Harga Baja Turun, Pelat Timah Rugi Rp 44 Miliar - Kinerja Kuartal III-2012

NERACA

Jakarta – Belum pulihnya harga komoditas dunia memberikan dampak yang berarti terhadap kinerja PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL). Perusahaan produksi kemasan kaleng ini membukukan rugi sebesar Rp44 miliar pada kuartal III-2012.

Direktur Komersial Latinusa Suprapto mengatakan, penurunan harga jual dikarenakan harga baja dunia yang mengalami penurunan, “Karena pasar kita sebesar 50% dan sisanya impor, itu yang menjadi pesaing kita dan terpaksa harus mengikuti harga jual, “katanya di Jakarta, Kamis (8/11).

Selain itu, faktor lain yang mempengaruhi adalah beberapa konsumen memiliki fasilitas BKPN dimana, jadi meraka bila ekspansi lebih dari 30% maka pajak masuknya bisa jadi nol persen. Disamping itu, kerjasama Indonesia degan Korea tahun ini dengan bea masuk nol persen tinplate, membuat harga jual tertekan dan penjualan mengalami penurunan.

Namun, ke depan, dirinya berharap akan terjadi persaingan harga yang kompetitif dengan impor berkaitan dengan diumumkannya penyelidikan anti dumping. "Selain itu kami juga berusaha agar konsumen kami tetap loyal terhadap kami,"ujarnya.

Asal tahu saja, perseroan menurunkan target produksi pelat hitamnya tahun ini. Direktur Utama Latinusa Ardhiman TA pernah bilang, di 2011 lalu, pihaknya berhasil memproduksi 160 ribu ton pelat hitam per tahun, sedangkan tahun ini target produksinya hanya ditargetkan sebesar 130 ribu ton per tahun.

Sejak akhir tahun lalu, anak usaha PT Krakatau Steel ini memang sedang mengontruksi proyek.

Selain itu, kinerja PT Latinusa yang melempem tahun ini juga disebabkan beberapa faktor seperti produksi pabrik yang sempat berhenti 40 hari selama konstruksi revamping.

Alasan kedua, adalah diterapkannya bea masuk impor nol persen yang mulai diberlakukan pada akhir 2009. Krisis Eropa juga menjadi penyebab penurunan ekspor ke Eropa dan Amerika Utara, China, dan Korea.

Kemudian kondisi yang sama juga dialami induk usahanya, PT Krakatau Steel Tbk yang juga membukukan penurunan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (un audited) sebesar 99,25% menjadi Rp7,75 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,04 triliun.

Dijelaskan, penurunan tersebut dikarenakan meningkatnya beban pendapatan perseroan yang tercatat mencapai Rp14,72 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp11, 44 triliun.

Selain itu, perseroan mengalami kerugian selisih kurs menjadi Rp197,02 miliar hingga kuartal ketiga 2012 dari periode sama sebelumnya untung Rp40,50 miliar. Padahal, pendapatan bersih perseroan tercatat mencapai Rp15,87 triliun atau naik dibandingkan periode sembilan bulan pertama tahun sebelumnya yang mencapai Rp12,65 triliun. (bani)

BERITA TERKAIT

Garap Proyek LRT - ADHI Terima Pembayaran III Rp 1,2 Triliun

NERACA Jakarta –Perusahaan kontruksi plat merah, PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menerima realisasi pembayaran tahap III pengerjaan proyek Light Rail…

Dukung Kelancaran Arus Mudik dan Balik, Direksi Pertamina Turun ke Lapangan

Jakarta-Totalitas Pertamina dalam melayani masyarakat, mendapat apresiasi berbagai kalangan. Dukungan BUMN energi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam kelancaran…

Ini Penjelasan Harga Cabai Merah Stabil Tinggi

NERACA Jakarta – Kementerian Perdagangan mencatat harga cabai merah keriting dan cabai merah besar di sejumlah pasar tradisional menunjukkan peningkatan…

BERITA LAINNYA DI BERITA FOTO

FESTIVAL BALON UDARA TRADISIONAL DI PEKALONGAN

Sejumlah peserta mengikuti Java Traditional Balloon Festival Pekalongan 2019 di Stadion Hoegeng, Pekalongan, Jawa Tengah, Rabu (12/6). AirNav Indonesia bekerja…

BPK SERAHKAN OPINI WAJAR TANPA PENGECUALIAN

kiri ke kanan. Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Menteri Keuangan Sri Mulyani, Anggota II BPK Agus…

PRESIDEN MENERIMA KADIN DAN HIPMI

Presiden Joko Widodo (tengah) menerima Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Rosan Roeslani (keenam kanan) beserta pengurus dan Ketua…