Ekspor Industri Kreatif Tumbuh 12,2%

NERACA

Jakarta – Direktur Ekonomi Kreatif Media Desain dan IPTEK (EKMDI), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Poppy Safitri mengatakan ekspor industri kreatif meningkat dengan rata-rata pertumbuhan 12,2%.

Dia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekspor tersebut berasal dari industri fesyen dan kerajinan, dengan masing-masing kontribusi 60% dan 36,5%. Berdasarkan data Kementerian Parekraf rata-rata kontribusi "net trade" periode 2002-2010 mencapai 65,26%. “Pada krisis ekonomi global 2009, ekspor industri kreatif tetap tumbuh 1,5%,” kata Poppy di Jakarta, Kamis (8/11).

Poppy menuturkan, pertumbuhan tersebut ditandai dengan banyaknya kegiatan kreatif baik workshop, karnaval, festival, pameran, kompetisi, serta diskusi antar komunitas. Kegiatan-kegiatan tersebut banyak diselenggarakan di berbagai provinsi di Indonesia, diantaranya DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Bali dan Jawa Tengah. “Selama 2011, ada 143 event yang digelar di Jakarta,” tuturnya.

Poppy menjelaskan, ada beberapa kegiatan kreatif yang telah dilaksanakan sepanjang 2011. Pertama, pameran arsitektur "Architects Under Big 3, New Regionalism in Bali Architecture". Kedua, di tahun yang sama pun diselenggarakan pameran "Jakarta Biennale" serta "Fresh and Brite 2011 - Designesia" untuk bidang desain.

Ketiga, untuk bidang fesyen, diselenggarakan "Jakarta Fashion Week", "Urban Fashion Week", "Jogja Fashion Week", serta "Indonesia Fashion and Craft Expo 2011". Keempat, di bidang film, video, dan fotografi, Jawa Barat melaksanakan pameran foto "outdoor" kilas balik. Sedangkan DKI Jakarta menggelar pameran foto "Potret Jakarta Kita".

Bali mengadakan "Festival Film Dokumenter Bali" dan Purbalingga menyelenggarakan kegiatan serupa, yaitu "Festival Film Purbalingga". Kelima, pada 2011 pun diselenggarakan kegiatan-kegiatan untuk sektor kerajinan. Kegiatan-kegiatan itu antara lain "World Batik Summit 2011", "Solo Batik Carnival", dan "Inacraft".

Dorong Pertumbuhan

Direktur Jenderal Industri Kecil dan Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah menuturkan pertumbuhan industri ekonomi kreatif Indonesia dinilai mampu mendorong untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8% dalam RAPBN 2013. “Produk yang ada bukan hanya sekedar produk pabrikan tetapi memiliki nilai lebih dan daya beli masyarakat sudah semakin baik,” ujarnya.

Menurut dia, produk yang dihasilkan industri kecil dan menengah Indonesia memiliki nilai kreativitas dan inovasi yang tinggi, dan itu semua bagian dari industri ekonomi kreatif. Karena itu dia menilai prospek industri ini ke depannya akan semakin baik terlebih dengan meningkatnya jumlah kelas menengah di Indonesia.

Euis mengatakan, pemerintah sudah memberikan insentif berupa potongan harga bagi pembelian mesin untuk produksi industri tersebut. Menurut Euis besaran potongan harganya hingga 40% dari harga pembelian, sehingga bisa mendorong produktifitas produksi industri ekonomi kreatif. “Di tahun 2012 bukan hanya tekstil dan sepatu yang diberi potongan harga itu tetapi juga industri makanan, komponen, herbal, kosmetik, dan pengolahan jamu,” ujarnya.

Selain itu, menurut Euis, pemerintah sudah memberikan pelatihan, pendampingan dan penyediaan tenaga ahli bagi tumbuhnya industri kreatif di Indonesia. Dia berharap ekonomi kreatif Indonesia bisa tumbuh lebih dari capaian selama ini yaitu 3-4%. Namun ia tidak bisa menyebut angka pastinya karena selama ini industri kreatif Indonesia masih dipengaruhi ketersediaan bahan baku dan teknologi dari luar negeri.

“Orang punya kreativitas dan inovasi bagus, tetapi teknologi yang tidak mendukung, jadi kerepotan. Misalnya, industri pakaian, kita belum bisa menyediakan mesin sendiri, masih tergantung impor,” ujarnya.

Euis menyadari ada tantangan yang dihadapi industri ekonomi kreatif Indonesia, pertama kompetisi dari pihak luar yang semakin maju, terutama dari negara Perhimpunan Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Kedua, perlunya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk membeli barang lokal, sehingga skill economy atau kemampuan ekonomi akan meningkat. “Ketiga, kita harus membuat mesin produksi sendiri dengan menggali kearifan lokal, seperti laut, hutan namun itu membutuhkan teknologi dan investasi yang besar,” katanya.

Untuk itu, dia berharap, peran serta semua masyarakat berpartisipasi mengembangkan industri ekonomi kreatif Indonesia. Euis mencontohkan industri besar harus memberikan sesuatu untuk menyuburkan industri kreatif. “Industri kreatif ini kan kebanyakan industri kecil menengah, mereka bisa miliki nilai tambah tinggi manakala bahan baku sudah aman, industri besar bisa berperan dalam hal ini,” ujarnya menambahkan.

BERITA TERKAIT

Prima Cakrawala Hentikan Kegiatan Produksi - Izin Usaha Industri Ditolak

NERACA Jakarta – Lantaran pembangunan pabrik berada di kawasan pemukiman atau tidak memunuhi syarat yang diperuntukannya, akhirnya izin operasional pembangunan…

Pemerintah Terus Berupaya Perluas Pasar Ekspor Otomotif

Pemerintah tengah berupaya menggenjot nilai ekspor produk manufaktur dalam upaya memperbaiki perekonomian nasional. Hal ini seiring implementasi peta jalan Making…

Sepanjang Januari- Juli 2018, Toyota Ekspor 117 Ribu Mobil

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengumumkan capaian positif ekspor kendaraan sepanjang Januari-Juli 2018 mencapai 117.200 unit, meningkat 1,3 persen,…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…

Indonesia-Sri Lanka Lanjutkan Kesepakatan Ekspor Pakaian

NERACA Jakarta – Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe di Hanoi, Vietnam, Rabu, membahas tindak…

Pemerintah Serius Tarik Investasi Sektor Riil Asal Korsel

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia terus berupaya menarik investasi Korea Selatan di sektor industri manufaktur. Langkah strategis ini bertujuan untuk…