar negeri (foreign direct investment/FDI) dan investasi portofolio yang tetap kuat, termasuk penerbitan bonds dalam valas oleh pemerintah,” kata Perry Warjiyo, Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, di Jakarta, Selasa (13/11).

Persoalan FDI, BI memang masih yakin bahwa itu akan terus masuk karena menariknya investasi langsung di Indonesia bagi investor asing, selain secara tidak langsung disebabkan oleh Quantitative Easing (QE) III yang dikeluarkan pemerintah AS. “Perkiraan kita untuk keseluruhan tahun 2012 ini, dana asing yang masuk dalam bentuk PMA mendekati US$19 miliar. Ini memang agak sedikit kurang dari perkiraan sebelumnya, karena dana yang masuk dalam PMA akan terkait juga dengan kegiatan investasi dalam negeri,” ujar Perry.

Kegiatan investasi dalam negeri, menurut Perry, memang terpengaruh oleh permintaan ekspor ke luar negeri yang menurun, walaupun permintaan domestik masih tetap tinggi. “Padahal sebelumnya kita sudah prediksikan bahwa kegiatan investasi akan meningkat tinggi untuk memenuhi permintaan domestik maupun global ekspor,” imbuhnya.

Sehingga, tutur Perry, realisasi invetasi yang riil di triwulan IV 2012 akan direvisi menjadi 10%-11% dalam PDB karena melihat realisasi di triwulan III. Namun dirinya memprediksi sebelumnya, kalau realisasi investasi riil bisa mencapai 11%-12% dalam PDB. Kemudian aliran dana dalam bentuk PMA untuk yang ke investasi tentu sedikit lebih rendah.

Dari segi investasi asing dalam bentuk portofolio, jelas Perry, akan masuk lebih besar di triwulan IV 2012. “Karena pertama, pembelian asing dalam bentuk obligasi masih tetap kuat. Kedua, di triwulan IV pemerintah akan mengeluarkan samurai bonds dan sukuk yang juga akan menambah arus investasi dalam bentuk portofolio,” paparnya.

Senada, pengamat ekonomi A Tony Prasetiantono juga mengatakan bahwa di akhir tahun ini NPI akan membaik, dengan FDI yang akan mencapai US$25 miliar hingga akhir tahun. Hal ini dikarenakan transaksi berjalan mulai surplus kembali.

Akan tetapi, Tony menekankan bahwa kestabilan politik di Indonesia harus tetap dijaga kondusif ke depannya, supaya Indonesia bisa tetap menjadi negara dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. “Ini dikarenakan banyak keluhan investor asing yang mau masuk ke dalam negeri malah mengenai keadaan politik dalam negeri. Kalau tidak kondusif, mereka juga takut masuk Indonesia,” jelasnya.

Inflasi

Perihal pemberian peringkat oleh JCR, Perry Warjiyo menjelaskan, kebijakan moneter yang ditempuh BI memang tidak mengutamakan kebijakan suku bunga seperti yang dilakukan negara-negara di Eropa dan Amerika Serikat (AS). Kebijakan moneter di Indonesia lebih mengutamakan sasaran inflasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang terkait.

"Kami menilai kebijakan suku bunga tidak bisa langsung mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, sehingga perlu dilakukan bauran kebijakan antara kebijakan moneter dengan makroprudensial. Model ini disanjung dan diakui mampu mendukung kestabilan ekonomi Indonesia sampai saat ini," katanya.

Kebijakan suku bunga di Indonesia, lanjutnya diarahkan untuk menjaga inflasi dan pertumbuhan ekonomi serta harus didorong kebijakan nilai tukar yang sesuai dengan nilai fundamentalnya dan perkiraan ekonomi makro ke depan.

Sementara ekonom Standard Chartered Bank, Fauzi Ichsan menilai kebijakan moneter yang dilakukan berhasil menjaga inflasi ke tingkat yang rendah dan suku bunga yang stabil, sehingga kritik terhadap kebijakan BI menjadi sedikit. Namun menurut dia, BI harus bersiap menaikkan suku bunga jika pada tahun depan pemerintah jadi menaikkan harga BBM atau tarif dasar listrik. [ria]

BERITA TERKAIT

Neraca Perdagangan Indonesia Berada di Level Aman

    Oleh: Safrizal Fajar, Pemerhati Ekonomi Pembangunan   Sebagai negara berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang meroket, permintaan pasar dalam…

Optimis Sambut Tahun 2019 - Jababeka Residence Bidik Penjualan Rp 1 Triliun

NERACA Cikarang – Opitimisme pasar properti masih akan tetap tumbuh di tahun ini, mendorong beberapa perusahaan properti genjot ekspansi bisnisnya…

IPCC Serap Dana IPO Rp 525,28 Miliar

Sejak mencatatkan saham perdananya di pasar modal tahun kemarin, PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) telah memakai dana penawaran umum…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Tumbuh 10,3%, BNI Bukukan Laba Rp15,02 Triliun

      NERACA   Jakarta – Sepanjang 2018, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk berhasil membukukan laba bersih sebesar…

WWF Ikut Dorong Praktik Berkelanjutan Jasa Keuangan Di Singapura

    NERACA   Jakarta - WWF bergabung dengan platform multipihak yang mendorong arah aliran dari berbagai lembaga jasa keuangan…

CIMB Niaga Tumbuhkan Literasi Keuangan Pelajar Melalui AMDB

      NERACA   Jakarta - PT Bank CIMB Niaga Tbk (CIMB Niaga) konsisten menumbuhkan semangat menabung dan berbagi…