Cegah Kesalahan, BEI Tingkatkan Profil Risiko AB - Kembangkan Data Center

NERACA

Denpasar-PT Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah mengembangkan data center sekaligus sistem profil anggota bursa (AB) untuk mendukung DRC (disaster recovery center). “Selain profil risiko AB pada akhir tahun ini, kami juga mengembangkan data center untuk anggota bursa agar mendukung DRC (disaster recovery centre).” jelas Head of IT Business Solution Division BEI, Yohanes Liauw di Denpasar, Bali akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan, pada Februari 2014 seluruh anggota bursa diwajibkan harus mempunyai business continuity plan (BCP) yang harus didukung oleh data center tersebut. Sementara, untuk profil risiko anggota bursa, kata Yohanes, akan dilihat dari struktur keuangan, modal, perilaku anggota bursa dan pelaksanaan prosedural oeprasional standar (standard operational procedure).

Dengan adanya BCP, menurut Yohanes, investor dapat tetap bertransaksi secara normal ketika sistem sedang mengalami gangguan. “Saat ini jaringan ke data center anggota bursa dan data center telah siap. Targetnya di akhir tahun ini serah terima peralatan standar untuk perangkat komunikasi data center akan dilaksanakan.” jelasnya.

Lebih lanjut Yohanes mengatakan, pada awal tahun lalu pihaknya telah menyediakan standar sistem pembangunan BCP yang pembangunannya diserahkan ke masing-masing broker dengan rancang bangun sesuai kebutuhan mereka masing-masing.

Selain menyediakan standar sistem pembangunan BCP tersebut, kata Yohanes, otoritas BEI juga akan menerapkan sistem XBRL (eXtensible Business Reporting Language). Hal tersebut dilakukan agar memudahkan investor, baik domestik maupun global untuk mengetahui detail angka-angka dari laporan keuangan yang disajikan emiten.

Yohanes menilai, dengan adanya XBRL, BEI juga akan menganut taksonomi standar sehingga akun aset yang tertulis di laporan keuangan emiten Indonesia akan sama dengan akun aset yang tercantum di negara lain. “Investor yang mengambil data untuk rincian pos laba operasional, meskipun bahasanya berbeda namun tempatnya akan sama.” ujarnya.

Disaster Recovery System

Selain meningkatkan profil risiko AB dan data center, otoritas BEI juga terus mengembangkan berbagai infrastruktur yang dibutuhkan, baik yang berkaitan dengan sistem penanggulangan bencana (disaster recovery system).

Hal ini dilakukan sebagai langkah untuk mencegah kesalahan (missed) pada informasi data yang diterima anggota bursa (AB) seperti yang terjadi pada Agustus lalu, “Saat itu ada kendala pada hardware di BEI yaitu ketika sistem langsung dialihkan ke sistem DRC, tidak seluruh data perdagangan yang dikirimkan BEI dapat diterima dengan baik melalui penyedia data tersebut. Karena itu, kami akan terus mengkaji ulang perjanjian dengan perusahaan penyedia data.” jelasnya.

Karena itu, pihaknya tengah mempersiapkan infrastruktur agar seluruh vendor data sudah memiliki sistem penanggulangan bencana (disaster recovery system) yang diperkirakan dapat dioperasikan di akhir 2012.

Yohanes menambahkan, saat ini ada sekitar kurang dari 20 perusahaan, baik lokal ataupun asing yang telah mendapatkan izin dari BEI untuk menjadi perusahaan penyedia data transaksi perdagangan saham BEI kepada investor dan broker. Beberapa perusahaan data vendor tersebut antara lain Thompson Reuters, Bloomberg, PT Indonesia Market Quotes (IMQ), PT Limas Centric Indonesia Tbk (LMAS), dan PT IQPlus Prima. (lia)

BERITA TERKAIT

Kembangkan Inftastruktur dan SDM - Rifan Financindo Bidik Transaksi 1,5 Juta Lot

NERACA Jakarta – Sukses mencatatkan performance kinerja yang positif di tahun 2018 kemarin, menjadi alasan bagi PT Rifan Financindo Berjangka…

E-Bookbuilding Rampung Tengah Tahun - Peran BEI Masih Menunggu Arahan OJK

NERACA Jakarta – Mendorong percepatan modernisasi pelayanan pasar modal di era digital saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama…

Regulator Terapkan Perhitungan Risiko Pasar Basel III Terbaru

  NERACA Jakarta - Regulator Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadiri pertemuan para Gubernur Bank Sentral dan Pimpinan Otoritas Pengawas Sektor…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Tiga Anak Usaha BUMN Bakal IPO di 2019

Menyadari masih sedikitnya perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang go public atau tercatat di pasar modal, mendorong Kementerian Badan…

Impack Pratama Beri Pinjaman Anak Usaha

Dukung pengembangan bisnis anak usaha, PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) melakukan perjanjian hutang piutang dengan anak usahanya PT Impack…

Layani Pasien BPJS Kesehatan - Siloam Tambah Tujuh Rumah Sakit Baru

NERACA Jakarta – Tidak hanya sekedar mencari bisnis semata di industri health care, PT Siloam International Hospital Tbk (SILO) terus…