Perkembangan Industri Fotografi di Indonesia

Satu dekade belakangan ini, perkembangan industri fotografi Indonesia terus mengalami peningkatan. Bahkan, peningkatan yang terjadi cukup signifikan. Apalagi di Jakarta, perkembangan industri fotografi kian menggeliat.

Bisnis usaha fotografi pastinya harus bermodal kreativitas dan keahlian namun dapat menghasilkan hasil yang lebih. Usaha ini harus dijalankan dengan cara yang kreatif, terlebih lagi perkembangan zaman semakin maju artinya para pesaing dalam dunia kerja semakin banyak dan tidak bisa di pungkiri.

Namun, kini para pengusaha fotografi tak perlu khawatir. Karena kini terdapat berbagai teknologi guna mempermudah cara kerja mereka. Sehingga hasil gambar dan nilai seni yang dikeluarkan akan selalu terjaga kualitasnya. Tentunya, ini yang paling dicari konsumen.

Ya, seiring peralihan teknologi analog menjadi digital, perlahan kegiatan fotografi mulai dilirik menjadi lahan bisnis yang menggiurkan. Tentunya, itu tidak lepas dari kepraktisan dan kemudahan yang ditawarkan oleh teknologi digital saat ini.

Dahulu, kita masih membutuhkan film seluloid untuk melakukan pemotretan. Karya yang dihasilkan akan sangat terbatas, dan jika ada kesalahan, file foto tidak bisa dihapus. Berbeda dengan teknologi fotografi digital. Berbekal kartu memori, seorang fotografer dapat memotret hingga ratusan gambar. Jika belum sesuai dengan keinginan sang fotografer tinggal men-delete, dan memfoto ulang.

Karena itu, seiring dengan kemajuan teknologi, industri fotografi terus berkembang. Bahkan karena kian pesatnya, banyak usaha perorangan yang menyediakan jasa fotografi untuk para konsumen. Dengan demikian, pilihan konsumen akan banyak ragamnya.

Sementara itu, ketertarikan produsen tersebut dipicu oleh tingginya minat konsumen, kemampuan atau daya beli, minat konsumen dan daya beli yang baik. Namun di satu sisi hal ini juga memancing persaingan yang sangat kompetitif diantara produsen.

Perkembangan industri fotografi di Indonesia terbilang unik. Pada industri ini persaingan menumpuk pada level basic dan advance, sangat banyak para pemula yang bermain di level produk yang masih rendah, hal ini disebabkan karena keterbatasan para pemain di level tersebut untuk meningkatkan kualitas produkya.

Selain itu, konsumen juga masih memiliki kemampuan yang terbatas untuk menilai kualitas produk foto yang baik, sementara di level professional pemain masih cenderung sedikit dan kompetisi masih belum begitu ketat, dan di dukung oleh konsumen yang lebih sfesifik. (ahmad)

BERITA TERKAIT

Terlalu Vulgar, Film "After" Tidak Sesuai Budaya Indonesia

Jakarta-Baru dirilis 16 April 2019 di berbagai bioskop di Indonesia, film ‘After’ sudah mengundang kontroversi. Berbagai sorotan, terutama karena adanya…

Indonesia Industrial Summit 2019 - Sektor Manufaktur RI Dipandang Siap Menerapkan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Making Indonesia 4.0 merupakan sebuah peta jalan yang diterapkan untuk mencapai tujuan Indonesia menjadi negara 10 besar…

HASIL SEMENTARA PASLON JOKOWI-MA’RUF AMIN UNGGUL - Pemilu Aman, Citra Indonesia Makin Baik

Jakarta-Hingga Pk. 16.00 kemarin (17/4) proses perhitungan cepat (Quick Qunt) dari empat lembaga survei menunjukkan paslon Jokowi-Ma’ruf Amin untuk sementara…

BERITA LAINNYA DI PELUANG USAHA

Tahun 2019, Pemerintah Targetkan 8 Juta UMKM Aplikasikan Tekhnologi

Pemanfaatan teknologi digital untuk bisnis, khususnya skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), sudah menjadi sebuah keharusan. Sebab itu, upaya…

Pesatnya Perkembangan Pasar Modern dan Digitalisasi, Sarinah Tetap Bina UMKM

BUMN ritel PT Sarinah (Persero) menyatakan yakin bisa tetap eksis di tengah pesatnya perkembangan dunia digital. Untuk itu, Sarinah tetap…

Pertemuan IMF –WB Momentun Perkenalkan Produk UMKM Nasional Dikancah International

Pertemuan tahunan IMF – World Bank (WB)  yang berlangsung di Nusa Bali harus bisa menjadi momentum memperkenalkan produk  usaha mikro,…