Mediatama Binakreasi Targetkan Penjualan Furniture Rp 25 Miliar

NERACA

Jakarta - Presiden Direktur PT Mediatama Binakreasi, Bramantyo, mengungkapkan penjualan furniture dalam negeri mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Karena itu, pihaknya menargetkan pendapatan furniture dalam negeri mencapai Rp25 miliar.

Lebih jauh lagi Bramantyo memaparkan target pendapatan tersebut bukannya ersebut berdasarkan keberhasilan pameran serupa yang digelar pada 2011. Saat itu, nilai transaksi yang dihasilkan mencapai Rp20 miliar. "Target kami, nilai transaksi meningkat sampai 20 %," ujar dia.

Bramantyo menambahkan, industri furnitur di Indonesia saat ini sedang berkembang pesat dan memberikan dampak positif pada perekonomian. Kondisi itu seiring dengan berkembangnya industri properti di Indonesia. "Furniturnya berasal dari kekayaan alam Indonesia, seperti kayu damar, rotan, mahoni, jati, bambu, rotan, dan berbagai bahan unggul dari dalam negeri," ujarnya.

Bramantyo berharap, pameran yang sudah digelar keduabelas kalinya ini akan semakin mempromosikan produk furnitur Indonesia.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Mebel dan Kerajinan Rotan Indonesia (AMKRI), Soenoto mengungkapkan Dalam dua tahun, nilai ekspor furnitur Indonesia ditargetkan mencapai US$ 2 miliar. "Sekarang nilai ekspor baru US$ 1,6 miliar,” tambahnya.

Menurut Soenoto, saat ini industri mebel Indonesia masih kalah dengan Cina dan Vietnam. Bila target sebesar US$ 2 miliar itu tercapai, Soenoto percaya Indonesia akan menyalip posisi Vietnam. Hal itu dimungkinkan karena saat ini Indonesia telah berhenti mengekspor rotan sebagai bahan baku furnitur. Padahal, 90% rotan dunia berasal dari Indonesia. "Cina saja sekarang sudah kelabakan karena tidak dapat rotan," kata Soenoto.

Perkembangan industri furnitur, menurut Soenoto, sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi kerakyatan. Ia menyebutkan, 90 % produk furnitur di Indonesia dihasilkan oleh industri kecil yang banyak menyerap tenaga kerja. "Kasarnya, ekspor US$ 1 miliar akan menyerap 1,2 juta tenaga kerja," ujarnya.

Upaya yang dapat dilakukan pengusaha saat ini adalah rajin mengikuti berbagai ajang pameran untuk berpromosi, termasuk di Trade Ekspor Indonesia. Di ajang yang diikuti sekitar 1.300 eksportir itu, furnitur Indonesia tampaknya berhasil menarik perhatian pengunjung, salah satunya Menteri Perdagangan dan Perindustrian Liberia Miata Beysolow. "Bagus sekali. Di masa depan, kami mungkin akan menjajaki kerja sama dengan para pengusaha terampil ini," ujarnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Argo Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi menilai bahwa saat ini pemerintah terus melakukan pengembangan industri furnitur nasional. Dengan banyaknya bahan baku yang ada di dalam negeri, pemerintah mengharapkan produk yang dihasilkan bernilai tambah, berdaya saing global dan berwawasan lingkungan.

Daya saing furnitur Indonesia didukung sumber bahan baku alami yang melimpah dan berkelanjutan, serta keragaman corak desain yang berciri khas lokal.”Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya hutan,” ujarnya.

Benny menambahkan Indonesia memiliki hutan tropis seluas 133,84 juta hektar yang dapat menghasilkan bahan baku yang tumbuh lebih cepat. Selain itu, jatah produksi rotan lestari secara nasional tahun 2012 sebesar 143.120 ton. “Indonesia merupakan penghasil bahan baku rotan dunia sekitar 85%,” katanya.

Perdagangan furniture dunia secara konsisten berkontribusi sebesar 1% dari total perdagangan manufaktur dunia. Pada 2009 perdagangan furniture dunia mencatat sebesar USD 96 miliar dan naik menjadi USD 107 miliar di 2010. Tahun 2011 naik sebesar 6%. Pada tahun ini diharapkan perdagangan furnitur naik 2%.

Tingkatkan Kualitas

Namun demikian, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono memandang bahwa tidak lama lagi, merek furniture ternama asal Swedia, IKEA akan ikut meramaikan persaingan pasar furniture di Tanah Air. “Para pengusaha furnitur lokal harus merasa tertantang dengan meningkatkan kualitas dan menggarap pasar lokal dan internasional lebih intens lagi,” tuturnya. Pasalnya menurut dia, selama ini kalangan industri furnitur di Indonesia terlalu asyik menggarap dan berekspansi di pasar ekspor. Alhasil, pasar lokal tak digarap secara optimal.

Menurutnya, ketidaksiapan pengusaha dalam negeri ditandai dengan respon “gelagapan” begitu mendengar kabar bakal adanya serbuan pemain furnitur dari luar negeri. Dijelaskan Ambar,, mau tak mau, pengusaha furnitur lokal harus lebih serius menggarap pasar lokal. Sebab, kondisi pasar di Amerika Serikat (AS) dan Eropa sedang jatuh. Jika tak menggarap pasar lokal, pebisnis furnitur lokal bisa surut.

Ambar juga memprediksi penjualan ekspor tahun ini akan ikut merosot 10%. Sebaliknya, penjualan dalam negeri justru berpotensi meningkat 10%, seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kondisi seperti inilah, kata dia, yang menjadi daya tarik peritel furnitur asing. Menurut Ambar, selain IKEA, pasar furnitur Indonesia sudah lebih dulu digempur furnitur asal China. Menurut dia, sulit membendung serbuan furnitur luar negeri di tengah era pasar bebas seperti saat ini.

Ambar menjelaskan, kehadiran IKEA akan menjadi pesaing berat bagi para pemain lokal yang menggarap segmen menengah ke bawah. “IKEA akan bertempur dengan Olympics dan Ligna,” ujarnya lagi. Ditambahkan, IKEA selain akan menggarap pasar Indonesia, juga akan berencana membuka pabrik di Indonesia dan Vietnam.

BERITA TERKAIT

Momentum Lebaran Kerek Penjualan Mega Perintis

NERACA Jakarta – Berkah momentum Ramadhan dan Lebaran kemarin, menjadi keyakinan bagi PT Mega Perintis Tbk (ZONE) bahwa penjualan perseroan…

BPS:MEMBAIKNYA NERACA PERDAGANGAN SINYAL POSITIF - NPI Surplus US$0,21 Miliar pada Mei 2019

Jakarta-Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia (NPI) pada Mei 2019 mengalami surplus US$0,21 miliar, membaik jika dibandingkan posisi…

Patok Harga Rp 221 Saham - GOLD Raup Rights Issue Rp 212,715 Miliar

NERACA Jakarta - Perusahaan penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi, PT Visi Telekomunikasi Infrastruktur Tbk (GOLD) menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Perdagangan Domestik - Persaingan Ketat Disebut Sebab Penutupan Gerai Ritel Modern

NERACA Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menilai penutupan beberapa gerai ritel modern Giant, yang dimiliki oleh PT…

INDEF Nilai Penurunan Harga Avtur Solusi Sesaat

NERACA Jakarta – Peneliti dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Nailul Huda menilai permintaan pemerintah kepada Pertamina…

Penyelesaian RCEP Bantu ASEAN Kelola Ketegangan Perdagangan

NERACA Jakarta – Proses negosiasi perundingan Kerja Sama Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) pada 10 negara anggota Association…