Kasus Pasar Modal Tidak Bisa Diselesaikan Sesuai Target - Jelang Masa Transisi OJK

NERACA

Jakarta – Menjelang transisi Bapepam-LK menjadi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan Bapepam LK terkait industri pasar modal. Hanya saja, penyelesaian masalah di industri pasar modal tidak menjamin selesai sebelum beralih ke OJK.

Hal tersebut diakui langsung Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) Ngalim Sawega yang menuturkan, kasus-kasu yang masih dalam proses penyelesaian tidak dijamin selesai sebelum beralih ke OJK tahun depan, “Semua kasus tetap kita periksa dan proses. Bahkan lebih dari 10 kasus kita selesaikan, tapi kita tidak menjamin sejumlah kasus selesai sebelum pindah ke OJK, seperti kasus Bakrie Life,”katanya di Jakarta, Rabu (7/11).

Menurutnya, kasus Bakrie Life masih menindaklanjuti apakah akan dibeli investor atau tidak dan sekarang masih ada pembahasan strategic dengan pihak Bakrie. "Jadi belum bisa dipastikan selesai akhir tahun," ucapnya.

Oleh karenanya dia mengatakan, dari sejumlah kasus memiliki penyelesaian yang berbeda sehingga sekarang menurutnya komite pengenaan sanksi masih melakukan rapat. Selain itu , dia juga memastikan 90% undang-undang di Bapepam LK nantinya tidak akan banyak berubah ketika nantinya beralih ke OJK, “Semua dokumen yang ada di Bapepam akan kita alihlan ke OJK termasuk peraturan-peraturan kita siapkan,"ungkapnya.

Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Nurhaida pernah bilang, beberapa kasus yang sedang ditangani Bapepam-LK tidak akan serta merta hilang dan dilupakan begitu saja ketika tugas lembaga pengawas pasar modal digantikan OJK, “Secara Undang Undang memang disebutkan bahwa kasus yang masih dalam proses rutin maupun yang belum selesai di Bapapam-LK nantinya akan beralih ke OJK,"tandasnya.

Dia menuturkan, fungsi tersebut nantinya akan sejalan dengan peran OJK untuk menjaga stabilitas perekonomian Indonesia, khususnya di dalam pasar modal. Selain itu, dirinya juga mengakui ada berbagai tantangan yang harus dihadapi lembaga pengawas keuangan tersebut, salah satunya yaitu tentang perlindungan konsumen.

Tercatat sampai dengan Juli masih ada sekitar 70 kasus pasar modal yang belum selesai, baik kasus yang berskala kecil maupun besar. Kemudian, diharapkan dalam perjalanan nanti OJK bisa meningkatkan perlindungan kepada konsumen dan investor di pasar modal menjadi lebih percaya. “Nilai tambah kehadiran OJK adalah soal perlindungan konsumen,”paparnya.

Meskipun dunia pasar modal sedang mengalami masa transisi pengawasan, Nurhaida memastikan tidak akan ada kekosongan hukum pada saat sekarang maupun saat peralihan OJK nanti. “Di pasar modal ke depan akan ada capital market deepening, peningkatan integritas pasar, serta peningkatan kualitas penegakan hukum, kebijakan ke depan pun akan disiapkan sesuai dengan kebijakan strategi yang dimaksud,”tegasnya. (bani)

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Industri Hijau Bisa Masuk Bagian Program Digitalisasi Ekonomi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus mendorong sektor industri manufaktur di Indonesia agar semakin meningkatkan kegiatan yang terkait…

Membaiknya Ekonomi, Penerimaan Pajak Hampir Capai Target

        NERACA   Jakarta - Lembaga riset perpajakan DDTC menilai bahwa penerimaan pajak pada 2018 yang hampir…

Pemkot Depok Buka Bursa Modal Bagi Koperasi

Pemkot Depok Buka Bursa Modal Bagi Koperasi NERACA Depok - Dinas Koperasi dan Usaha Mikro (DKUM) Kota Depok Jawa Barat…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…