Genjot Kinerja PME, KPEI Kembangkan Tiga Layanan Baru

NERACA

Jakarta- PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) menargetkan dapat meningkatkan fungsi strategis Pinjam Meminjam Efek (PME) dengan menambah tiga layanan pada 2013. “Saat ini sedang kita kembangkan terus layanan-layanan, ada tiga sistem yang sedang disiapkan pada akhir tahun ini sehingga di awal 2013 bisa direalisasikan, “kata Direktur Utama KPEI, Hasan Fawzi di Jakarta kemarin

Menurutnya, ketiga layanan tersebut terkait keperluan di luar penanganan kegagalan penyerahan saham antara borrower (yang meminjam) dan lender (yang dipinjamkan) atau dinamakan bilateral lending and borrowing. Artinya, dapat digunakan untuk keperluan apa pun, seperti penanganan untuk posisi short atau protection tertentu, yaitu tidak harus pada saat jatuh tempo.

Sejauh ini, kata dia, PME terbatas untuk keperluan antisipasi terjadinya kegagalan penyerahan saham, di mana apabila pada hari settlement ada pihak yang wajib menyerahkan saham kemudian berpotensi gagal serah maka mereka datang dan memanfaatkan layananan pinjam meminjam efek di KPEI.

Layanan kedua, yaitu layanan yang menawarkan mekanisme penentuan fee tidak tepat. Artinya, biaya dan ketentuan mengenai PME dilakukan secara negosiasi oleh pihak peminjam dan yang meminjamkan atau dinamakan Bid and Offer. Jadi, lanjut dia, pinjam meminjam efek hanya terjadi jika benar-benar ada penawaran, “Fund and Condition disepakati kedua pihak, termasuk yang terkait angka pengenaan biaya terhadap borrower.” ujarnya

Sementara layanan ketiga, yaitu automatic lending and borrowing. Apabila selama ini, kata Hasan pihak yang mengalami kegagalan secara eksplisit mengemukakan ke KPEI, kemudian baru dicarikan efek atau barangnya sehingga tidak jarang dapat menghambat atau bahkan tidak ditemukannya supplay.

Karena itu melalui automatic lending dan borrowing, KPEI menawarkan sejak awal pihak borrower menyatakan, kemudian pada saat menjelang settlement akhir, secara otomatis masuk pada mekanisme automatisasi. Dengan begitu, lanjut dia tingkat ditemukannya ‘barang’ atau efek yang diperlukan lebih tinggi.

Supplay PME

Selain menambah layanan tersebut, Hasan menegaskan bahwa KPEI juga sedang berupaya meningkatkan supply dari para lender. Pasalnya, selama ini supplay untuk PME terbatas pada pelaku anggota kliring. Padahal dari rata-rata transaksi saham yang diperdagangkan atau sekitar 4,4 triliun per hari berpotensi untuk diaktifkan dalam PME.

Selain dari pendiri saham, kata Hasan, pihaknya juga sedang mencari sumber-sumber pengelolaan pasif, namun memiliki kemungkinan untuk diikutsertakan sebagai lender. Dia menilai, ada banyak sumber lainnya yang sebenarnya sangat mungkin menjadi ‘lender’ PME. “Selain pendiri saham, dana pensiun dan asuransi sebenarnya berpotensi untuk dilibatkan dalam pinjam meminjam efek.” ujarnya

Akan tetapi, sambung dia, banyak dari pihak lender tersebut bersifat konservatif dan belum mengetahui manfaat besar dari adanya pinjam meminjam efek. Karena itu, pihaknya akan meningkatkan sosialisasi terkait nilai tambah yang dapat diperoleh dalam PME.“Penjaminan efek bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi lender. Untuk PME wajib atau dalam hal penanganan penyerahan gagal saham, lender mendapatkan bagian terbesar yaitu sebesar 12% dari nilai yang dipinjamkan, sementara untuk KPEI sebesar 3% dan borrower (yang meminjam) hanya dikenakan fee sebesar 15%,” paparnya.

Hasan menambahkan, untuk besaran fee tersebut dihitung setiap hari atau market to market berdasarkan harga penutupan perdagangan (closing price). Selain memberikan ruang bisnis baru, lanjut Hasan, pinjam meminjam efek juga berpotensi meningkatkan likuiditas saham. Pasalnya, dengan adanya penjaminan efek, terlebih dalam kondisi settlement, seseorang akan lebih berani masuk ke pasar saham karena sejauh ini KPEI belum mencatatkan adanya tingkat kegagalan. (lia)

BERITA TERKAIT

Perkenalkan Fortofolio Bisnis - Astra Tampil di 1st Pacific Expo Selandia Baru

NERACA Jakarta – Menunjukkan eksistensinya di dunia internasional, PT Astra Internasional Tbk (ASII) menjadi satu dari lebih dari 100 perusahaan…

Emdeki Realisasikan Dana IPO Baru 30,05%

Per Juni 2019, PT Emdeki Utama Tbk (MDKI) baru merealisasikan dana hasil penawaran umum saham perdana sebesar 30,05% dari dana…

Tiga Besar Dompet Digital Paling Sering Digunakan

      NERACA   Jakarta - Saat ini popularitas pembayaran digital dengan uang elektronik semakin meningkat. Masyarakat pun memiliki…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Acting in Concert Pemicu Jababeka Default

PT Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA) berpotensi mengalami gagal bayar notes senilai US$ 300 juta karena terjadinya perubahan pengendali sebagaimana…

Gandeng Perusahan Taiwan - Kalbe Farma Bidik Cuan di Bisnis Kecantikan

NERACA Jakarta – Genjot pertumbuhan penjualan, inovasi dan pengembangan bisnis menjadi strategi yang dilakukan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF). Menggandeng…

Volume Penjualan Semen SMCB Turun 3,30%

NERACA Jakarta – Melorotnya penjualan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) di semester pertama tahun ini, juga dirasakan oleh anak…