Menkop Apresiasi Koperasi Ponpes Nurul Iman - Kabupaten Bogor

Bogor – Menteri Koperasi dan UKM Syarifuddin Hasan mengapresiasi pola koperasi yang dikembangkan Yayasan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman yang berlokasi di Desa Waru, Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor.

Koperasi di sana tak lazim seperti yang biasa dipraktekkan koperasi simpan pinjam (KSP) di tempat lain. Di sini hanya mengenal menyimpan dan tidak boleh meminjam. Dana tersebut dikembangkan untuk usaha produktif para santri. “Maka tak usah heran bila koperasi di Ponpes ini menjadi Pilot Project model pengembangan ekonomi pondok pesantren”, kata Menkop kepada wartawan usai acara seminar di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Parung, Kabupaten Bogor.

Bahkan, dengan konsep “tidak menerima” bantuan pihak mana pun, akhirnya Menkop menawarkan diri menjadi mitra, dalam pengembangan koperasi tersebut. “Kami menawarkan program dana bergulir yang bisa dimanfaatkan Ponpes Nurul Iman”, imbuh Menkop.

Sementara dalam pemaparannya, Yayasan Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman, Ummi Waheed, menjelaskan bahwa melalui koperasi bisa untuk meningkatkan jiwa enterpreneurship dan mandiri. “Di Ponpes ini kita ajarkan yang namanya social enterpreneur, dimana tak hanya mengejar keuntungan saja. Tapi, di balik keuntungan itu ada milik masyarakat sekitar”, jelas Ummi Waheed.

Ponpes Nurul Iman yang menampung 23 ribu santri, mengandalkan 14 unit usaha untuk operasionalnya, yang semuanya di bawah koperasi.

Membuat roti merupakan salah satu usaha yang dikembangkan pesantren yang terletak di Desa Warujaya, Parung, Bogor, Jawa Barat ini. Sebelumnya, saat berdiri, Nurul Iman mengembangkan usaha daur ulang sampah dan membuat pupuk kompos. Usaha ini berkembang dan akhirnya mampu mendanai pembuatan pabrik roti yang sekarang menjadi tempat praktek santri.

Usaha memang menjadi tulang punggung operasional Nurul Iman. Maklum, pesantren ini tak memungut biaya sepeser pun dari santrinya alias gratis. Semua biaya mulai dari pendidikan, makan, tempat tinggal dan kesehatan ditanggung pesantren.

Menurut Umi, yang lahir dan besar di Singapura, pesantren Nurul Iman sengaja dibangun suaminya, almarhum Habib Saggaf Bin Mahdi, untuk menyelamatkan anakanak putus sekolah saat krisis moneter melanda Indonesia pada 1998.

Secara umum pesantren ini tak berbeda dengan lembaga pendidikan sejenis. Mereka mengajarkan ilmu agama dan juga pengetahuan umum. Jenjang pendidikan mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini, Sekolah Dasar, Sekolah Menangah Pertama hingga Perguruan Tinggi. Bedanya, siswa tak membayar iuran apapun dan diberi bekal wirausaha. Tujuannya agar santri mandiri setelah lulus.

BERITA TERKAIT

Koperasi Mantan Napi Terorisme Perluas Pasar di Pesantren-Pesantren

Koperasi Mantan Napi Terorisme Perluas Pasar di Pesantren-Pesantren NERACA Garut - Koperasi Komunitas Mantan Narapidana teroris dan Gerakan Aktivis Radikal…

Peta Ketahanan Pangan Kabupaten Serang Posisi Aman

Peta Ketahanan Pangan Kabupaten Serang Posisi Aman   NERACA Serang - Peta Ketahanan dan Kerawanan pangan Provinsi Banten menunjukkan bahwa seluruh…

Mendulang Potensi Suara di Bogor - Jokowi Kembali Sosialisasikan Tiga Kartu Sakti

Di hadapan para relawan pengusaha muda nasional (Repnas) dan masyarakat pada umumnya, Presiden Joko Widodo kembali mensosialisasikan tiga kartu saktinya.…

BERITA LAINNYA DI EKONOMI DAERAH

Gencar Tolak Listrik Bersih, Walhi Harus Jelaskan Sumber Dana

Gencar Tolak Listrik Bersih, Walhi Harus Jelaskan Sumber Dana NERACA Jakarta – Walhi menuntut transparansi pelaksanaan pembangunan proyek PLTA Batang…

Jamkrindo Raih Penghargaan BUMN Marketeers Awards 2019

Jamkrindo Raih Penghargaan BUMN Marketeers Awards 2019 NERACA Jakarta - Perum Jamkrindo berhasil menerima apresiasi atas kinerja baik dalam melakukan…

Wakil Walikota: Perkembangan Koperasi di Kota Sukabumi Masih Stagnan - Sebanyak 96 Koperasi Akan Dibubarkan Oleh Kemenkop

Wakil Walikota: Perkembangan Koperasi di Kota Sukabumi Masih Stagnan Sebanyak 96 Koperasi Akan Dibubarkan Oleh Kemenkop NERACA Sukabumi - Wakil…