Inflasi Terkendali, BI Rate Tetap 5,75%

NERACA

Jakarta - Bank Indonesia (BI) menilai tingkat suku bunga saat ini masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sehingga mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 5,75%. Kepala Departemen Perencanaan Strategis dan Hubungan Masyarakat BI, Dody Budi Waluyo mengatakan, tingkat suku bunga masih konsisten dengan tekanan inflasi yang rendah dan terkendali sesuai dengan sasaran inflasi 2012 dan 2013, yaitu 4,5 plus-minus 1%.

“Sejalan dengan dinamika perekonomian dan sejumlah kebijakan yang ditempuh selama ini, tekanan ketidakseimbangan eksternal mulai mereda dengan defisit transaksi berjalan yang telah menurun dan neraca pembayaran yang kembali mengalami surplus,” ujar Dody, melalui keterangan tertulis yang diterima Neraca di Jakarta, Kamis (8/11).

Lebih lanjut dia mengemukakan, nilai tukar rupiah juga bergerak sesuai kondisi pasar dengan intensitas depresiasi yang menurun. Sementara itu perekonomian domestik masih tumbuh cukup baik, meskipun sedikit melambat akibat menurunnya ekspor karena dampak berlanjutnya pelemahan ekonomi global.

Ke depan, kata Dody, BI mengarahkan kebijakannya untuk mengelola keseimbangan eksternal ke tingkat yang berkesinambungan dengan tetap memberikan dukungan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik. Bank sentral juga akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam upaya menjaga kestabilan ekonomi makro dan kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pengamat pun telah memprediksi hal tersebut, salah satunya pengamat ekonomi Aviliani. Menurut dia, Bank Indonesia tidak akan mengubah suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75%. Pasalnya, tidak terjadi gejolak inflasi di dalam negeri. Lagi pula, negara-negara lain juga tidak menaikkan suku bunga bank mereka.

Asal tahu saja, tercatat tiga bank sentral yakni India, Australia, dan Selandia Baru tetap mempertahankan suku bunga acuannya. Bank Sentral India (Reserve Bank of India/RBI) tetap mempertahankan tingkat suku bunga repo utama, suku bunga yang dikenakan untuk pinjaman kepada perbankan komersial, di level 8%.

Tidak berubahnya suku bunga repo ini akibat tekanan inflasi, walaupun di sisi lain, terdengar keras seruan untuk segera menurunkannya guna mendorong perekonomian yang tengah melambat. Sementara langkah mempertahankan suku bunga acuan juga diterapkan Bank Sentral Selandia Baru atau Reserve Bank of New Zealand (RBNZ).

Mereka tetap mempertahankan suku bunga acuan (official cash rate/OCR) di level rendah sebesar 2,5%, karena pertumbuhan domestik moderat dan belum pulihnya kondisi ekonomi global. Bank Sentral Australia (Reserve Bank of Australia/RBA) mempertahankan suku bunga utamanya stabil pada 3,25%, karena indikasi perekonomian dunia belakangan ini lebih positif.

Konsumsi dan investasi tinggi

Sebelumnya, BI meyakini pertumbuhan ekonomi hingga akhir 2012 bisa mencapai 6,3% karena permintaan domestik dinilai masih cukup tinggi. "Konsumsi dan investasi swasta masih akan tetap tinggi, sehingga memberikan suatu kepercayaan bahwa ke depan pertumbuhan ekonomi bisa sekitar 6,3%," kata Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Perry Warjiyo, kemarin.

Menurut dia, kuatnya permintaan domestik, yaitu konsumsi rumah tangga dan investasi bisa mendorong pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) guna mendukung pertumbuhan ekonomi. Perry menambahkan pada kuartal IV-2012 konsumsi pemerintah akan lebih besar, sehingga realisasi pengeluaran pemerintah juga akan meningkat.

"Tren setiap kuartal empat, pengeluaran pemerintah biasanya memang besar, sehingga kami masih meyakini pertumbuhan ekonomi bisa sekitar 6,3% untuk kuartal IV-2012," tuturnya. Meski pertumbuhan ekonomi diperkirakan tumbuh lebih rendah dari proyeksi BI sekitar 6,4%, Perry berpendapat kinerja sektoral pada keseluruhan tahun 2012 diperkirakan masih tumbuh baik.

Sektor yang diperkirakan tumbuh di antaranya sektor industri pengolahan, perdagangan serta pengangkutan dan komunikasi. Investasi juga diperkirakan tetap tumbuh kuat didukung optimistis pelaku usaha di tengah iklim yang kondusif dan prospek perekonomian yang membaik.

Dengan prospek demikian, pertumbuhan ekonomi tahunan per 2012 diperkirakan mencapai sekitar 6,3%. "Secara keseluruhan memang sedikit lebih rendah, tapi kami meyakini paling tidak bisa mencapai 6,2%-6,25%," ujar dia. [ria/ardi]

BERITA TERKAIT

Kenaikan Harga Cabai dan Daging Ayam Picu Inflasi di Sumsel

Kenaikan Harga Cabai dan Daging Ayam Picu Inflasi di Sumsel NERACA  Palembang - Kenaikan harga cabai merah dan daging ayam…

OJK Nilai Sektor Jasa Keuangan Terkendali

  NERACA   Jakarta - Rapat Dewan Komisioner (RDK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Juni, menilai stabilitas sektor jasa keuangan…

Tangerang Tetap Pertahankan Perbup 47 Tahun 2018

Tangerang Tetap Pertahankan Perbup 47 Tahun 2018 NERACA Tangerang - Pemerintah Kabupaten Tangerang, Banten, berupaya tetap mempertahankan peraturan bupati (Perbup)…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Zurich Jamin Kesehatan Hingga Rp30 miliar - Luncurkan Produk Critical Advantage

    NERACA   Jakarta - Zurich Indonesia meluncurkan produk asuransi untuk penyakit kritis yaitu Zurich Critical Advantage (ZCA). Produk…

14 Lembaga Keuangan Kerjasama Dukcapil Manfaatkan Data Kependudukan

    NERACA   Jakarta - Terdapat 14 lembaga keuangan melakukan penandatanganan kerja sama dengan Direktorat Kependudukan dan Pencatatan Sipil…

The Fed Melunak, BI Diprediksi Turunkan Bunga

      NERACA   Jakarta - Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan memangkas suku bunga acuan menjadi 5,75 persen dari…