Penyerapan Belanja Modal Hanya 36,8%

NERACA

Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Radjasa kecewa dengan penyerapan belanja modal pemerintah yang hingga September 2012 hanya 36,8% atau Rp62 triliun dari pagu Rp168,7 triliun dalam Anggaran Pemerintah dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2012.

"Saya terus terang tidak happy dengan belanja pemerintah. Seharusnya tidak ada kontraksi di situ. Tapi saya bersyukur, konsumsi dan investasi masih positif," katanya di Kantor Kementerian Perekonomian, Selasa (6/11).

Hatta belum dapat menjawab secara jelas mengapa belanja pemerintah terkontraksi pada triwulan ketiga. "Harus diperiksa apakah masih ada yang dibintangi," tuturnya. Dia juga mengakui adanya kelemahan dalam belanja pemerintah tersebut sejak dari perencanaan hingga pada pelaksanaannya.

Sekadar diketahui, realisasi belanja barang hingga akhir September mencapai Rp73,2 triliun atau 39,3% dari alokasi sebesar Rp186,6 triliun. Pada periode yang sama tahun lalu, realisasinya tercatat Rp61,1 triliun atau 42,8% dari pagu sebesar Rp124,6 triliun. Sedangkan pendapatan negara tercatat mencapai Rp898,1 triliun atau 66,1% dari target APBN-P 2012 sebesar Rp1.358,2 triliun.

Proses Tidak Matang

Menurut Hatta, berbagai kendala menghadang proses penyerapan anggaran. "Kadang-kadang perencanaannya tidak matang. Juga proses tendernya sering bertele-tele. Pencairannya juga bisa terlambat," lanjutnya. Oleh karena itu, Hatta memilih bersikap realistis untuk tidak lagi mengharapkan ekonomi Indonesia bisa mencapai pertumbuhan 6,5% tahun ini.

Menurut dia, realisasi belanja modal pemerintah per September 2012 seharusnya memberikan sumbangan yang positif bagi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Pada kuartal III-2012, pertumbuhan ekonomi berada pada angka 6,17%, lebih rendah dari harap pemerintah 6,3%. "Saya berharap angkanya 6,3%. Saya berpikir tadinya kuartal ketiga ini dari sektor belanja pemerintah masih tetap positif," imbuhnya.

Incaran Investor

Kendati demikian, Hatta bersyukur sektor konsumsi dan investasi masih positif di tengah kondisi global yang melemah. Dia menilai Indonesia masih menjadi negara incaran para investor untuk berinvestasi. Oleh sebab itu, masyarakat harus menjaga keamanan dan kenyamanan. "Indonesia sekarang betul-betul menjadi darling-nya (kesayangan) investor. Kita ingin pertumbuhan lebih baik lagi. Saya bersyukur sektor konsumsi dan investasi masih kuat," ujarnya.

Dia juga mengatakan, Indonesia tidak dapat mencapai investasi yang lebih baik apabila tidak didukung oleh iklim investasi itu sendiri, salah satunya masalah perburuhan. "Oleh sebab itu, saya betul-betul meminta dan selalu memfasilitasi agar kawan-kawan dari serikat pekerja tidak selalu mengambil keputusan sendiri. Mari kita berunding," harapnya.

Investasi memang masih menjadi andalan dalam menggenjot pertumbuhan ekonomi, tetapi tidak menjamin akan diiringi dengan penyerapan tenaga kerja lokal yang baik. Meski perekonomian Indonesia mampu tumbuh di atas 6% namun tingkat pengangguran masih tinggi.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan, minimnya penyerapan tenaga kerja lokal disebabkan rendahnya kompetensi sumber daya manusia (SDM). Investor lebih banyak memilih menggunakan tenaga kerja asing untuk kegiatan operasionalnya. "Perlu dilihat lagi tenaga kerja yang diciptakan. Biasanya memang jumlah tenaga kerja terhadap investasi mungkin menjadi lebih kecil," ujarnya

Kontribusi sektor industri saat ini menjadi lahan yang menjanjikan bagi para tenaga kerja karena dapat memberi pengalaman. Sektor industri dapat bergairah karena adanya investasi yang melimpah. "Produktivitas itu bukan saja nilai lebih kepada barang modal tapi juga tenaga kerja," tuturnya.

Mahendra mengimbau persoalan tenaga kerja tidak hanya dilihat dari segi kuantitas saja tetapi juga dari sisi kualitas. "Bukan hanya jumlah, tapi skill. Sumber daya manusia juga dilihat dari segi kualitas," jelasnya. (novi)

BERITA TERKAIT

Penguasaan Oleh Korporasi Besar Jadi Kendala Penyerapan Jagung - Sektor Primer

NERACA Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memaparkan stok jagung yang sudah dikuasai perusahaan-perusahaan besar menjadi salah satu…

Laporan Belanja Pajak, Langkah Maju "Good Governance"

Oleh: Andi Zulfikar, Staf KPP Pratama Bantaeng Ditjen Pajak *)             Sebuah langkah maju dilakukan pemerintah dengan menerbitkan Laporan Belanja…

Mengawal Kualitas Belanja K/L

Oleh: Aprijon, Kepala Bidang PPA I Kanwil DJPb Jambi *) Kinerja Pelaksanaan Anggaran belakangan ini menjadi sebuah “berita seksi” yang ramai…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Jagung Datang Peternak Ayam Merasa Senang

  NERACA   Malang - Peternak ayam mandiri di Wilayah Malang, Jawa Timur merasa senang dan berterima kasih atas bantuan…

Program B20 Mampu Tekan Impor Solar 4.000 kl/hari

      NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya…

Pasokan Pangan jadi Kunci Keberhasilan Jaga Inflasi

    NERACA   Jakarta - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) terus melakukan upaya-upaya menjaga angka inflasi agar sesuai target.…