Permintaan Bertambah, Produksi Pulp Dipatok Naik 5,26%

NERACA

Jakarta - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan produksi pulp nasional hingga akhir tahun mencapai 8 juta ton, naik 5,26% dari realisasi tahun lalu berkat permintaan yang terus bertambah.

“Besarnya konsumsi pulp membuat produksi nasional pada 2012 menyentuh 8 juta ton, meningkat 5,26% dari 2011. Untuk produksi kertas nasional diharapkan menembus angka 13 juta ton pada tahun ini, naik 8,33% dibandingkan pencapaian tahun lalu sekitar 12 juta ton,” kata Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Aryan Wargadalam, di Jakarta, Senin (12/11).

Sedangkan Ketua Umum Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Misbahul Huda, mengatakan semester II tahun ini permintaan kertas mulai meningkat karena memenuhi kebutuhan tahun ajaran baru.

“Pada tahun ajaran baru permintaan kertas terus bertambah dan konsumsi di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat (AS) mulai bertambah ketika memasuki musim dingin. Hingga kuartal II 2013, harga-harga pulp dan kertas di pasar luar negeri sulit meningkat dan harga US$900 per ton sudah sangat baik,” paparnya.

Industri pulp dan kertas di pasar dalam negeri, menurut Misbahul, terus menghadapi tantangan yang berat. “Saat ini, produsen kertas di dalam negeri menghadapi ancaman dari produsen pulp dan kertas asal India dan China yang mengincar pasar Indonesia sebagai negara tujuan ekspor karena pasar Eropa dan Amerika Serikat (AS) mulai menurun,” ujarnya.

Misbahul menjelaskan produksi kertas di China tumbuh 30% per tahun dan sisa produknya banyak diekspor ke Indonesia. “Tantangan industri pulp dan kertas nasional adalah produk impor dari China, Filipina dan Malaysia yang mengimpor kertas kualitas medium dengan harga lebih murah daripada produk lokal,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Basis Industri Manufaktur (BIM) Kementerian Perindustrian Panggah Susanto mengatakan bahwa perkembangan industri pulp dan kertas Indonesia saat ini mengalami perkembangan cukup pesat di tengah kondisi menurunnya perekonomian Eropa dan Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat Indonesia berpotensi besar untuk merebut pasar pulp dan kertas dunia yang selama ini didominasi Amerika Utara dan Eropa Utara (Skandinavia).

Menur ut dia, kecenderungan yang akan datang, dominasi AS dan skandinavia akan akan berkurang bergeser ke Asia dan Amerika Selatan. “Indonesia berpeluang ambil peluang dalam memasok pulp dan kertas ke pasar dunia mengingat keterbatasan negara-negara tersebut yang tidak bisa mengembangkan bahan baku dengann signifikan karena harga kayu dan energi mahal,” ujarnya.

Dia menambahkan, dibanding pertumbuhan negara maju dan dunia secara keseluruhan, pertumbuhan industri pulp dan kertas Indoensia jauh lebih tinggi. Pada 2011, pertumbuhan industri pulp dan kertas dunia mencapai 2,1%, sedangkan industri pulp dan kertas nasional mencapai 4,1%.

Pertumbuhan industri pulp dan kertas dari negara maju hanya 0,5%. Sementara itu, kebutuhan pulp dan kertas dunia pada 2011 mencapai 340 juta ton, diperkirakan akan naik menjadi 490 juta ton. Sedangkan, kebutuhan pulp dan kertas dalam negeri 7,8 juta ton.

“Ke depan diperkirakan Amerika Selatan dan Asia khususnya Indonesia yang mampu mengembangkan ini dengan signifikan. Industri pulp dan kertas kita di posisi 9 di dunia, sementara di Asia kita menduduki posisi 3,” ujar Panggah.

Saat ini terdapat 12 industri pulp dengan kapasitas produksi 7,9 juta ton per tahun dan 79 industri kertas dengan kapasitas produksi 12,99 juta ton per tahun. Realisasi produksi 2011 masing-masing 7,3 juta ton pulp dan 10,7 juta ton kertas. Ekspor masing-masing 2,813 juta ton dengan nilai US$ 1,6 miliar dan 4,49 juta ton kertas dengan nilai US$3,39 miliar.

“Tahun 2011 realisasi ekspor US$ 6 miliar naik 4,4%. Pertumbuhan industri kita berharap tetap naik 4%, sama dengan ekspor. Artinya bahwa kenaikan 4% itu proporsional untuk lokal dan ekspor,” tambah Misbahul Huda.

BERITA TERKAIT

Tarif JORR Naik Mulai Akhir September 2018

    NERACA   Jakarta - Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengatakan berbagai perubahan tarif terkait…

Prima Cakrawala Hentikan Kegiatan Produksi - Izin Usaha Industri Ditolak

NERACA Jakarta – Lantaran pembangunan pabrik berada di kawasan pemukiman atau tidak memunuhi syarat yang diperuntukannya, akhirnya izin operasional pembangunan…

Ekspor Banten Juli Naik 45,91 Persen

Ekspor Banten Juli Naik 45,91 Persen  NERACA Serang - Nilai ekspor Banten Juli 2018 naik 45,91 persen dibandingkan bulan sebelumnya…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

DHL Express Indonesia Bangun Fasilitas Baru di Pulogadung

NERACA Jakarta – DHL Express, penyedia layanan ekspres internasional terkemuka di dunia, hari ini secara resmi meluncurkan fasilitas baru di…

Revolusi Industri 4.0 Buka Peluang Dongkrak Keterampilan SDM

NERACA Jakarta – Era revolusi industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia (SDM) di sektor manufaktur untuk memiliki keahlian…

RI dan Korsel Berkolaborasi Untuk Sukseskan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian RI dan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council…