Kampung Susun Model Yayasan Ciliwung

Jakarta masih berkumis: berantakan, kumuh dan miskin. Itulah tema sentral yang diangkat kandidat gubernur Hendarji Supandji. Saat berkampanye dulu, Gubernur Jokowi menawarkan konsep kampung susun bagi penduduk di kawasan kumuh di Jakarta.

Kampung susun model yang ditawarkan Gubernur berstatus strata title untuk bangunan bertingkat. Dengan model susun, tentu akan terdapat bidang-bidang kosong yang bisa digunakan sebagai lahan hijau dan ruang publik. Gubernur berjanji, kampung susun akan dibangun dan diberikan kepada warga secara gratis, karena anggarannya diambilkan dari APBD DKI dan di-support oleh Kememterian Perumahan Rakyat. Kampung lima lantai itu bisa dibangun selama dua tahun.

"Dengan model kampung susun, warga tidak harus dipindahkan ke tempat lain yang jauh. Sebab, jika dipindahkan ke tempat lain, dikhawatirkan, mereka akan terkendala ekonomi biaya tinggi, karena harus mengeluarkan ongkos transportasi yang lebih banyak untuk menjangkau tempat mereka bekerja.

Selain Jokowi, konsep kampung susun juga diusulkan oleh Yayasan Ciliwung yang dipimpin Sandyawan Sumardi. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) tersebut sudah mengajukan blue print kampung susun khusus untuk kawasan Bukit Duri, Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan. Yayasan menamakan proyek itu Kampung Susun Manusiawi Bukit Duri.

Sandyawan menjelaskan, sebagai pilot project, konsep akan dicobakan di tiga Rukun Tetangga (RT) binaan mereka lebih dulu, yaitu RT 06, 07, dan 08. Di sana terdapat 281 kepala keluarga. Menurut Sandyawan, seluruh warga di ketiga RT itu sudah setuju dengan model kampung susun versi Yayasan Ciliwung.

Kampung itu akan dibangun itu berada di kawasan bantaran Kali Ciliwung. Rumah baru itu akan dibangun sungai. Namun, antara sungai dan kampong dibatasi oleh jalan inspeksi, Dengan adanya jalan itu, warga ‘dipaksa’ unuk menjaga kebersihan dan keasrian sungai. Lebar jalan sekitar 4 meter. Bantaranya dibuat selebar 17,5 meter. Bangunan kampung susun yang paralel dengan sungai lebarnya 11,5 meter dengan halaman selebar 2 meter.

Jika direstui, kampung susun itu bertingkat lima. Khusus lantai dasar diperuntukkan sebagai areal bisnis. Sedang empat lantai di atasnya untuk hunian. Agar masing-masing blok itu menyatu, bangunan disusun secara zig-zag. Sandyawan sependapat dengan pengamat tata kota Yayat Supriyatna, tiap blok sebaiknya merupakan warga satu RT. Zig-zag, kata Sandyawan, sang tokoh LSM itu, untuk mempertahankan suasana kampung yang bernuansa kekeluargaan dan agar udara lebih terbuka.

Setelah dibangun dan dihuni, nantinya setiap kampong akan dipimpin pengurus RT dan RW. Selain itu, diadakanlah Dewan Perwakilan Kampung (DPK).

BERITA TERKAIT

OJK: Waspadai Modus Investasi Model Koperasi

Jakarta-Ketua Satgas Waspada Investasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Tongam Lumban Tobing meminta masyarakat mewaspadai salah satu modus penipuan investasi berkedok…

Kia All-new Soul Model 2020 Punya Bagasi Lebih Luas

  Pabrikan otomotif Korea Selatan, Kia melangsungkan debut untuk mobil crossover All-new Soul model 2020 pada Rabu (28/11) di Los…

Meriahkan Hari Kesehatan - Astra Gelar Festival Kampung Berseri Astra

Masih dalam memperingati hari kesehatan nasional pada 12 November 2018, PT Astra International Tbk festival kampung berseri Astra (KBA) Kesehatan…

BERITA LAINNYA DI HUNIAN

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil

Pilpres 2019, Pasar Properti Nasional Diprediksi Tetap Stabil NERACA Jakarta - Pasar properti nasional pada tahun 2019 mendatang diprediksi bakal…

Rusun Berbasis TOD Bantu Warga Komuter Perkotaan

Rusun Berbasis TOD Bantu Warga Komuter Perkotaan NERACA Jakarta - Rumah susun (Rusun) berbasis "Transit Oriented Development" (TOD) atau yang…

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi

Rumah Subsidi Tidak Goyah Diterpa Badai Ekonomi NERACA Jakarta - Ketua Umum DPP Himpunan Pengembang Pemukiman dan Perumahan (Himperra) Endang…