Batas Psikologis Nilai Tukar Rp

Di tengah kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) yang masih mengalami defisit, sebagai dampak melebarnya defisit transaksi berjalan akibat pelemahan permintaan global dan penurunan harga komoditas ekspor belakangan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kemarin (7/11) merosot menjadi Rp 9.620.

Nilai kurs rupiah tersebut merupakan level terendah sejak September 2009, dimana rupiah sempat menyentuh Rp 9.570 yang kemudian terus menguat hingga pernah mencapai Rp 8.466 per US$ pada Agustus 2011. Sejak saat itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus berfluktuasi melemah hingga melewati batas psikologis Rp 9.600 per US$.

Meski transaksi modal dan finansial mencatat kenaikan surplus yang signifikan beberapa bulan lalu, namun jumlahnya belum cukup untuk menutupi defisit transaksi berjalan sehingga tetap menimbulkan tekanan depresiatif terhadap nilai tukar rupiah. Sementara itu, jumlah cadangan devisa pada akhir triwulan II/ 2012 menurut data BI tercatat US$106,5 miliar, atau setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Nilai tukar rupiah memang sejak triwulan II/ 2012 terus mengalami tekanan depresiasi, namun dengan volatilitas yang terjaga didukung oleh kebijakan stabilisasi yang ditempuh Bank Indonesia. Rupiah secara point-to-point melemah sebesar 2,65% ke level Rp9.393 per dolar AS. Kondisi ini secara umum masih sejalan dengan pelemahan nilai tukar di kawasan Asia lainnya. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah dipicu baik dari sisi eksternal maupun domestik.

Bagaimanapun, perubahan perilaku kurs rupiah terhadap dolar AS banyak dipengaruhi oleh beberapa komponen, diantaranya faktor agregat makroekonomi dan non fundamental seperti faktor risiko suatu negara (country risk) dan faktor kondisi stabilitas politik yang terjadi belakangan ini.

Tingkat suku bunga dalam penentuan nilai kurs juga sangat mempengaruhi karena apabila tingkat suku bunga yang berlaku di suatu negara menarik, tentu akan membuat masyarakat cenderung untuk berinvestasi sehingga menaikkan kekuatan nilai mata uang tersebut terhadap valuta asing. Indeks harga konsumen juga dapat mempengaruhi perubahan pergerakan nilai kurs karena mewakili nilai daya beli yang terjadi di suatu negara tersebut.

Tinggal pertanyaannya kemudian adalah, apakah faktor agregat makroekonomi yang diwakili oleh perbedaan jumlah uang beredar antara Indonesia dengan AS, perbedaan produk domestik bruto, perbedaan tingkat suku bunga, dan perbedaan indeks harga konsumen antara kedua negara, mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap nilai tukar di dalam negeri selama Bank Indonesia (BI) masih menerapkan sistem nilai tukar mengambang bebas (free floating exchange rate system)?

Apa saja yang menjadi penyebab masing-masing variabel tersebut berpengaruh terhadap perubahan perilaku kurs Rupiah (IDR) terhadap Dollar Amerika (USD) selama sistem kurs mengambang bebas (free floating exchange rate system).

Sebab, depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menjadi sangat besar pada awal penerapan sistem tersebut hingga saat ini. Hal ini dikhawatirkan dapat meningkatkan derajat ketidakpastian pada aktivitas bisnis dan ekonomi di Indonesia. Waspadalah!

BERITA TERKAIT

Kinerja Penerimaan Pajak Triwulan I Dalam Batas Wajar

  NERACA   Jakarta - Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menilai kinerja penerimaan pajak dalam…

BPS: Nilai Ekspor Sumsel Turun 1,94 Persen Maret 2019

BPS: Nilai Ekspor Sumsel Turun 1,94 Persen Maret 2019 NERACA Palembang - Nilai ekspor Sumatera Selatan (Sumsel) pada Maret 2019…

LSI Denny JA : Raih 3,18 persen, Perindo Berpotensi Lolos Ambang Batas Parlemen

JAKARTA, Hasil hitung cepat Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menunjukkan Partai Perindo akan lolos ke parlemen atau parliamentary threshold…

BERITA LAINNYA DI EDITORIAL

Jaga Kondisi NPI

Data BPS mencatat neraca transaksi perdagangan Indonesia (NPI) pada akhir Desember 2018 defisit US$8 miliar lebih, kontras dengan periode akhir…

Pembangunan Infrastruktur

Presiden Jokowi mengingatkan, pembangunan infrastruktur yang berjalan lamban agar segera dilimpahkan ke Kementerian PUPR untuk penyelesaiannya. Ini menyiratkan kondisi infrastruktur…

Kaji Kembali Pemilu Serentak

Bila menyimak tahun 2014 pemilu legislatif dilakukan tiga bulan lebih awal dari pemilu presiden, berbeda dengan pemilu legislatif dan presiden…