Ekonomi Indonesia Bak Fatamorgana

NERACA

Jakarta - Perekonomian dunia lesu akibat Amerika Serikat (AS) dan Eropa belum pulih dari krisis. Namun mesti disadari pula, tidak selamanya mereka “tidur” dan suatu saat nanti akan bangkit dari keterpurukan. Ekonom UGM, Sri Adiningsih, mengingatkan kalau keadaan ekonomi dunia, khususnya AS dan Eropa, tidak selamanya akan terpuruk. Oleh karena itu ketika mereka “bangun tidur”, Indonesia harus sudah siap menghadapi.

“Rendahnya kualitas pembangunan ekonomi kita, pada saat ekonomi dunia pertumbuhannya meningkat kembali, maka ekonomi Indonesia akan tidak bergerak. Pada saat semuanya “lari” kita tidak bisa berbuat apa-apa. Janganlah mencontoh Yunani, Spanyol, dan Portugal, yang mayoritas warganya senang “hura-hura”, tidak kompetitif, dan tidak mau bekerja,” tegas dia di Jakarta, Rabu (7/11).

Tak hanya itu saja. Dia juga mengingatkan untuk terus mewaspadai prediksi IMF terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang dipastikan merevisi targetnya ke bawah dan bukan ke atas. Indonesia, lanjut dia, tidak terlena dengan pujian dari dunia barat tentang perekonomian kita yang tumbuh tinggi, karena mereka pasti punya maksud-maksud tertentu di balik itu.

“Mengenai pujian dari masyarakat internasional, kita sebenarnya harus mengerti budaya mereka. Ada statement pujian, pesannya malah yang ada di belakangnya. Kita orang Indonesia biasanya menilai yang di depannya saja. Mereka lebih basa basi dibanding orang Jawa sekali pun, jadi jika mereka baik pasti ada embel-embelnya,” jelas Sri.

Dia menuturkan bahwa perekonomian Indonesia memang masih akan tetap tumbuh ke depannya namun kualitasnya rendah. “Ekonomi Indonesia akan tetap tumbuh walaupun pemerintahnya tidur, karena konsumsi tetap tinggi, tapi kualitas (pertumbuhannya) rendah. Karena yang mendukung pertumbuhan ekonomi sehingga bisa 5%-6%, tapi tidak pernah di atas 7% yaitu konsumsi, sumberdaya alam (SDA), usaha mikro, juga sektor informal,” paparnya.

Apabila faktor-faktor tersebut tidak ditingkatkan kualitasnya, maka pada saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 mendatang, Indonesia akan semakin ketinggalan. “Jadi kalau pertumbuhan kita tidak berkualitas, terutama setelah tahun 2015 tetap produk kita tidak berdaya saing, SDM kita kualitasnya rendah, kemudian nilai tambah (barang ekspor) yang dihasilkan rendah, maka kita tidak akan bisa bersaing dengan negara di dunia, minimal negara tetangga di ASEAN,” tukas dia.

Sri juga mengeluhkan saat ini banyak beredar barang-barang produksi asing di pasaran. Dia pun tidak bisa membayangkan jika MEA dibuka dua tahun lagi. “ Nanti, mula dari sektor jasa, skill labour, modal dan investasi dari luar Indonesia masuk dan tidak bisa dibendung lagi. Ini akan membuat banyak warga kita yang kehilangan lapangan kerja, karena itu akan lebih banyak diisi (tenaga kerja) asing yang lebih punya skill,” katanya.

Untuk menanggulanginya, terutama jika Indonesia ingin ekonominya bertumbuh sampai 7% dan berkualitas, maka ada hal-hal yang harus disiapkan terutama daya saing internasional kita dalam menghadapi MEA 2015.

“Perbaikan infrastruktur, SDM (memperbanyak pelatihan dan keterampilan), kelembagaan, ini harus dibenahi supaya bersaing di Asean. Tiga tadi harus berjalan berbarengan. Kita memang sudah terlambat. Tapi kita kan lebih baik menyiapkan daripada tidak. Karena waktunya sangat mendesak,” tuturnya.

Khusus infrastruktur, Sri Adiningsih mendorong agar secepatnya dibenahi dan ditingkatkan kualitasnya. Kalau pemerintah tidak bergerak, maka Indonesia akan sulit bersaing. Terlebih investor bisa dengan leluasa memasukkan barang ke Indonesia.

“Kalau kemudian banyak (investor) yang pilih (investasi) ke Malaysia dan Thailand, kita yang dirugikan. Ini kaitannya dengan kelembagaan dan efisiensi birokrasi, KKN, itu adalah suatu keharusan yang harus kita lakukan,” tegas dia.

Kondisi Baik

Di tempat terpisah, Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan justru perekonomian Indonesia saat ini dalam kondisi baik meski perekonomain dunia masih dalam situasi yang penuh ketidakpastian.

"Indonesia saat ini dalam kondisi yang sangat baik, maksudnya, pertumbuhan ekonomi mencapai 6,3 %, itu adalah salah satu yang tertinggi di atas level 6 %,” ujar Lukita. Sementara negara-negara seperti China dan India melambat akibat krisis yang terjadi, tapi kita tetap di posisi sama dengan tahun sebelumnya.

“Ini adalah suatu kinerja yang baik karena pemerintah mempunyai kebijakan kebijakan yang tepat sehingga kondisi perekonomian baik," kata Lukita. Dia menambahkan, kinerja perekonomian Indonesia juga bisa terlihat dari adanya stabilitas keuangan yang terjaga serta inflasi yang terkendali.

Dengan demikian, pihaknya optimis perekonomian Indonesia masih akan tumbuh sesuai dengan prognosis APBNP 2012, kira-kira mencapai 6,5 %, jika berjalan sesuai skenario. Selain itu, lanjut Lukita, kondisi perbankan nasional saat ini juga dalam kondisi yang tetap terjaga stabilitasnya dan sehat dengan fungsi intermediasi yang terus meningkat dalam mendukung pembiayaan perekonomian. iwan/ria/ardi

BERITA TERKAIT

CITI INDONESIA DUKUNG INDONESIA ASIAN PARA GAMES

Citi Indonesia (Citibank) mendukung  penyelenggaraan Indonesia 2018 Asian Para Games sebagai Official Sponsor, yang akan berlangsung di Jakarta pada tanggal…

Pertemuan IMF-World Bank Beri Dampak 0,64% ke Ekonomi Bali

    NERACA   Jakarta - Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan Pertemuan Tahunan IMF-WB dapat memberikan dampak…

Wakil Ketua MPR RI - Bangun Indonesia dari Kampung Halaman

Oesman Sapta Wakil Ketua MPR RI Bangun Indonesia dari Kampung Halaman Jakarta - Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta mengingatkan…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

PERUBAHAN ASUMSI MAKRO EKONOMI RAPBN 2019 - Pemerintah & DPR Sepakat Kurs Rp 14.500 per US$

Jakarta-Pemerintah dan Badan Anggaran (Banggar) DPR akhirnya sepakat untuk mengubah kembali asumsi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi Rp14.500 dari…

Rupiah Belum Stabil, Utang Luar Negeri Naik 4,8%

  NERACA Jakarta - Bank Indonesia (BI) menyebutkan utang luar negeri Indonesia mencapai US$358 miliar atau setara Rp5.191 triliun (kurs…

MESKI EKSPOR TUMBUH, LAJU IMPOR LEBIH DERAS - BPS: NPI Masih Defisit di Agustus 2018

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data neraca perdagangan Indonesia (NPI) sepanjang Agustus 2018 mengalami defisit sebesar US$1,02 miliar, menurun sedikit…