Bank Asing Siasati Aturan Bidik Pasar Konsumen - BI HARUS TANGGAP TRIK PERBANKAN

Jakarta - Penetrasi perbankan asing melalui “kuku-kuku” bisnisnya agar bisa menjangkau konsumen ke pelosok negeri, semakin kencang. Banyak cara yang dilakukan mereka untuk menuntaskan hasratnya tersebut. Mulai dari DBS Singapore yang ngebet merebut pangsa pasar usaha kecil dan menengah (UKM) dengan mengakuisisi PT Bank Danamon Indonesia Tbk hingga tatacara PT Bank Maybank Syariah Indonesia milik Malaysia melalui “leverage model” dengan menggandeng BII

NERACA

Dirut Maybank Syariah, Ibrahim Hassan, mengakui menerapkan strategi jaringan bisnis ini agar dapat melakukan integrasi dengan salah satu jaringan sister company, yaitu PT Bank International Indonesia (BII) Tbk. Strategi tersebut, kata dia, merupakan gambaran sebagaimana yang ditetapkan oleh Malayan Banking Berhad Malaysia di negeri jiran itu.

Namun, langkah Maybank Syariah ini masih terhambat lantaran Bank Indonesia (BI) belum memberikan lampu hijau. Menanggapi hal itu, ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih menilai bahwa strategi leverage model ini merupakan sebuah strategi yang inovatif dari segi pengembangan bisnis, karena hal tersebut relatif masih baru dalam dunia bisnis perbankan.

“Dari segi penciptaan produk, ini merupakan inovasi karena keterbatasan bank asing atas akses hingga tingkat kabupaten, maka tentu model ini dilihat sebagai suatu penetrasi dan ini bisa terjadi kerancuan operasional terkait fungsi bank asing,” jelas Lana kepada Neraca di Jakarta, Minggu (11/11).

Dia melihat bahwa penetrasi bank asing yang menggunakan leverage model harus dikaji lebih detil oleh BI agar tidak menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Dia juga menuturkan, BI harus lebih responsif karena ini merupakan hal yang relatif baru, maka tentu harus ada regulasi yang dapat menguntungkan semua pihak.

Leverage model adalah strategi bank asing bermitra dengan bank lokal tanpa membentuk bank campuran, sebagai upaya memperluas akses pasar merambah ke pelosok negeri ini melalui jaringan bank lokalnya. Padahal sebelumnya BI sudah membuat aturan keharusan bank asing bermitra dengan bank lokal melalui bank campuran, dan berbadan hukum Indonesia, jika akan perluas akses pasarnya.

Sementara dari sisi strategi perbankan, Lana melihat bahwa apabila diizinkan maka model ini tentu akan semarak. “Tapi, jika model ini diterapkan tidak ada bedanya antara bank asing dengan bank nasional. Oleh karena itu, hal ini dapat berdampak negatif pada peraturannya sendiri. Saya berharap BI sebagai regulator mesti lebih responsif dan tanggap,” ujarnya.

Asal tahu saja, integrasi Maybank Syariah dengan BII ini bertujuan untuk memangkas biaya yang besar serta dalam potensi pengembangan produk syariah dapat berjalan dengan maksimal. Ibrahim Hassan pun berharap, dengan strategi integrasi tersebut, tidak hanya menghemat biaya, namun juga bisa lebih maksimal dalam menggarap sektor komersial sehingga dari segi pendapatan lebih menguntungkan.

Senada dengan Lana, ekonom UGM Sri Adiningsih menambahkan, kalau memang BII sudah diakuisisi Maybank maka mekanisme untuk menggunakan jaringan BII untuk memasarkan produknya, menarik DPK, dan menyalurkan kredit.

Dia mengatakan bahwa saat ini bank-bank di Indonesia memang mayoritas dimiliki asing, maka yang paling penting adalah bagaimana menjaga kepentingan bangsa dan negara sendiri di tengah gempuran asing. "Jadi jangan sampai mereka (perbankan asing) masuk ke Indonesia hanya untuk mengambil untung saja, tapi juga harus berkontribusi positif terhadap perekonomian Indonesia," kata Sri.

Maka dari itu, praktik-praktik pengaturan dari otoritas, dalam hal ini Bank Indonesia (BI), harus diperketat. "BI harus lebih jeli dalam membuat aturan. Jangan hanya melihat dari aspek bisnisnya saja. Aturan kita sebaiknya jangan terlalu liberal dan lunak, karena di luar negeri (aturannya) malah ketat," imbuhnya. Sri juga mengatakan bahwa kalau perbankan asing ada di Indonesia, apalagi jika sudah berbadan hukum Indonesia, maka wajib untuk menaati segala peraturan yang ada di Indonesia.

"Jangan sampai pasar perbankan yang sangat besar di Indonesia cuma dimanfaatkan perbankan asing untuk mengambil untung. Lama-lama kita akan merugi sendiri. Jangan sampai industri perbankan kita didikte industri perbankan luar negeri," tandasnya.

Larang Micro Finance

Menanggapi konsep leverage model ini, ekonom FEUI Aris Yunanto mengatakan konsep ini bagus, asalkan tidak menyasar micro finance. Dia menjelaskan, kalau mau masuk ke cabang-cabang BII maka itu tidak masalah. Persaingan yang akan terjadi adalah persaingan sekelasnya. “Dia akan ketemu dengan Danamon, BRI, dan Mandiri. Itu bagus karena calon debitur akan mempunyai alternatif pilihan,” jelas Aris kemarin.

Yang bahaya, lanjut Aris, kalau mereka menyasar mikro. BPR dan Koperasi akan terpukul karena kalah bersaing. Maybank adalah bank asing yang kelasnya baik di dunia. Pasti penyaluran kreditnya akan lebih efisien. Maybank bisa memberikan bunga yang lebih baik. “Ini yang harus diwaspadai oleh otorita perbankan,” kata dia.

Namun di balik risiko tersebut, Aris mengakui bahwa leverage model seperti ini bagus untuk efisiensi operasional. Pertama, tidak perlu membuka cabang dan unit layanan. Kedua, tidak perlu membayar overhead lebih mahal. “Tinggal pakai SDM yang ada lalu di-training penggunaan sistem,” jelas Aris. Dia mengakui biaya paling mahal dalam operasi perbankan adalah pembukaan cabang.

Jika biaya tersebut dapat ditekan, maka tentunya akan sangat efisien. Ketika konsep ini menghadapi masalah, seperti Antaboga-Century, maka menurut Aris yang harus bertanggung jawab adalah keduanya. “Apakah pemerintah ikut tanggung jawab? Lihat dulu, diasuransikan LPS atau tidak. Kalau tidak terdaftar kegiatannya, gimana bisa dijamin?” jelasnya. Lebih jauh lagi, Aris mengatakan bahwa model seperti ini bisa dilakukan di BUMN. Misalnya PT Pos Indonesia dikerjasamakan dengan Mandiri, BRI, atau BNI untuk layanan-layanan ke nasabah langsung. “Itu akan lebih efisien,” kata Aris. iqbal/dias/ria/ardi

BERITA TERKAIT

Mencari Pasar Ekspor Baru Produk Sawit

Sepanjang Oktober 2018, volume ekspor minyak sawit Indonesia menunjukkan peningkatan yang menggembirakan, antara lain melalui lonjakan permintaan dari China. Ekspor…

Ekonom Ingatkan Tantangan Likuiditas Perbankan

  NERACA Jakarta - Likuiditas perbankan diperkirakan kian mengetat pada 2019 setelah masa penguncian (lock-up) dana repatriasi amnesti pajak di…

BPJS Ketenagakerjaan Serang Bidik Pekerja Sektor Kehutanan

BPJS Ketenagakerjaan Serang Bidik Pekerja Sektor Kehutanan NERACA Serang - Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan Cabang Serang membidik pekerja…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PEMERINTAH UBAH PROGRAM PRIORITAS KE PEMBANGUNAN SDM - Presiden: Tanpa Kerja Keras, Jangan Mimpi Negara Maju

Jakarta-Presiden Jokowi menegaskan, tahun depan (2019) pemerintah akan menggeser program prioritasnya dari pembangunan infrastruktur dalam empat tahun terakhir ke sumber…

Kontribusi Ekonomi Digital Bisa Mencapai 8,5% PDB

NERACA Jakarta-Presiden Jokowi optimistis kontribusi ekonomi digital terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini bisa mencapai 8,5%, lebih tinggi dibandingkan…

Jelang Evaluasi, Keberhasilan Kinerja Jokowi Patut Diapresiasi

  Oleh:  Aldo Indrawan, Pemerhati Ekonomi Politik   Sudah 4 tahun Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla memimpin…