Mendag Kurang Optimis Perdagangan Luar Negeri

NERACA

Jakarta – Di tengah kecamuk krisis finansial yang melanda perekonomian dunia, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengaku tidak terlalu optimis dengan kinerja perdagangan Indonesia tahun depan. Dia meyakini, status surplus masih bisa dijaga asal kondisi perekonomian dunia menunjukkan perbaikan.

Meski data total nilai ekspor sepanjang tahun ini belum terkumpul, Gita memberi batas rasional pendapatan yang bisa diraup Indonesia tahun depan dari sektor perdagangan internasional. "Kalau bicara target mending tunggu akhir tahun, saya bisa lebih mengambil sikap. Tapi saya rasa aman lah antara US$ 150-200 miliar plus minus," ujarnya Jakarta, Senin (12/11).

Gita masih optimis mencapai target tersebut lantaran Indonesia masih mencatat surplus perdagangan dari sisi ekspor tahun ini. Dia berharap kinerja seperti ini bisa dipertahankan alih-alih meningkatkan target ekspor. "Untuk satu tahun ini sudah surplus Rp 1,1 miliar, bisa mencapai US$ 2 miliar di akhir 2012, kalau kita bisa mencapai nilai ekspor seperti tahun ini di tahun depan, itu sudah bagus," cetusnya.

Dia menyoroti target pemerintah tahun ini di mana US$ 230 miliar diperoleh dari ekspor. Menurutnya, target itu mustahil terwujud. Sebab, Uni Eropa dan Amerika masih terbelit krisis utang dan defisit anggaran negara yang besar. Berangkat dari kondisi eksternal, Gita memilih mengantisipasi penurunan kinerja ekspor.

"Tetep lah kita antisipasi penurunan ekspor 5-7% dibanding tahun lalu, tapi kalau (perbaikan ekonomi di Eropa dan Amerika) kelihatan, saya rasa kita bisa antisipasi kenaikan ekspor tahun depan. Ini semua tergantung situasi makro," paparnya.

Namun, dari beberapa prediksi yang kurang menggembirakan itu, masih ada secercah kabar baik dari sektor perdagangan internasional, yaitu China bulan lalu mencatat peningkatan ekspor sebesar 11%. Gita menilai pertumbuhan ekonomi dunia bakal dapat angin segar bila Negeri Tirai Bambu itu kembali mengalami pertumbuhan ekonomi di atas 7%.

"Penguatan ekspor yang didorong oleh meningkatnya ekspor nonmigas telah memberikan sinyal positif bagi kinerja ekspor Indonesia Juli 2012, di tengah melemahnya ekspor migas. Total ekspor Indonesia di bulan Juli 2012 mencapai US$ 16,2 miliar, meningkat 4,6% dibandingkan bulan sebelumnya (MoM). Peningkatan ini didorong oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 5,0%, sementara ekspor migas hanya naik sebesar 2,7%,” sambung Gita.

Secara kumulatif, ekspor Januari-Juli 2012 mencapai US$ 113,1 miliar, menurun 2,4% (YoY). Penurunan ekspor terjadi akibat melemahnya harga komoditi ekspor utama Indonesia di pasar internasional, seperti batubara turun 19,0%, palm oil (8,2%), palmkernel oil (33,6%), udang (18,8%), karet (30,5%), dan barang tambang selain batubara rata-rata (22,3%).

Beberapa produk yang nilai ekspornya mengalami peningkatan signifikan antara lain: minuman naik lebih dari 1.200%, gandum-ganduman (698,9%), makanan olahan (54,1%), kendaraan dan bagiannya (39,2%), sabun dan pembersih (35,7%), dan minyak nabati (26,1%).

Ekspor Bulan Juli 2012 Naik 4,6% Setelah Sebelumnya Mengalami Penurunan Sementara itu, ekspor bulan Juli 2012 naik 4,6% (MoM) setelah sebelumnya mengalami penurunan. Ekspor bulan Juli 2012 tersebut mencapai USD 16,2 miliar, namun turun 2,5% dari bulan yang sama tahun lalu (YoY). Ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 3,0 miliar (naik 2,7% MoM dan turun 1,0% YoY) serta ekspor nonmigas sebesar US$ 13,2 miliar (naik 5% MoM dan turun 2,9% YoY).

Kenaikan ekspor nonmigas Juli dipicu oleh meningkatnya ekspor di sektor pertanian dan sektor industri yang masing-masing meningkat 20,6% dan 6,3% (MoM). Sementara kenaikan ekspor migas bersumber dari naiknya ekspor hasil minyak dan gas.

Tumbuh Pesat

Selanjutnya Mendag Gita Wirjawan menjelaskan bahwa ekspor nonmigas Indonesia ke beberapa negara emerging market seperti negara-negara di kawasan Afrika selama periode Januari-Juli tahun ini tumbuh pesat. Ekspor Indonesia ke Pantai Gading meningkat 391,6% (YoY)menjadi US$ 71,97 Juta pada Januari-Juli tahun ini. “Ekspor Indonesia juga meningkat pesat ke beberapa negara lain seperti Lybia, Mauritania, Pakistan, Yaman, Angola, Djibouti, dan Saudi Arabia yang masing-masing meningkat 357,8%, 287,5%, 83,5%, 83,5%, 74,9%, 65,6%, dan 52,6%,” ujar Mendag.

Catatan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan impor telah mengkonfirmasi pertumbuhan ekonomi nasional yang baik. Total impor Indonesia bulan Juli 2012 mencapai US$ 16,3 miliar, mengalami penurunan sebesar 2,4% (MoM), namun naik 13% (YoY). Impor selama bulan Juli 2012 terdiri dari impor nonmigas yang mencapai USD 13,6 miliar, naik 1,7% (MoM) namun turun 2,9% (YoY) dan impor migas sebesar US$ 2,7 miliar, turun 18,5% (MoM) namun naik 4,9% (YoY).

Total impor Januari-Juli 2012 mencapai US$ 112,8 miliar, meningkat 13% (YoY). Impor nonmigas mencapai USD 88,6 miliar (naik 15,5%) sementara impor migas mencapai USD 24,2 miliar (naik 4,9%). Tingginya kenaikan impor Indonesia selama periode Januari-Juli 2012 tidak terlepas dari peningkatan impor dari beberapa negara pemasok utama, seperti Jepang, China, Malaysia, Thailand, dan AS yang masing-masing mengalami pertumbuhan sebesar 33,3%, 18,5%, 15,7%, 12,5%, dan 12,3%.

Mendag menggarisbawahi bahwa sejauh ini impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan barang modal. Impor selama Januari-Juli 2012 masih didominasi oleh impor bahan baku/penolong yang mencapai 73% dan barang modal (20%). Impor barang modal selama Januari-Juli 2012 mencapai US$ 22,9 miliar meningkat 32,6% (YoY).

Impor bahan baku/penolong sebesar US$ 81,9 miliar, namun hanya tumbuh 9,3% (YoY) lebih rendah dari tahun sebelumnya yang tumbuh 22,0% (YoY). Sementara impor barang konsumsi meningkat 5,4% menjadi US$ 8 miliar. “Lonjakan impor barang modal dan bahan baku/penolong didorong oleh membaiknya realisasi aktivitas investasi dan meningkatnya output industri di tanah air terutama didorong oleh impor kapal terbang & bagiannya (naik 63,9% YoY); ekscavator (52,7%), dan damper (34,5%),” ujar Mendag.

Sementara itu, surplus perdagangan selama periode Januari-Juli 2012 sebesar US$ 335 juta, mengalami penurunan dibandingkan tahun lalu yang mencapai US$ 16,2 miliar. Penurunan surplus dipicu oleh menurunnya surplus perdagangan non migas yang hanya mencapai US$ 1,3 miliar, turun 91,5% (YoY) dan defisit perdagangan migas sebesar US$ 1,0 miliar.

Penurunan surplus perdagangan nonmigas tersebut dipicu oleh melemahnya permintaan pasar ekspor Indonesia yang merupakan imbas dari krisis global yang masih belum memberikan kepastian penyeselesainnya. Untuk bulan Juli sendiri, neraca perdagangan mengalami defisit US$ 176,5 juta, berkurang dibandingkan defisit bulan lalu yang mencapai US$ 1,3 miliar.

BERITA TERKAIT

KEBUTUHAN INVESTASI 2020 RP 5.803 TRILIUN-RP 5.823 TRILIUN - Pemerintah Waspadai Ancaman Defisit Perdagangan

Jakarta-Kementerian Keuangan menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,3%-5,6% dalam asumsi ekonomi makro di 2020 dengan kebutuhan investasi sebesar Rp5.803 triliun hingga Rp5.823…

Menteri Luar Negeri RI - Kemakmuran Umat Harus Jadi Prioritas Kerja Sama OKI

Retno Marsudi Menteri Luar Negeri RI Kemakmuran Umat Harus Jadi Prioritas Kerja Sama OKI Jakarta - Menteri Luar Negeri RI…

Survei BI : Kosumen Optimis di Mei 2019

    NERACA   Jakarta - Survei konsumen Bank Indonesia (BI) mengindikasikan optimisme konsumen tetap baik pada Mei 2019. Hal…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Diminati Pasar Global, Ekspor Batik Dibidik 8%

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berkontribusi dalam upaya pelestarian batik Nusantara serta mendorong pengembangan industri batik nasional agar lebih…

Niaga Internasional - Amerika Serikat Tetap Jadi Tujuan Penting Ekspor Indonesia

NERACA Jakarta – Walaupun terkena imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, Amerika Serikat tetaplah tujuan penting dari…

Pasar Produk Kerajinan Nasional Semakin Meluas

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menjelaskan, pemerintah menyadari produk kerajinan…