BRI Jadwalkan Kembali Tahun Depan - Akuisisi Sekuritas

NERACA

Jakarta – Meskipun rencana PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengakuisisi perusahaan sekuritas batal dilakukan tahun ini, tidak membuat niatan perusahaan plat merah mengakuisisi perusahaan sekuritas pupus begitu saja.

Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengatakan, rencana akusisi perusahaan sekuritas tidak dilakukan tahun ini, tetapi akan direalisasikan pada tahun depan, “Rencana akuisisi perusahaan sekuritas tetap berlanjut, tapi tidak pada tahun ini,”katanya di Jakarta, Senin (12/11).

Menurutnya, rencana ini ditunda bukan dibatalkan. Dêngan catatan, pergeseran target perusahaan yang akan dibeli. Untuk memerkuat, cakupan bisnis di sektor jasa keuangan.

Kata Sofyan, rencana ini dilanjutkan karena perseroan sendiri telah memasukkan rencana akuisisi perusahaan tersebut dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun 2012 ini. Meski dalam pelaksanaannya, masih terbentur dengan kendala internal dari perusahaan sekuritas yang akan diambilalih.

Menurut Sofyan, BRI sendiri telah menyatakan minat untuk mengakuisisi dua perusahaan sekuritas, yakni Bahana Securities dan Samuel Securities. Ini dilakukan untuk memerkuat cakupan bisnisnya di sektor jasa keuangan. “Ke depan, perseroan berencana proses akuisisi perusahaan sekuritas akan langsung dijadikan anak usaha,” tutup Sofyan.

Asal tahu saja, BRI menyiapkan dana sebesaar Rp 2 triliun untuk mengakuisisi perusahaan sekuritas dan rencana tersebut sudah mendapatkan persetujuan dari Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk berhasil membukukan laba bersih Rp13,17 triliun pada kuartal III-2012. Angka ini naik 26% dibandingkan periode sama tahun lalu, yakni Rp10,43 triliun.

Kata Direktur Keuangan BRI Achmad Bauiquni, kenaikan laba ini dikontribusi oleh fee base income yang naik dan juga pertumbuhan bunga yang memang tidak terlalu signifikan.

Sementara aset perusahaan juga naik tipis dari Rp469,89 triliun menjadi Rp482,78 triliun. Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 20,48% dari Rp309,71 triliun tahun lalu menjadi Rp373,14 triliun pada kuartal III-2012.

Dari sisi penyimpanan dalam bentuk giro, terjadi penurunan dari Rp76,26 triliun menjadi Rp68,62 triliun. Sementara itu, tabungan naik dari Rp152,64 triliun menjadi Rp158,82 triliun. Untuk simpanan berjangka naik tipis menjadi Rp148,11 triliun dari Rp146,01 triliun. (bani)

BERITA TERKAIT

Sempat Menguat, Rupiah Kembali Melempem

      NERACA   Jakarta - Pergerakan nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore, melemah…

Urban Jakarta Propertindo Rencanakan IPO - Danai Akuisisi Lahan di Jabodetabek

NERACA Jakarta - Jelang tutup tahun 2018, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) masih kebanjiran perusahaan yang bakal mecatatkan saham perdananya…

ACT Bangun Kembali Hunian Nyaman Terpadu di Sigi

ACT Bangun Kembali Hunian Nyaman Terpadu di Sigi NERACA Jakarta - Hunian Nyaman Terpadu (Integrated Humanity Shelter/ICS) kembali dibangun di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Perdagangan Saham DIGI Disuspensi

Lantaran terjadi peningkatan harga saham yang signifikan, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan penghentian sementara atau suspensi perdagangan saham PT…

BEI Dorong Perusahaan di DIY Go Public

Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Daerah Istimewa Yogyakarta mendorong perusahaan di daerah itu baik milik swasta maupun badan usaha…

MAYA Bagi Dividen Interim Rp 223,19 Miliar

PT Bank Mayapada International Tbk (MAYA) akan membagikan dividen tengah tahun sebesar Rp35 per lembar saham. Hal itu sesuai dengan…