Perkecil File Transaksi, Industri Pasar Modal Sambut Baik Redenominasi

NERACA

Jakarta – Rencana pemerintah melakukan penyederhanaan pecahan mata uang (redenominasi) yang sempat vakum tahun lalu, menuai sikap positif dari pelaku pasar. Salah satunya, industri pasar modal yang bakal meningkat nilai transaksi

Menurut Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Ito Warsito, rencana pemerintah menyedehanakan satuan nilai rupiah atau redenominasi dapat mempercepat proses penyelesaian transaksi (settlement) perdagangan saham di BEI, “Penyelesaian 'settlement' bisa lebih cepat karena data transaksi setiap investor bisa menjadi lebih sederhana," katanya di Jakarta, kemarin.

Selain itu, redenominasi rupiah akan memperkecil jumlah digit angka dari setiap transaksi yang dilakukan investor. Dari sisi teknologi informasi, hal itu akan membuat kerja sistem menjadi lebih efisien dan cepat. Alasannya, transaksi yang dilakukan oleh investor asing juga dapat meningkat karena investor akan lebih mudah beradaptasi satuan nilai rupiah yang lebih sederhana.

Meskipun demikian, menurut Ito, BI dan pemerintah diharapkan dapat melakukan sosialisasi yang lebih luas kepada masyarakat. Aktivitas sosialiasasi tersebut harus dipersiapkan secara matang sehingga tidak menimbulkan kebingungan di masyarakat.

Sementara pengamat pasar modal Yanuar Rizky mengatakan, langkah BI untuk menerapkan kebijakan redenominasi rupiah diperkirakan bermanfaat secara jangka panjang pada investasi Indonesia, “Untuk industri pasar modal adaptasi secara sistem harus dilakukan secara baik karena kesalahan dalam menentukan parameter angka bisa berpotensi mengganggu sistem perdagangan secara keseluruhan,”ungkapnya.

Perlu Sosialisasi

Sebagai informasi, sebelumnya Bank Indonesia (BI) pernah menargetkan proses sosialisasi redenominasi akan dimulai 2011 dan uang lama akan habis ditarik pada 2016. Tapi kenyataannya hingga saat ini pun sosialisasi belum berjalan seperti yang direncanakan BI tersebut.

Menkeu Agus Martowardojo pernah bilang, sulitnya rencana redenominasi direalisasikan karena lokasi Indonesia yang sangat luas, dimana seluruh masyarakat harus mengetahui, memahami dan menggunakan dengan benar. Maka itu, dalam pembahasan yang masih berlangsung ini, poin sosialisasi menjadi sangat penting. “Kita harus ingat, Indonesia luas dan mata uang rupiah itu digunakan di seluruhnya. Jadi, perlu sosialisasi,” ujarnya.

Selain itu, menurut dia, rancangan undang-undang (RUU) redominasi tersebut juga memerlukan diskusi publik agar tidak ada kekhawatiran dari masyarakat. Dengan demikian, kebijakan redenominasi dapat dipahami hanya sebuah penyederhanaan dan bukan pemotongan nilai tukar. “Nah, ini harus disosialisasikan, sehingga jika rancangan ini diajukan tidak ada kekhawatiran,” jelasnya.

Agus menyatakan, ini merupakan konsekuensi dari negara maju dan masyarakat juga harus paham akan hal itu. “Urgensinya sebagai negara maju, kita memerlukan itu tapi jangan masyarakat salah mengerti itu dan ada kekhawatiran,” tambahnya

Sementara itu, pengamat pasar uang Farial Anwar menjelaskan rencana untuk redenominasi alias penyederhanaan mata uang rupiah perlu dilakukan saat ini juga. Pasalnya, rupiah saat ini dinilai seperti sampah karena masuk mata uang terburuk di dunia. "Redenominasi perlu dilakukan saat ini juga. Jangan lagi ditunda. Nanti berganti pemerintahan ya berganti lagi arah kebijakannya," tegasnya.

Pengalaman Negara Lain

Salah satu negara yang sukses melakukan redenominasi mata uangnya adalah Turki. Turki tercatat pernah sukses melakukan redenominasi dengan menghilangkan 6 angka nol pada mata uangnya. Jadi redenominasi yang dilakukan Turki adalah mengubah 1.000.000 lira menjadi 1 lira pada tahun 2005.

Namun redenominasi yang dilakukan Turki ini berbeda dengan yang akan dilakukan Indonesia. Kebijakan redenominasi ini dilakukan untuk menekan laju inflasi Turki yang sangat tinggi sejak tahun 1970-an. Inflasi yang tinggi ini menyebabkan nilai ekonomi di negara belahan Eropa tersebut mencapai hitungan triliun, bahkan kuadriliun.

Indonesia memang pernah mengalami hiperinflasi, namun tidak pernah melakukan redenominasi. Yang terjadi hanyalah nilai rupiah yang merosot tajam. Berikut daftar beberapa negara yang sukses melakukan redenominasi mata uangnya, Argentina, Turki, Brazil, Gana dan Zimbabwe dan Afganistan. (bani)

BERITA TERKAIT

Amazon Ikut Tanam Modal Teknologi Swakemudi

Perusahaan e-commerce raksasa Amerika Serikat (AS), Amazon, mengikuti tren teknologi global di bidang mobil otonom (swakemudi) dengan menanamkan investasi 530…

Industri Daur Ulang di Sektor Otomotif Terus Dipacu

Kementerian Perindustrian mendorong implementasi industri daur ulang atau recycle industry untuk sektor otomotif. Konsep tersebut dinilai mampu mendongkrak daya saing…

Ini Tantangan Baru Industri Pariwisata di Indonesia

Salah satu usaha mendatangkan 20 juta wisatawan mancanegara (wisman) pada tahun depan, Kementerian Pariwisata akan lebih fokus menggarap segmen pasar…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Laba Fajar Surya Wisesa Melesat 136,1%

Sepanjang tahun 2018 kemarin, PT Fajar Surya Wisesa Tbk (FASW) mencatatkan laba bersih sebesar Rp1,405 triliun atau naik 136,1% dibanding periode…

Lagi, Comforta Raih Top Brand Award

Di awal tahun 2019 ini, Comforta Spring Bed kembali meraih penghargaan Top Brand Award. Dalam siaran persnya di Jakarta, kemarin,…

BPD Bank Kalsel Rencanakan IPO di 2020

Bila tidak ada aral melintang, Bank Pembangunan Daerah (BPD) Kalimantan Selatan atau Bank Kalsel rencanakan melakukan penawaran umum saham perdana…