Masyarakat Diminta Waspadai Investasi Bodong

NERACA

Denpasar – Maraknya praktek penipuan bermodus investasi menjadi perhatian PT Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk meningkatkan pengetahuan dan kewaspadaan masyarakat terhadap segala bentuk investasi yang ditawarkan.

Kepala Kantor Pusat Informasi Pasar Modal BEI, I Gusti Agung Alit Nityaryana mengataka, masyarakat Bali diminta berhati-hati dengan tawaran investasi yang sifatnya bodong dan mengatasnamakan pasar modal, “Kami meminta masyarakat untuk mewaspadai tawaran investasi yang mengatasnamakan pasar modal dengan menawarkan saham, namun dalam bentuk komoditasnya," katanya di Denpasar akhir pekan kemarin.

Menurutnya, penawaran investasi berupa saham dalam bentuk komoditasnya itu, seperti saham emas, perak, batu bara. Padahal seharusnya saham itu ditawarkan mengatasnamakan perusahaannya bukan seperti hal tersebut.

Dia mengatakan, oleh karena itu masyarakat diminta untuk mengecek terlebih dahulu penawaran tersebut supaya tidak menjadi korban penipuan yang saat ini sedang marak terjadi, “Untuk mengetahui tentang investasi yang ditawarkan itu benar atau tidak dapat menanyakan kepada kami sebagai penyedia informasi mengenai pasar modal," ujarnya.

Kata I Gusti, berdasarkan ketentuan hukum saham yang ditawarkan harus atas nama perusahaan bukan dalam bentuk barang. Sebab Perseroan Terbatas (PT) itu terdiri atas saham yang dapat diperjualbelikan."Dari data satuan tugas yang menangani hal tersebut, pada 2011 terdapat sebanyak 103 kasus penipuan dengan bentuk penawaran investasi dan dua di antaranya terjadi di wilayah Bali," paparnya.

Saat in, warga Bali yang menjadi investor saham masih sangat sedikit, yakni tidak mencapai 0,5% dari jumlah penduduk Pulau Dewata sekitar 3,5 juta jiwa. Berdasarkan data dari jumlah rekening saham saat ini, warga yang menjadi investor itu hanya 4.259 orang. "Persentase investor saham tertinggi berada di wilayah Kota Denpasar, yakni sekitar 70%,”ungkapnya.

Sebagai informasi, belum lama ini terkuat investasi bodong yang dilakukan koperasi langit biru dengan membawa kabur dana nasabahnya sekitar Rp 6 triliun. Bisnis investasi Koperasi Langit Biru (KLB) mirip multi level marketing (MLM) dengan kenaggotaan mencapai 140 ribu nasabah.

Sebelum berdiri, KLB bernama PT Transindo Jaya Komara (TJK). Jenis usaha adalah pengelolaan daging dan hasil peternakan, bekerja sama dengan 62 penyuplai daging sapi. Perusahaan itu milik Jaya Komara, seorang mantan penjual kerupuk.

Setelah itu, TJK kemudian bertransformasi menjadi Koperasi Langit Biru atau KLB pada Januari 2011. Seluruh kegiatan KLB dipusatkan di sebuah kantor yang beralamat di Perum Bukit Cikasungka Blok ADF Nomor 2-4, Desa Cikasungka, Kecamatan Solear, Kabupaten Tangerang; dan kantor cabang di Jalan BKT Raya, Gang Swadaya VI Nomor 1 RT 008/RW 01, Rawa Bebek, Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur.

Jaya Komara dalam koperasi ini juga memiliki posisi tertinggi, yakni Direktur Utama. Untuk menjaring investor, PT KLB menawarkan dua paket investasi, yakni investasi paket kecil dan investasi paket besar. Investasi paket kecil bernilai Rp 385.000 atau setara dengan harga 5 kilogram daging dan investasi paket besar dengan nilai Rp 9,2 juta atau sama dengan 100 kilogram daging sapi.

Model Bisnis

Profit yang didapat pada investasi paket kecil yang ditawarkan KLB adalah Rp 10.000 per hari. Angka itu akan dibagi kepada perusahaan Rp 9.000, sementara investor Rp 1.000. Dengan demikian, dalam satu bulan, investor mendapat profit sebesar Rp 150.000.

Adapun investasi paket besar dibagi lagi ke dalam dua pilihan, yakni investasi non-Bonus Kredit Sepeda Motor (BKSM) yang bonusnya senilai Rp 1,7 juta per bulan (dari bulan ke-1 sampai ke-9). Memasuki bulan ke-10, investor akan langsung mendapat bonus Rp 12 juta. Pada bulan ke-24, investor juga dijanjikan akan mendapat keuntungan Rp 31,2 juta.

Dengan tawaran yang menggiurkan itu, KLB akhirnya berhasil menghimpun 125.000 anggota dengan nilai total investasi mencapai Rp 6 triliun. Pihak KLB menjanjikan bahwa dana investasi itu akan diputarkan untuk menjalankan bisnis di daerah Tulung Agung, Jawa Timur. Namun, dari hasil penelusuran aparat kepolisian, bisnis di Tulung Agung ternyata tidak menghasilkan dan selama ini KLB bekerja gali lubang-tutup lubang atau hanya mengandalkan uang setoran investor baru yang masuk untuk membayar bonus investor lama.

Aktivitas penyerahan bonus akhirnya macet pada bulan Januari 2012 sehingga sejumlah investor mengadukan persoalan ini ke Polres Tangerang Kabupaten. Kasus dugaan penipuan dan penggelapan yang dilakukan KLB pun kini sudah dilimpahkan ke Bareskrim Polri. (bani)

BERITA TERKAIT

Masyarakat Perlu Menyadari Dampak Langsung Korupsi

Masyarakat Perlu Menyadari Dampak Langsung Korupsi NERACA Jakarta - Masyarakat luas perlu menyadari dampak langsung yang dialami dari adanya tindak…

Bank Banten Dukung Bapenda Permudah Layanan Masyarakat

      NERACA   Banten - PT Bank Pembangunan Daerah Banten Tbk (Bank Banten) mendukung Badan Pendapatan Daerah (Bapenda)…

Depok Tawarkan Investasi Infrastruktur Pariwisata - Raih Award Indonesia Sustainable Tourism 2018

Depok Tawarkan Investasi Infrastruktur Pariwisata Raih Award Indonesia Sustainable Tourism 2018 NERACA  Depok - ‎Pemerintah Kota (Pemkot) Depok setelah berhasil…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Optimis Target 7000 Investor Tercapai

PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Surakarta optimistis mampu meraih target sebanyak 7.000 investor hingga akhir tahun ini seiring dengan berbagai…

Intikeramik Bidik Rights Issue Rp 463,8 Miliar

Cari modal untuk mendanai ekspansi bisnisnya, PT Intikeramik Alamasri Industri Tbk (IKAI) akan menawarkan sebanyak 3,86 miliar saham baru seri…

Adira Bagikan Hasil Sukuk Rp 7,77 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan pembiayaan kendaraan, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) membagikan hasil sukuk Mudharabah Berkelanjutan III Adira Finance…