Investasi Emas Tetap Menjanjikan

NERACA

Jakarta - Pengamat pasar Ariston Tjendra mengatakan, investasi dalam bentuk emas masih cukup menjanjikan meski harga logam mulia masih berada dalam tren pelemahan (bearish). "Emas masih cukup baik untuk investasi jangka panjang, jadi tidak perlu terpengaruh terhadap fluktuasi harga harian yang cenderung mengalami tren bearish," ujar Ariston, yang juga Kepala Riset Monex Investindo Futures di Jakarta, Senin (5/11).

Menurut sejarah, lanjut dia, dalam jangka panjang harga emas selalu terus meningkat, minat investor terhadap logam mulia juga masih cukup besar untuk menjaga nilai aset. "Tapi tidak dipungkiri untuk jangka pendek harganya cukup volatile, investasi emas untuk jangka panjang bisa dilakukan sedikit demi sedikit," kata dia.

Terpantau, harga emas di Unit Bisnis Pengolahan dan Pemurnian (UBPP) Logam Mulia PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Senin kemarin di posisi Rp574.200. Sedangkan, harga emas batangan ukuran lima gram dan 10 gram masing-masing senilai Rp2,721 juta dan Rp5,402 juta. Harga buyback atau pembelian emas jika konsumen menjual kembali ke Antam senilai Rp505.000 per gram.

Sementara, harga emas global Senin menurun 40,00 poin menjadi US$1.674,10 per troy ounce atau tertekan 2,33% dibanding hari sebelumnya. Ariston menambahkan, emas bergerak tertekan turun ke bawah US$1.700 per troy ounce. Saat ini emas telah menghapus semua gain. Beberapa data ekonomi AS yang menguatkan dolar AS menekan harga emas global.

Dia juga mengatakan, investor emas tengah mengantisipasi apakah pelaksanaan quantitatif easing (QE) ketiga akan dipercepat atau tidak. "Jika QE dipercepat maka dolar AS beredar akan minim dan menguatkan mata uang itu, namun jika diperlambat maka emas mempunyai potensi menguat," kata Ariston.

Sebelumnya di Senin pagi, harga emas bergerak di level US$1.678 per troy ounce. Potensi rebound juga tidak bisa dihilangkan setelah emas terkoreksi cukup dalam. Harga emas bisa menyentuh ke area sekitar US$1.691-US$1.694 per troy ounce jika berhasil menembus area resisten terdekat di US$1.685.

Data yang menjadi sorotan adalah data jumlah pengangguran di Spanyol yang diperkirakan meningkat menjadi 90.300 dari sebelumnya 79.600 dan data PMI aktivitas sektor Jasa Amerika Serikat yang diproyeksikan bertumbuh 54,6%.

Kesimpulan hubungan sebab akibat yang berlangsung beberapa minggu terakhir, bagusnya data ekonomi AS akan mendorong penurunan harga emas dan sebaliknya. Sedangkan bagusnya data ekonomi di luar AS akan mendorong kenaikan harga emas dan sebaliknya. [ardi]

BERITA TERKAIT

Bisnis Apartemen di Depok Investasi Menjanjikan

Bisnis Apartemen di Depok Investasi Menjanjikan NERACA Depok - Pengembang apartemen Cimanggis City Mall menilai Kota Depok Jawa Barat merupakan…

Reksadana Pendapatan Tetap Tumbuh 2,80%

NERACA Jakarta – Performance kinerja rata-rata reksadana pendapatan tetap sepanjang bulan November kemarin masih positif. Berdasarkan data Infovesta Utama, kinerja…

Suport Bisnis Pembayaran Digital - DIVA Investasi 30% Saham di Pawoon

NERACA Jakarta– Pacu pertumbuhan bisnis di era digital, PT Distribusi Voucher Nusantara Tbk (DIVA), entitas anak PT Kresna Graha Investama…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

Pendapatan Premi Asuransi Jiwa Naik Tipis

      NERACA   Jakarta - Pendapatan premi industri asuransi jiwa hanya naik tipis sebesar 1,2 persen secara tahunan…

2019, CIMB Niaga Syariah Targetkan Pembiayaan Rp35 Triliun

    NERACA   Bogor – Bank CIMB Niaga Syariah menargetkan untuk bisa menyalurkan pembiayaan di 2019 mencapai Rp35 triliun.…

Bank Muamalat Dukung Silaknas ICMI

    NERACA   Jakarta - PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. ("Bank Muamalat") mendukung pelaksanaan Silaturahmi Kerja Nasional (Silaknas) Ikatan…