Indonesia Top 10 Destinasi Investasi Asing

NERACA

Jakarta - Menteri Perindustrian (Menperin) MS Hidayat mengatakan, Indonesia masuk dalam daftar 10 negara yang menjadi tujuan investasi asing di dunia.

"Itu berdasarkan survei prospek investasi dunia yang dilakukan UNCTAD (United Nation Conference on Trade and Development) pada 2010," ujarnya di hadapan pengusaha dari Indonesia dan Uni Eropa, pada dialog bisnis di Nusa Dua, Bali, Kamis (8/11).

Hal itu, kata dia, setidaknya terlihat dari realisasi investasi di Indonesia yang terus meningkat. Pada semester pertama 2012, realisasi investasi naik 28,1% menjadi Rp148,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

"Jumlah tersebut terdiri atas investasi asing langsung sebesar Rp107,6 triliun dan investasi dalam negeri sebesar Rp40,5 triliun," kata Hidayat.

Untuk mendukung iklim investasi, lanjut dia, pemerintah terus membangun infrastruktur dan melakukan percepatan pembangunannya melalui program Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang fokus pada konektivitas enam koridor ekonomi.

"Dalam lima tahun ke depan, proyek infrastruktur di Indonesia dibagi dalam 11 sektor yang membutuhkan dana hingga US$ 931,7 miliar," kata Hidayat.

Kesebelas sektor itu adalah transportasi udara, darat, laut, kereta api, jalan bebas hambatan, pasokan air bersih, telekomunikasi, dan energi listrik.

Pada kesempatan dialog dengan pengusaha dari Uni Eropa itu, Hidayat berharap mereka berinvestasi di bidang manufaktur terutama industri hilir pertanian dan barang modal seperti permesinan.

Ia juga meminta bantuan Uni Eropa untuk meningkatan kapasitas perusahaan-perusahaan di Indonesia dalam mengimplementasikan industri hijau, terkait sertifikasi produksi ramah lingkungan yang dipersyaratkan untuk masuk pasar Eropa.

"Masih banyak yang harus ditingkatkan, seperti kekurangan tenaga ahli dan 'know how," di samping modernisasi mesin, pembiayaan, dan pengembangan sumber daya manusia, terutama untuk UKM," katanya.

Selain soal kelestarian terkait industri hijau, pada dialog tersebut juga dibahas masalah hak atas kekayaan intelektual (HaKI) dan infrastruktur.

Eropa Terbesar Kedua

Ketua Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN Julian Wilson mengatakan investasi UE kedua terbesar di Indonesia. Ia mengakui Indonesia memiliki potensi besar menjadi tujuan investasi UE.

Setiap tahun kata dia, UE mengeluarkan dana miliar euro untuk membantu peningkatan kapasitas perusahaan-perusahaan di Indonesia agar produk dari Indonesia bisa memenuhi ketentuan di negara-negara kawasan tersebut.

Tunda Investasi

Sementara itu, dari Jakarta dilaporkan bahwa aksi "sweeping" serikat pekerja di kawasan industri yang menuntut penghapusan sistem "outsourcing" membuat investor berencana menunda investasi di Indonesia.

"Sembilan pengurus kantor perwakilan bisnis luar negeri di Indonesia telah bertemu dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan sepakat untuk membatalkan rencana investasi di Indonesia akibat aksi 'sweeping' serikat kerja di kawasan industri," kata Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI), Sanny Iskandar.

Pelaku usaha, menurut Sanny, mengeluhkan tindakan aparat keamanan yang terkesan melindungi berlangsungnya aksi-aksi penekanan dan anarkisme yang dilakukan oleh serikat pekerja di kawasan industri.

"Disinyalir aksi 'sweeping' serikat pekerja sebagian besar bukan dilakukan oleh pekerja," ujarnya.

Berbagai tekanan dari serikat kerja, lanjut Sanny, membuat manajemen perusahaan harus menandatangani sejumlah kesepakatan.

"Sebagian isi kesepatakan dengan serikat kerja bukan merupakan kewajiban normatif perusahaan sesuai dengan peraturan ketenagakerjaan. Hal ini sangat memberatkan perusahaan," paparnya.

Sanny menambahkan, apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah-langkah tegas dengan menginstruksikan aparatnya untuk menjamin adanya kepastian hukum, investor khususnya industri padat karya akan semakin mengurangi kegiatan usahanya di Indonesia atau minimal peningkatannya tidak mampu menyerap pertambahan tenaga kerja baru.

"Dengan demikian, pekerja informal tidak akan bisa naik kelas bekerja di sektor formal dan pengangguran akan semakin meningkat," katanya menandaskan. (doko)

BERITA TERKAIT

Investasi, Divestasi, Privatisasi

Oleh: Fauzi Aziz Pemerhati Ekonomi dan Industri   Mekanisme bisnis di bidang apa saja akan berjalan melalui proses yang umumnya…

Minat Investasi di Pasar Modal - Jumlah Investor di Kepri Tumbuh 58.86%

NERACA Batam - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat investasi sektor pasar modal semakin diminati masyarakat Provinsi Kepulauan Riau. Dimana hal…

LIPI: Oligarki Parpol Perburuk Kualitas Demokrasi Indonesia

LIPI: Oligarki Parpol Perburuk Kualitas Demokrasi Indonesia NERACA Jakarta - Kepala Pusat Penelitian Politik pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Membaiknya Ekonomi, Penerimaan Pajak Hampir Capai Target

        NERACA   Jakarta - Lembaga riset perpajakan DDTC menilai bahwa penerimaan pajak pada 2018 yang hampir…

Presiden Minta PKH Tak Digunakan untuk Konsumtif

      NERACA   Jakarta - Presiden Joko Widodo meminta para pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) mengarahkan warga penerima…

DataOn Bentuk Perusahaan Baru GreatDay HR

      NERACA   Jakarta - DataOn (PT. Indodev Niaga Internet) meresmikan GreatDay HR sebagai brand baru untuk solusi…