Mendag : Kinerja Ekspor Terus Menurun Sampai Akhir Tahun - Dampak Krisis Global

NERACA

Jakarta - Menteri Perdagangan Gita Wirjawan memprediksi tren penurunan kinerja ekspor bakal terus berlangsung sampai akhir tahun. Gita memperkirakan penurunan akan lebih dalam secara keseluruhan tahun. "Sampai akhir tahun ini bisa terjadi penurunan ekspor 5-7% dibandingkan tahun lalu," ujarnya di Jakarta, Rabu (7/11).

Kementerian Perdagangan mengaku sudah bersiap dengan skenario seperti itu lantaran harga komoditas dunia mengalami penurunan selama semester kedua 2012. "Kita tahu selama ini bahwa 65 % ekspor kita terkait dengan komoditas, jadi dengan penurunan harga dampaknya (ekspor) juga turun," ungkap Gita.

Berdasarkan perkiraan tersebut, Gita juga bersiap bila porsi ekspor tahun ini hanya menyumbang di bawah 26% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Namun dia mengaku tidak khawatir lantaran bakal ada kompensasi dari sisi impor. Tingginya tingkat impor barang modal dan bahan penolong sebesar 20% selama Januari-September 2012, menandakan semakin banyak perusahaan berorientasi produk bernilai tambah yang beroperasi di Indonesia.

Situasi ini akan berpotensi mendorong konsumsi domestik terhadap sektor barang dan jasa, yang selama ini bergantung pada ekspor."Konsumsi domestik itu mencapai 55 % Produk Domestik Bruto, impor consumer goods hanya 0,6 % selama sembilan bulan terakhir, jadi sudah ada substitusi impor," paparnya.

Bagi Gita, semua pihak di Tanah Air harus bersabar melihat situasi perdagangan yang belum menggembirakan sampai tahun depan. Sebabnya karena situasi Eropa sama sekali tidak menampakkan perubahan positif. Hal itu berdampak pada melemahnya mitra dagang Indonesia yang berhubungan dengan negara zona Euro itu.

Namun Edy Putra Irawady, Deputi Menteri Koordinator Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, mengatakan diversifikasi pasar oleh pemerintah terus meningkat baik dari sisi jumlah negara maupun volume ekspornya.

Perluasan pasar non-tradisional diharapkan membuat ketergantungan perdagangan Indonesia terhadap pasar-pasar tradisional bisa berkurang. “Pertumbuhannya besar, tetapi nilainya masih kecil, karena pasar non-tradisional tersebut negaranya kecil-kecil dan pasar baru dijajaki,” kata Edy.

Selain perkembangan pasar ekspor non-tradisional, negara importir tujuan Indonesia juga mulai menyebar. Hingga akhir tahun negara-negara non-tradisional produk impor Indonesia diperkirakan akan meningkat 35%. Penambahan tujuan negara ekspor dan penyebaran negara impor sedikit menguntungkan karena harga barang impor cenderung turun, sehingga menahan anjloknya surplus neraca perdagangan tahun ini.

Dari segi produk, penambahan pasar non-tradisional juga menguntungkan karena negara-negara ini mendominasi produk ekspor jenis barang konsumsi dan hanya sedikit permesinan. Adapun produk impor yang banyak meningkat adalah produk bahan kimia.

Berdasarkan data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, hingga Juli 2012 negara-negara non-tradisional yang mengalami peningkatan ekspor antara lain, Djibouti sebesar 65,6%, Oman 43,86%, Kenya 25,14%, Pakistan 83,51%, Afrika Selatan 15,36% dan Saudi Arabia 37,47%.

Efek Global

Latif Adam, Peneliti Ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, mengatakan penurunan ekspor menunjukkan Indonesia sudah terkena efek pelemahan ekonomi global yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga kuartal II 2013. Pemerintah diminta mencegah penurunan ekspor agar tidak semakin dalam antara lain dengan pengembangan produk dalam negeri sehingga daya saingnya meningkat.

Diversifikasi juga menjadi langkah wajib untuk pengembangan ekspor. Pemerintah diminta memperhatikan beberapa hal yaitu ketepatan pengiriman, kualitas produk, dan harga. Selama ini tiga masalah tersebut menjadi kendala karena buruknya infrastruktur dan rendahnya konektivitas.

Latif mencontohkan pasar Afrika merupakan pasar potensial, namun banyak negara yang telah masuk seperti Rusia yang bekerja sama jauh sebelum Indonesia. “Mencari pasar baru atau non-tradisional jangan hanya saat krisis, tetapi seharusnya dilakukan jauh sebelum itu,” terangnya.

Enny Srihartati, Direktur Institute for Development of Economics and Finance, mengatakan volume perdagangan Indonesia memang akan terus meningkat, namun didominasi impor karena keterbukaan perdagangan. Sementara ekspor Indonesia masih akan tumbuh, meskipun lebih rendah karena negara tujuan ekspor mengalami pelemahan ekonomi.

Menurutnya, upaya meningkatkan ekspor dengan perluasan ke pasar non-tradisional merupakan langkah yang cukup efektif, meskipun dampaknya belum dirasakan tahun ini. Misalnya, pertemuan Selatan-Selatan oleh menteri perdagangan beberapa waktu lalu akan memberikan dampak besar pada ekspor Indonesia, kendati hasilnya baru dinikmati tahun depan.

BERITA TERKAIT

Pemkot Sukabumi Terus Berikan Perhatian Kepada Penyandang Disabilitas

Pemkot Sukabumi Terus Berikan Perhatian Kepada Penyandang Disabilitas NERACA Sukabumi - Walikota Sukabumi Achmad Fahmi mengakui jika fasilitas khusus untuk…

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Diversifikasi Pasar Ekspor untuk RI yang Sejahtera

  Oleh: Nurul Karuniawati, Peneliti Universitas Udayana               Setiap peluang perdagangan akan menentukan pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa. Karena itu,…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Produk Unggulan Indonesia Dipromosikan di Australia

NERACA Jakarta – Produk usaha kecil menengah (UKM) unggulan Indonesia dipromosikan di pasar Australia melalui kerja sama Smesco Indonesia dengan…

Niaga Daring - Infrastruktur Internet Cepat Topang Geliat Bisnis E-Commerce

NERACA Jakarta – Pemerintahan Presiden Joko Widodo selama empat tahun ini telah berhasil membangun internet cepat di seluruh Indonesia guna…

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…