DJSN Harmonisasi Nomor Identitas dengan Jaminan Sosial - Gandeng Tiga Kementerian

NERACA

Jakarta - Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) mengatakan telah membentuk kelompok kerja (pokja) dengan kementerian koordinator kesejahteraan rakyat (kemenkokesra), kementerian kesehatan (kemenkes), dan kementerian tenaga kerja (kemenaker). Anggota DJSN, Haris E. Santoso mengemukakan, pihaknya kini tengah berusaha membuat satu nomor identitas (single identity number) yang dapat dipakai sebagai nomor jaminan sosial (social security number).

“Identitas pribadi warga negara ini nantinya akan dibuat berdasarkan satu ketentuan, melalui digit yang disamakan. Teknologi informasinya saat ini sedang bekerja untuk mensinkronkan antara single identity number oleh Kemendagri, dengan tujuan social security,” jelas Haris di Jakarta, Selasa (6/11).

Dia juga mengaku kalau social security number tersebut memang sedang dibentuk. Saat ini, lanjut Haris, sedang di tata by name, address, dan profession. Contohnya seperti self employment. Karena tidak memiliki pendapatan maka mereka harus membayar sendiri sehingga iurannya dalam bentuk nominal. Sedangkan kalau bekerja di perusahaan, iurannya dalam bentuk persentase. Inilah yang wajib dibedakan.

Nomor jaminan sosial ini, kata Haris, tidak bisa disamakan dengan e-KTP, karena data di KTP tidak mencantumkan apakah seseorang itu kaya atau miskin.Sehingga data di KTP itu harus digabungkan salah satunya dengan data akta kelahiran dari kantor pencatatan sipil.

“Padahal dalam BPJS nanti akan ada yang namanya Penerima Bantuan Iuran (PBI). Maka itu harus digabungkan. Tidak hanya KTP, tapi misalnya data akta kelahiran dari catatan sipil. Ini memang tidak sesederhana yang kita perkirakan dan masih butuh waktu proses,” paparnya. Selain persoalan harmonisasi nomor identitas, Haris juga menerangkan tantangan yang lain dalam penerapan BPJS, khususnya bidang kesehatan.

Yaitu sosialisasi kepada masyarakat tentang BPJS, fasilitas kesehatan, dan tata cara pembayaran iuran. “Sosialisasi masih menjadi persoalan karena kita tahu pengetahuan masyarakat tentang jaminan sosial masih sangat rendah. Misalnya, dulu kita kenal Keluarga Berencana (KB) sebagai gerakan nasional. Nah, jaminan sosial juga harus menjadi gerakan nasional, supaya semua lapisan masyarakat tahu hak dan kewajiban,” ulas Haris.

Terkait fasilitas kesehatan, Haris mengatakan bahwa masih sedikitnya jumlah dokter di Indonesia, apalagi distribusi praktiknya tidak merata di seluruh propinsi. “Itu yang harus kita tata juga, jangan sampai ada satu propinsi yang tidak ada (ahli) anestesinya. Kalau dalam satu propinsi, (ahli) anestesinya cuma satu, dan dia sakit, bagaimana dia bisa operasi?” jelasnya.

Penghimpunan iuran, tutur dia, juga harus memperhatikan pendapatan dari orang yang ditarik preminya tersebut. “Misal petani cengkeh, kan mereka kaya, tapi tidak panen setiap bulan, jadi bagaimana cara membayarnya? Iuran kan berdasarkan pendapatan, misalnya nelayan yang miskin dibayar pemerintah, yang kaya bayar sendiri. Jadi untuk menghimpun iuran bukan hal yang mudah,” tutur dia.

Untuk tarif iuran BPJS sendiri, menurut Haris, hal itu sudah ditentukan yakni sebesar Rp22.200. Namun ini masih dalam proses berkelanjutan di DPR untuk memastikan besarannya. “Di DJSN saya juga sebagai (anggota) Tim Tarif. Dan jumlah itu adalah hasil kesepakatan dari semua pihak, juga berdasarkan pengalaman tarif yang saat ini ada, kemudian juga dari studi yang sudah dilakukan Jamkesmas, Askes, dan Jamsostek. Nanti keputusannya tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Jaminan Kesehatan. Tapi arah (iurannya) kelihatannya sebesar itu,” pungkasnya. [ria]

BERITA TERKAIT

Berikan Pengalaman Pasar Modal - IPB Gandeng BEI Bangun Mini Bursa

NERACA Jakarta – Pacu pertumbuhan investor pasar modal, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB,…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Pentingnya Inklusivitas Sosial untuk Pertumbuhan Berkualitas

    NERACA   Jakarta - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan, inklusivitas sosial atau memastikan seluruh warga mendapatkan…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

BCA Pastikan Akuisisi Bank Royal

    NERACA   Jakarta - PT Bank Central Asia Tbk memastikan telah memulai proses akuisisi seluruh saham PT. Bank…

Allianz Luncurkan Perlindungan Kesehatan Tambahan

    NERACA   Jakarta - PT Asuransi Allianz Life Indonesia melalui Allianz Health & Corporate Solutions (AHCS), memperkenalkan manfaat…

Pemerintah Tetapkan Penjualan SBR006 Sebesar Rp2,2 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR006 sebesar Rp2,2 triliun yang…