Presiden Izinkan BTN Rights Issue - Garap Properti di Indonesia Timur

NERACA

Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 87 Tahun 2012 tertanggal 20 Oktober 2012, telah merestui pelepasan 40% saham PT Bank Tabungan Negara Tbk. Pelepasan ini bertujuan untuk meningkatkan kinerja, nilai tambah, serta meningkatkan peran masyarakat dalam kepemilikan perusahaan perseroan.

Seperti dikutip dari situs setkab.go.id, mekanisme penjualan saham dilakukan dengan cara menerbitkan saham baru melalui Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) berdasarkan ketentuan pasar modal, dan berdasarkan prinsip transparansi, kemandirian, akuntabilitas, pertanggungjawaban, kewajaran, dan harga terbaik dengan memperhatikan kondisi pasar.

Dalam PP No 87/2012 pasal 2 (1) disebutkan, bahwa penjualan saham sebagaimana dimaksud dilakukan dengan ketentuan kepemilikan saham negara menjadi paling sedikit 60% dari seluruh saham perseroan yang telah ditempatkan dan disetor penuh setelah penjualan saham.

Artinya, kepemilikan saham negara menjadi paling sedikit 60% itu sudah memperhitungkan pelaksanaan program Management Employee Stock Option Plan (MESOP). Adapun jumlah saham dan besarnya nilai saham yang akan diterbitkan dan dijual ditetapkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) untuk mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Hasil penjualan saham baru, menurut PP ini, disetor ke kas BTN. Sementara hasil HMETD yang menjadi bagian negara, dan disetorkan langsung ke rekening Kas Umum Negara. Saat ini, komposisi kepemilikan saham BTN adalah pemerintah 71,85%, dan masyarakat 28,15%. Selanjutnya, BTN akan melepas rights issue hingga 1.512.857.500 lembar saham, sehingga kepemilikan negara paling sedikit 60%, dan masyarakat paling banyak 40%.

Sementara itu, Direktur Utama BTN, Iqbal Latanro mengatakan, sebanyak 1,512 miliar lembar saham seri B dilepas dengan harga Rp1.235 per saham, sehingga diharapkan rights issue akan menghasilkan pemasukan sebesar Rp1,87 triliun.

Iqbal juga menuturkan, setiap pemegang 550 ribu saham BTN berhak atas satu lembar saham baru yang akan dikeluarkan perseroan. Sementara hak negara dalam melaksanakan seluruh HMETD sebanyak 1,09 lembar saham, akan dijual kepada BUMN wakil negara, yaitu PT Bahana Securities sebanyak 363,3 juta HMETD, PT Bahana Securitas 362,3 juta HMETD, dan PT Mandiri Sekuritas 362,3 juta HMETD.

Rights issue BTN sendiri telah efektif berjalan pasca RUPSLB kemarin. Sementara HMETD dapat diperdagangkan mulai 23 – 29 November 2012. “Pencatatan di bursa akan dilakukan pada 23 November, dan tanggal terakhir pelaksanaan HMETD pada 29 November,” kata Iqbal di Jakarta, Rabu.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Konsumer Bank BTN Irman A Zahiruddin mengungkapkan, fokus utama penyaluran kredit BTN masih untuk pembiayaan industri perumahan karena secara prospek bisnis properti masih akan berkembang dalam beberapa tahun mendatang.

"Potensi industri properti bagus sekali. Kita nantinya akan ekspansi ke Indonesia timur. Selain Makassar, juga Balikpapan karena saat ini bisnis perumahan sedang berkembang di sana," ujarnya.

Kinerja positif

Dari sisi penyaluran kredit, BTN mencatat pertumbuhan sebesar 29,1% yaitu dari Rp59,31 triliun pada 30 September 2011 menjadi Rp76,57 triliun pada 30 September 2012. Kredit perseroan pada 30 Desember 2011 tercatat Rp63,56 triliun.

BTN juga berhasil menjaga tingkat kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) pada posisi sehat, dengan posisi 30 September 2012 sebesar 2,51% yang lebih baik dari posisi sama tahun lalu sebesar 3,46%. NPL BTN per 31 Desember 2011 tercatat 2,23%.

Sedangkan kinerja perseroan triwulan III 2012 masih menunjukkan konsistensi pada pembiayaan industri perumahan dengan porsi 86,32% dari total kredit per 30 September 2012 sebesar Rp76,57 triliun. Sementara sisanya 13,68% untuk pembiayaan non perumahan.

Berdasarkan kinerja perseroan per 30 September 2012, BTN tercatat telah membukukan aset sebesar Rp98,76 triliun yang berarti tumbuh 29,86% dibandingkan periode sama pada 2011 sebesar Rp76,05 triliun. Pada 31 Desember 2011, aset BTN tercatat Rp89,12 triliun.

Laba bersih perseroan juga tumbuh 45,1% dari Rp704 miliar pada September 2011 menjadi Rp1,02 triliun pada periode yang sama tahun 2012. Laba bersih pada 31 Desember 2011 tercatat Rp1,12 triliun. [dias/kam]

BERITA TERKAIT

LIPI: Oligarki Parpol Perburuk Kualitas Demokrasi Indonesia

LIPI: Oligarki Parpol Perburuk Kualitas Demokrasi Indonesia NERACA Jakarta - Kepala Pusat Penelitian Politik pada Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)…

Wakil Presiden - Desentralisasi Akibatkan Korupsi Daerah Meningkat

Jusuf Kalla Wakil Presiden Desentralisasi Akibatkan Korupsi Daerah Meningkat Jakarta - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan penyebab meningkatkan kasus korupsi…

Catatan Positif Penegakan HAM di Indonesia

  Oleh : Muhammad Ridean, Pemerhati Sosial Kemasyarakatan   Pelanggaran HAM merupakan permasalahan serius di Indonesia, beberapa kasus bahkan harus…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Asosiasi Dukung Penindakan Fintech Ilegal

      NERACA   Jakarta - Asosiasi FinTech Indonesia (AFTECH) mendukung penindakan hukum terhadap aksi perusahaan teknologi finansial (tekfin)…

Bank Mandiri Targetkan Pertumbuhan Kredit 11,5%

  NERACA   Jakarta - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 11,5 persen pada 2019 lebih rendah…

Adira Insurance Berikan Penghargaan 23 Kota - Sistem Tata Kelola Keselamatan Jalan

      NERACA   Jakarta - Asuransi Adira menyelenggarakan Indonesia Road Safety Award (IRSA) sebagai upaya untuk menyadarkan pentingnya…