Kinerja Emiten Sektor Batu Bara Belum Pulih - Proyeksi Semester I-2013

NERACA

Jakarta–Prospek pasar batu bara tahun depan masih belum menunjukkan pemulihan. Oleh karena itu, kebanyakan analis menilai prospek kinerja saham dari emiten produsen batu bara nasional kurang menarik hingga semester I- 2013.

Kepala Riset PT Trust Securities, Reza Priyambada mengatakan, penurunan kinerja saham sektor tambang disebabkan permintaan batu bara global tidak mengalami perubahan signifikan, dimana pada saat yang sama harga batu bara dunia cenderung fluktuatif, “Hingga saat ini ekspektasi pelaku pasar terhadap permintaan batu bara domestik tidak mengalami perubahan,” katanya di Jakarta, Selasa (13/11).

Hal tersebut, lanjutnya, berpotensi memberikan tekanan kepada kinerja perusahaan pertambangan nasional. Kondisi ini diperparah dengan perlambatan impor batu bara dari China pada semester II 2012, yang diperkirakan akan terus berlanjut hingga pertengahan tahun depan. Ini disebabkan persediaan batu bara di China masih tinggi, padahal setengah dari kebutuhan impor batu bara China berasal dari Indonesia.

Reza menuturkan, suramnya prospek emiten batu bara sejalan dengan penilaian Moody’s Investors Service yang memangkas peringkat utang beberapa emiten seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Berau Coal (BRAU) Tbk, dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) Tbk pada awal semester II-2012.

“Kinerja emiten batu bara masih akan menunjukkan pelemahan hingga pertengahan kuartal II tahun depan, seiring berkurangnya permintaan dan pemangkasan peringkat utang,” kata Reza.

Potensi pelemahan harga batu bara dunia tersebut tercermin dari rendahnya apresiasi investor terhadap saham-saham pertambangan batu bara domestik. Secara year-to-date hingga awal pekan ini, kinerja saham sektor pertambangan tercatat paling buruk dari 10 sektor. Indeks sektor pertambangan tercatat terkoreksi 25,46%.

Namun, emiten batu bara besar seperti Berau Coal dan Indo Tambangraya masih memiliki peluang untuk memperbaiki kinerja karena tertolong oleh kontrak jangka panjang.

Kontrak jangka panjang paling tidak akan sedikit menolong kinerja emiten karena harga jual batu bara sudah ditetapkan pada saat awal kontrak.Emiten akan meraih pendapatan dari harga yang telah disepakati tanpa terpengaruh oleh penurunan harga di pasar. (bani)

BERITA TERKAIT

Sektor Pangan - CIPS Sarankan Bulog untuk Tinjau Ulang Skema Penyerapan Beras

NERACA Jakarta – Bulog perlu meninjau ulang skema penyerapan beras yang selama ini dilakukan. Ditemukannya beras busuk di Sumatra Selatan…

Penerbitan Sukuk Global Bakal Pulih

    NERACA   Jakarta - Lembaga pemeringkat Moody's Investor Service mengatakan pada Selasa bahwa mereka memperkirakan penerbitan sukuk negara…

Pantau Keberlangsungan Usaha Emiten - BEI Cabut Kelonggaran Cicilan Bayar Listing Fee

NERACA Jakarta –Memberikan penegakan kedispilinan terhadap emiten yang lalai menunaikan kewajibannya membayar listing fee tahunan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Mendapatkan Antusiasme Tinggi - LinkAja Diyakini Mampu Percepat Inklusi Keuangan

NERACA Jakarta - Perubahan aplikasi mobil money Tcash menjadi LinkAja mendapatkan antusiasme sangat tinggi dari pelanggan yang memiliki akun Tcash…

Permintaan Pasar Meningkat - Tunaiku Genjot Pertumbuhan Pinjaman Renovasi Rumah

NERACA Jakarta – Menjawab kebutuhan masyarakat akan pinjaman yang mudah didapat tanpa ribet, Tunaiku, kredit tanpa agunan berbasis online dari…

Tambah Armada Baru - Armada Berjaya Bidik Pendapatan Tumbuh 200%

NERACA Jakarta – Resmi mencatatkan sahamnya di pasar modal, PT Armada Berjaya Trans Tbk (JAYA) langsung tancap gas dalam ekspansi…