Kinerja Keuangan Membaik, Investor Buru Saham Syariah

NERACA

Jakarta -PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menyatakan bahwa saham syariah saat ini menjukkah perkembangan yang cukup baik. Hal tersebut ditujukkan dari masih besarnya minat investor terhadap saham syariah yang diperdagangkan di BEI, “Investor memiliki minat yang tinggi terhadap saham syariah, hal itu dibuktikan dari saham syariah yang diperdagangkan mencapai lebih dari 50% dari total saham yang ada.” kata Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, di Jakarta, Senin (5/11).

Menurut Ito, perkembangan saham syariah tersebut memiliki pengaruh yang sangat baik bagi investor dan pasar modal. Untuk terjadinya peningkatan, lanjut Ito hal itu akan dipengaruhi oleh kinerja emiten.

Dia menilai, kinerja keuangan yang cukup baik di kuartal ketiga 2012 dari beberapa emiten yang mencatatkan sahamnya di bursa juga mepu meningkatkan likuiditas pasar modal. “Likuiditas pasar modal saat ini lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya, hal itu dipengaruhi oleh kinerja para emiten yang ditunjukkan melalui laporan keuangannya pada kuartal ketiga ini.” jelasnya.

Pengamat ekonomi UI Lana Soelistianingsih sebelumnya mengatakan, minimnya ketertarikan investor terhadap pasar modal syariah disebabkan karena return-nya rendah sehingga mudah berubah. “Syariah lebih stabil itu benar. Tapi investor lokal maupun asing lebih suka konvensional karena menghasilkan return tinggi. Ini membuat jadi volatile.” Jelasnya.

Selain itu, lanjut dia saham tersebut berkapitalisasi pasar besar. Khusus investor lokal, mereka menyukai saham berisiko atau kapitalisasi kecil dengan alasannya yang sama, yaitu volatile. Saat ini perkembangan perbankan syariah di Indonesia asetnya tumbuh tidak banyak. Padahal, sudah keluar fatwa MUI yang mengharuskan nasabah menabung di bank syariah dan menetapkan kalau bunga atau riba itu haram.

Namun apa daya, faktanya hal itu tidak membantu pertumbuhan industri keuangan syariah. Karena itu, lanjut dia, pemerintah harusnya memberikan insentif. Misalnya, bagi nasabah yang menabung di bank syariah bebas pajak. Tapi dikenakan zakat. Lalu, permodalan bank syariah juga harus diperbesar. “Ini supaya bisa lebih ekspansif dalam menyalurkan kredit, sehingga jelas perannya,” ujarnya.

Wakil Menteri Kementrian Keuangan Ani Ratnawati juga pernah mengatakan, minimnya ketertarikan investor untuk berinvestasi di saham syariah terutama sukuk disebabkan oleh masih minimnya variasi produk dan keterbatasan informasi mengenai prinsip-prinsip saham syariah.

Dia menilai, perlu edukasi secara insentif dan tidak instan untuk mendorong agar perkembangan indeks lebih bagus. “Tapi perkembangannya ini karena orang lebih terbiasa di konvensional dibanding syariah. Ini butuh waktu untuk mengedukasi ke masyarakatnya. Tidak hanya masyarakat saja tapi juga ke pelaku pasar, baik itu konsumer dan penjual,” paparnya. (lia)

BERITA TERKAIT

Kinerja Bank Jatim Naik Didorong Inovasi

    NERACA   Surabaya - PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur Tbk atau Bank Jatim menyebutkan peningkatan kinerja keuangan…

Kinerja Memburuk, Dua Komisaris Minta RUPS Ganti Dirut Garuda

NERACA   Jakarta - Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, rencananya akan digelar akhir bulan ini,…

Pemerintah Harusnya Turun Tangan Bikin Bank Syariah

  NERACA   Jakarta – Indonesia yang merupakan penduduk muslim terbesar di dunia mestinya menjadi kiblat ekonomi syariah dunia. Nyatanya…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Astrindo Raih Pendapatan US$ 27,16 Juta

NERACA Jakarta – Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) membukukan pendapatan sebesar US$27,16 juta atau melesat…

Optimalkan Tiga Lini Bisnis Baru - Mitra Investindo Siapkan Capex US$ 3 Juta

NERACA Jakarta – Menjaga keberlangsungan usaha pasca bisnis utama terhenti pada akhir tahun lalu, PT Mitra Investindo Tbk (MITI) bakal…

Laba Betonjaya Melesat Tajam 144,59%

Di tahun 2018, PT Betonjaya Manunggal Tbk (BTON) mencatatkan laba tahun berjalan senilai Rp27,81 miliar atau naik 144,59% dibandingkan periode…