Kapal Tidak Overhaul, Kondisi Membahayakan - Tanker Norgas Cathinka

Jakarta – Norgas Carriers, Pte. Ltd. semakin mengkhawatirkan kondisi kapal tankernya apabila kapal tidak di overhaul atau dilakukan perawatan berkala terhadap muatan gas di dalam kapal tersebut. Sebagaimana disampaikan pada pernyataan pers sebelumnya, Norgas mendesak tanker tersebut dilepaskan karena terdapat risiko keamanan dan keselamatan akibat penahanan tersebut.

“Kami telah melaporkan masalah ini kepada pusat kendali Pelabuhan Merak dan Administrasi Pelayaran dan tentang bahaya yang dapat terjadi akibat kebocoran katup pengaman. Juga tentang perlunya mengosongkan katup tersebut demi keselamatan dan kesehatan. Saat ini, dengan hanya satu katup pengaman yang berfungsi, kapal dipaksa mengabaikan ketentuan keselamatan berdasarkan ketentuan IGC Code, yaitu menggunakan dua katup pengaman. Hal ini mengandung risiko serius terhadap keselamatan,” kata Juru Bicara Norgas Carriers, Pte. Ltd, Charles Freeman dalam keterangan persnya yang diterima Neraca, Minggu (11/11).

Charles mengatakan, dalam inspeksi rutin pada tanggal 8 November 2012 kemarin, awak kapal Norgas Cathinka mencium bau gas dan menemukan kebocoran pada katup pengaman CT 2C yang berada di sisi kanan kapal.

Dalam situasi sulit tersebut, awak kapal bersiap dengan perlengkapan pemadam api mengatasi kebocoran tersebut. Kebocoran tersebut akhirnya berhasil diamankan dengan menyisipkan flens (penguat) pada katup pengaman. “Sangat mengkhawatirkan tentang dampak serius pada keselamatan akibat dioperasikannya peralatan pengendali muatan propylene melebihi waktu yang diperbolehkan berdasarkan ketentuan perawatan,” jelasnya.

Charles menjelaskan Norgas Cathinka yang ditahan oleh Pengadilan Negeri Serang, menyusul tabrakan dengan KMP Bahuga Jaya di Selat Sunda pada tanggal 26 September 2012. Norgas Cathinka yang saat ini ditahan dan tidak diperbolehkan berlayar berdasarkan surat Pengadilan Negeri Serang bertanggal 25 Oktober 2012.

Surat dan dokumen kapal pun ditahan oleh Kepolisian Daerah Lampung dan bukan Administrasi Pelayaran. Norgas telah menyampaikan kepada otoritas Indonesia tentang bahaya yang dapat terjadi apabila kapal Norgas Cathinka berjangkar untuk waktu yang lama. “Penahanan kapal tentunya akan menyebabkan proses rutin penanganan propylene terganggu dan mengancam keselamatan masyarakat,” ungkapnya.

Lebih lanjut lagi, dia menuturkan Propylene merupakan gas cair yang memiliki sifat tidak stabil dan sangat mudah terbakar sehingga penyimpanannya harus mengikuti prosedur ketat dengan suhu yang harus dijaga di bawah -45 derajat Celsius. Tekanan dalam tangki bermuatan propylene dikontrol melalui katup pengaman yang diset untuk membuka otomatis pada tekanan 3.0 bar.

Muatan propylene Norgas Cathinka terus menghasilkan uap dan menyebabkan tekanan di dalam tangki naik. Tekanan yang terjadi ini dikendalikan dengan cara mencairkan muatan menggunakan kompresor. “Kompresor dan katup pengaman inilah dua perangkat terpenting yang mengendalikan tekanan muatan propylene,” ujarnya.

Kemudian Charles menegaskan berdasarkan prosedur yang sesuai dengan spesifikasi kelas kapal dan jadwal pemeliharaan, katup pengaman dan kompresor kargo seharusnya mendapatkan overhaul berkala tanggal 14 Oktober 2012 yang lalu.

Karena hal ini tidak mungkin dilakukan saat kapal berisi muatan, perangkat pengaman ini terus dipakai hingga melewati batas yang seharusnya. “Kebutuhan overhaul menjadi lebih mendesak karena kapal tersebut baru saja bertabrakan, sehingga terdapat potensi kerusakan sewaktu-waktu akibat kestabilan dan kemampuan sistem pengaman muatan terganggu,” paparnya.

Charles menambahkan dengan sehubungan dengan investigasi yang tengah dilakukan oleh KNKT, Norgas mengatakan bahwa mereka mempercayakan proses yang dijalankan pihak yang berwenang untuk mengetahui penyebab tabrakan

“Kami bertekad untuk bekerja sama dengan pihak yang berwenang. Kami telah menyerahkan VDR (black box) kami kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) untuk dipelajari. Black box ini nantinya akan menjelaskan apa yang terjadi pada kapal sebelum dan setelah tabrakan,” jelasnya.

BERITA TERKAIT

Peneliti:Kasus Beras Busuk Karena Distribusi Tidak Baik

NERACA Jakarta - Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman menilai kasus 6.000 ton beras busuk di…

Pemkab Tangerang Pantau 100 Perusahaan Tidak Patuh LKPM

Pemkab Tangerang Pantau 100 Perusahaan Tidak Patuh LKPM NERACA Tangerang - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tangerang, Banten, melakukan pemantauan rutin terhadap…

Survei LSI: Delapan Persen Publik Tidak Tahu KPK

Survei LSI: Delapan Persen Publik Tidak Tahu KPK NERACA Jakarta - Hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) tentang sektor privat…

BERITA LAINNYA DI HUKUM BISNIS

Kajian ICW: Tren Penindakan Korupsi Pada 2018 Turun

Kajian ICW: Tren Penindakan Korupsi Pada 2018 Turun NERACA Jakarta - Kajian Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan tren penindakan korupsi…

KPK Fasilitasi Kejaksaan Tangkap DPO Perkara Korupsi di Bali

KPK Fasilitasi Kejaksaan Tangkap DPO Perkara Korupsi di Bali NERACA Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memfasilitasi Kejaksaan Agung membantu…

JICT Tak Toleransi Tindakan Melanggar Hukum Karyawan

JICT Tak Toleransi Tindakan Melanggar Hukum Karyawan NERACA Jakarta - PT Jakarta International Container Terminal (JICT) tidak akan pernah memberi…