Apa Kabar Diversifikasi Ekspor?

Oleh: Cundoko Aprilianto

Wartawan Harian Ekonomi NERACA

Indonesia telah mulai merasakan sengatan krisis ekonomi di Eropa dan Amerika Serikat (AS) yang berdampak pada penurunan kinerja ekspor. Akibatnya, negara ini diramalkan banyak pihak, termasuk pemerintah, tidak akan mencapai pertumbuhan seperti yang diharapkan. Dulu, ekonomi Indonesia tahun ini diramalkan tumbuh sebesar 6,7%. Namun kemudian direvisi menjadi 6,5%. Tak lama kemudian, Menko Perekonomian Hatta Rajasa merasa pesimistis dengan angka tersebut dan menilai pertumbuhan hanya akan sebesar 6,4%.

Nah, Senin lalu, Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia paling banyak hanya sebesar 6,3% tahun ini. Ini diamini oleh Staf Khusus Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi 6,4% sulit untuk dicapai karena di tengah perlambatan ekonomi global, penyerapan anggaran pemerintah pun tak kunjung membaik. Purbaya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini kemungkinan hanya bisa di level 6,3%. Dikatakannya, perlambatan ekonomi global secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Ini artinya, kinerja ekspor Indonesia mulai menurun akibat perlambatan global tersebut. Yang menjadi pertanyaan, bukankah Indonesia sejak dulu bercita-cita untuk menembus pasar non tradisional? Sering kita dengar niat pemerintah untuk meningkatkan ekspor ke pasar Asia Pasifik, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin. Tapi ternyata hasilnya tidak begitu menggembirakan. Mengapa? Karena meskipun secara persentase terjadi peningkatan yang sangat signifikan, namun volumenya masih terlalu kecil untuk bisa mengompensasi pasar tradisional.

Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan, pada Januari-Juli 2012 dibandingkan periode yang sama 2011, negara-negara non tradisional yang mengalami peningkatan ekspor non migas antara lain Djibouti sebesar 65,6%, Oman 43,86%, Kenya 25,14%, Pakistan 83,51%, Afrika Selatan 15,36% dan Arab Saudi 37,47%. Angka-angkanya memang fenomenal. Seperti ekspor ke Pantai Gading yang meningkat 391,6% namun nilainya hanya US$ 71,97 juta, naik dari US$ 14,64 juta. Bandingkan dengan ke AS sebesar US$ 1,28 miliar atau ke Jepang (US$1,53 miliar).

Nah, meski pasar Afrika Selatan merupakan pasar yang potensial, banyak negara yang telah masuk seperti Rusia yang bekerja sama jauh sebelum Indonesia.

Pemerintah memperkirakan tahun ini pertumbuhan pasar ekspor non tradisional naik rata-rata 65%. Namun, mencari pasar baru sebaiknya tidak pada saat krisis, namun harus jauh sebelum itu. Indonesia bisa dibilang telat menyadari itu karena masih terbuai dengan besarnya pasar-pasar tradisional.

Mengingat krisis Eropa dan AS sudah berlangsung sejak 2008, mengapa pemerintah tidak gencar melakukan diversifikasi ekpor ke pasar non tradisional? Padahal saat itu, kinerja ekonomi Indonesia disebut-sebut menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia.

BERITA TERKAIT

Otomotif - Kemenperin Optimistis Ekspor Mobil Tembus 1 Juta Unit Tahun 2025

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian optimistis jumlah ekspor mobil produksi Indonesia akan mencapai 1 juta unit pada tahun 2025. Agar…

PERTUMBUHAN EKSPOR EMAS

Pedagang menata perhiasan emas yang dijual di Depok, Jawa Barat, Kamis (18/7/2019). BPS mencatat ekspor perhiasan dan permata produksi dalam…

Niaga Internasional - Pemerintah Diminta Lobi China Guna Tingkatkan Ekspor Nasional

NERACA Jakarta – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Inas Nasrullah Zubir menginginkan Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dapat melobi pemerintah…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Industri Kerakyatan di Era Digitalisasi

Oleh : Agus Yuliawan Pemerhati Ekonomi Syariah Indonesia kini telah memasuki era industri 4.0., tentu sebagai konsekuensinya adalah Indonesia masuk…

Tantangan Dihadapi Masih Besar

  Oleh: Tauhid Ahmad Direktur Eksekutif INDEF Indef telah melakukan penelitan-penelitian termasuk dampak perang dagang. Perhitungan indef terhadap dampak perang…

Manajemen Risiko Utang dan Investasi

    Oleh: Ambara Purusottama School of Business and Economic Universitas Prasetiya Mulya   Utang yang terus menumpuk pada pemerintahan…