Sulit Capai Target Pertumbuhan 6,5% - PERLU PERLUAS EKSPOR KE AMERIKA LATIN

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) memprediksi target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sulit mencapai 6,5% di tengah melambatnya pertumbuhan global. Sementara kinerja kuartal keempat tahun ini diperkirakan tidak akan mampu menutup pelemahan kinerja selama tiga kuartal sebelumnya.

NERACA

Kepala BPS Suryamin mengatakan, melihat kinerja pertumbuhan ekonomi kumulatif sampai kuartal III/2012 yang 6,29%, sulit untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi 6,5%. “Mungkin kita hanya akan tumbuh pada kisaran 6,2-6,3%,” ujarnya, Senin (5/11). Bahkan dia menekankan, jangankan 6,5%, pertumbuhan 6,4% saja sudah sulit dicapai dalam kondisi sekarang ini.

Menanggapi kondisi tersebut, staf khusus Menko Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pertumbuhan ekonomi yang terakhir direvisi pemerintah menjadi 6,4% sulit untuk dicapai, akibat perlambatan ekonomi global, dan penyerapan anggaran pemerintah pun tak kunjung membaik.

“Melambatnya ekonomi global secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian Indonesia. Terlebih upaya penyerapan anggaran pemerintah juga tak kunjung membaik,” ujarnya kepada Neraca, kemarin.

Dengan demikian, Purbaya memprediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini kemungkinan hanya bisa di level 6,3% atau lebih rendah dari proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) sebesar 6,4%. “Meski kontribusi ekspor terhadap PDB kecil, perekonomian global yang saat ini sedang kurang bagus tetap memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Perlu kerja keras dari pemerintah agar target pertumbuhan ekonomi bisa tercapai, yaitu memperbaiki serapan anggaran,” ujarnya.

Menurut Purbaya, serapan anggaran yang maksimal akan memberikan dampak berupa percepatan pembangunan perekonomian, termasuk di dalamnya infrastruktur. “Kalau penyerapan anggarannya bagus maka akan memberikan stimulus terhadap pertumbuhan ekonomi. Sayangnya, saat ini penyerapan anggaran masih rendah sehingga target pertumbuhan akan sulit tercapai,” tuturnya.

Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto mengatakan, Indonesia masih dapat bertumbuh 6,3%, bila kinerja ekspor baik atau penggalakan konsumsi domestik bagus. Peningkatan ini dapat terjadi jika industri tetap berjalan, dan produksi dalam negeri dapat meningkat.

“Bisa saja ke 6,3%. Berbagai kemungkinan bisa terjadi, tapi ekonomi global parahnya kan cuma ada tiga yang positif, semua sudah negatif. Dengan PDB 6,2%, itu sudah sangat beruntung. Tetapi untuk mengejar 6,5% itu susah," katanya.

Menurut dia, melambatnya PDB kuartal III/2012 adalah akibat melemahnya ekspor. Menurut dia, ekspor yang menurun adalah tujuan China, Jepang, dan Amerika Serikat. "Dengan adanya (perlambatan) ekonomi global di Eropa, dampaknya kan sudah di emerging market. China yang biasanya tumbuh 10%, sekarang 7,4%. Kita juga melambat," kata dia.

Suhariyanto menambahkan, untuk mendorong pertumbuhan tersebut, pemerintah harus pintar mencari negara-negara tujuan ekspor utama. "Jadi, caranya kita harus menggalakkan konsumsi dalam negerinya dan cari ekspor ke negara-negara lain, misalnya ke Amerika Latin yang sudah menunjukkan gejala-gejala baik," tukasnya.

Belum Optimal

Menurut ekonom LIPI Latief Adam, penurunan pertumbuhan itu terjadi karena ekspor tumbuh lebih rendah daripada impor sementara konsumsi juga tidak sehebat kuartal-kuartal sebelumnya.

Selain itu, tambah Latif, belanja pemerintah pada kuartal ketiga masih belum optimal. “Biasanya kuartal ketiga tertolong oleh konsumsi dan investasi,” katanya.

Meski demikian, Latif memprediksi, pertumbuhan ekonomi kuartal keempat akan lebih tinggi dari kuartal ketiga. “Biasanya realisasi anggaran lebih banyak terakselerasi pada November-Desember. Bisa jadi government spending akan meningkat meskipun harus diakui tidak akan optimal karena saya yakin APBN tidak akan 100% terserap. Maksimal 92-93%,” ujarnya.

Selain itu, tambah dia, tingkat konsumsi pada kuartal keempat akan meningkat kembali karena ada momentum Natal dan Tahun Baru 2013.

Menurut Latif, pertumbuhan ekonomi 2012 akan pada kisaran 6,3-6,4%. Jika pemerintah menargetkan 6,4%, itu hanya bisa dicapai dengan bekerja ekstra keras. “Bisa mencapai target dengan beberapa catatan. Kunci keberhasilan untuk mencapai target ada di tangan pemerintah. Bagaimana meningkatkan kontribusi APBN, bagaimana menjaga daya beli masyarakat. Karena kalau dari sisi ekspor, belum terlihat sinyal perbaikan,” ujarnya.

Masih JauhKrisis

Pengusaha nasional Erwin Aksa menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi year to date sebesar 6,17% pada kuartal III masih baik dan tetap berimbas positif bagi sektor konsumsi masyarakat Indonesia. “ Perekonomian kita masih jauh dari krisis dan tentu akan mengalami pertumbuhan ekonomi yang positif. Tentu ini berbeda dengan apa yang terjadi di Eropa saat ini,” kata dia.

Erwin menilai, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap dalam kerangka fondasi yang sangat kuat, terbukti dari sektor konsumsi yang tiap tahunnya naik signifikan.

Menurut dia, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum harus terus mendorong infrastruktur dan pembangunan fisik. Mantan Ketua Umum HIPMI periode 2008-2011 itu juga menambahkan bahwa sinergitas dengan swasta juga harus diperkuat, dan swasta juga harus untuk membantu pemerintah mempercepat pembangunan infrastruktur agar pertumbuhan ekonomi dapat lebih baik.

Pendapat senada juga dilontarkan ekonom Indef Prof. Dr. Ahmad Erani Yustika. Dia memaparkan, Indonesia telah mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6,4% sepanjang kuartal II 2012. Namun, laju perekonomian dinilai tidak berkualitas karena tidak menggambarkan pertumbuhan kualitas hidup masyarakat.

Menurut dia, sejak penyusunan asumsi dalam APBN, pemerintah tidak menggambarkan tujuannya. Selama ini asumsi dibuat untuk memastikan beberapa agregat penting bisa dicapai, misalnya target pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar. Namun, pemerintah justru mengabaikan bagaimana seharusnya pembangunan ke depan memiliki kualitas yang lebih bagus.

“Asumsi semestinya bisa merekam apa yang terjadi pada pertumbuhan ekonomi. Kalau melihat data, kita menjumpai realitas yang mencemaskan. Pertama, belum pernah tingkat ketimpangan setinggi pada saat ini,” ujarnya.

Tahun lalu, lanjut Erani, merupakan puncak ketimpangan pendapatan nasional dengan gini ratio 0,41. Sebelumnya, pada 2005 kisaran gini ratio ada pada angka 0,32 sampai 0,33. ‘’Asumsi dalam penyusunan APBN harus diperluas dan menggambarkan cita-cita APBN itu sendiri,’’tandasnya. novi/bari/iwan/iqbal/dias/doko

BERITA TERKAIT

Perlu Kajian Matang - HOME Batalkan Divestasi Aset Anak Usaha

NERACA Jakarta – Emiten properti dan juga perhotelan, PT Hotel Mandarine Regency Tbk (HOME) mengurungkan rencana untuk melakukan divestasi atas…

Pengamat: Pemkot Sukabumi Perlu Membuat Perda Perkoperasian

Pengamat: Pemkot Sukabumi Perlu Membuat Perda Perkoperasian NERACA Sukabumi - Iklim perkoperasian di Kota Sukabumi belum menunjukan grafik mengembirakan, hal…

TKN: Prabowo Kalah Debat, Tidak Perlu Cari Alasan

TKN: Prabowo Kalah Debat, Tidak Perlu Cari Alasan NERACA Jakarta - Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi - KH Maruf…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

Kemenkeu Siapkan Strategi Pengembangan Unicorn

Jakarta-Kementerian Keuangan diketahui telah menyiapkan strategi untuk mendukung pengembangan unicorn di dalam negeri. Respon program pengembangan unicorn ini merupakan salah…

NERACA PERDAGANGAN DEFISIT US$1,16 MILIAR DI JANUARI 2019 - CORE: Defisit NPI Diprediksi Masih Berlanjut

Jakarta-Ekonom CORE memprediksi neraca perdagangan Indonesia (NPI) diperkirakan masih terus defisit hingga sepanjang tahun ini, karena kondisi ekspor impor Indonesia…

Kenaikan Tarif Kargo Udara Berdampak ke Sektor Perikanan

NERACA Jakarta-Dirjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) KKP, Rifky Effendi Hardijanto, mengatakan kenaikan tarif kargo udara turut…