UOB Indonesia Perbaiki Layanan UKM

NERACA

Jakarta - PT Bank UOB Indonesia berencana memperbaiki layanan dan dukungan terhadap nasabah berskala usaha kecil dan menengah (UKM). Hal ini untuk mengantisipasi pertumbuhan kebutuhan akan pendanaan bagi UKM yang terus berkembang di tengah-tengah laju pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Chief of Business Banking UOB Group, Victor Leemengaku UOB Indonesia akan berinvestasi dalam bentuk teknologi baru untuk merampingkan proses, termasuk memperpendek aplikasi pinjaman dan waktu persetujuan bagi nasabah UKM. Tahun lalu, UOB Group memangkas waktu proses bagi nasabah di semua wilayah menjadi separuhnya dengan menjalankan aplikasi kredit yang baru seharga US$15 juta.

Pemilik bisnis UKM, lanjut Victor, perlu membuat keputusan yang cepat. Oleh karena itu, pihaknya berharap dapat membantu nasabah untuk mengelola bisnis dan modal kerja mereka secara lebih efisien dengan memberikan kepastian yang lebih besar dalam akses pendanaan.

Sementara itu, Chief of Business Banking UOB Indonesia, Widjaja Hendra menambahkan,konsumsi domestik dan pengeluaran infrastruktur yang terencana akan menggerakkan perekonomian dan menghasilkan kesempatan bagi UKM untuk bertumbuh.

Dengan berbagai upaya perbaikan layanan, salah satunya memperbesar tim relationship manager untuk UKM, kami hendakmenyiapkan dukungan yang penting bagi nasabah untuk meraih keuntungan di tengah pertumbuhan ekonomi Indonesia.

“Kami memperkirakan banyak UKM akan membutuhkan pendanaan untuk membeli kendaraan niaga dan alat-alat berat di tahun-tahun ini dalam rangka memperluas bisnis mereka. Selain mereka juga membeli aset jangka panjang, seperti membeli pabrik dan kantor komersial mereka sendiri,” jelas Widjaja, melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin (5/11).

Dengan kuatnya neraca yang dimiliki oleh UOB Indonesia, ditambah dengan pengetahuan yang mendalam mengenai situasi bisnis lokal, Widjaja optimis bisa melayani nasabah dengan pembiayaan dan keahlian yang diperlukan untuk menggarap peluang pasar yang ada dan mengembangkan bisnis menjadi usaha yang lebih besar.

Sebagai informasi, tahun lalu UOB Indonesia berhasil menghimpundana pihak ketiga (DPK) sebesar 51,8% atau Rp42,9 triliun. Pertumbuhan DPK tersebut terutama mendapat kontribusi dari peningkatan deposito berjangka dan giro yang masing-masing meningkat sebesar Rp12,51 triliun dan Rp1,64 triliun menjadi Rp30,26 triliun dan Rp4,84 triliun.

Per 31 Desember 2011, rasio-rasio keuangan UOB Indonesia juga tetap terjaga dengan baik, seperti rasio ROA (Return on Assets) sebesar 2,3%, ROE (Return on Equity) sebesar 11,43% dan NIM (Net Interest Margin) sebesar 5,14%.

Sedangkan rasio kecukupan modal (CAR) UOB Indonesia tercatat sebesar 17,61%, masih jauh diatas ketentuan minimum Bank Indonesia sebesar 8%. Rasio NPL (Non-Performing Loans) sebesar 1,53% atau turun sebesar 125 basis point (bps) dibandingkan periode yang sama pada 2010 sebesar 2,78%. LDR tercatat sebesar 91,7%. [ardi]

BERITA TERKAIT

Sektor Pangan - Harga Beras di Indonesia Termasuk Murah di Pasar Internasional

NERACA Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan harga beras di tingkat eceran masih terjangkau oleh masyarakat dan…

Dunia Usaha - Making Indonesia 4.0 Disebut Pemicu Ekspor Industri Manufaktur

NERACA Jakarta – Industri manufaktur konsisten memberikan kontribusi paling besar terhadap nilai ekspor nasional. Oleh karena itu, pemerintah semakin menggenjot…

BPR Kuningan Terbaik dari 95 BPR/BPRS se-Indonesia - Dibawah Pimpinan Litawati

BPR Kuningan Terbaik dari 95 BPR/BPRS se-Indonesia Dibawah Pimpinan Litawati NERACA Kuningan – Perusahaan Daerah Bank Perkreditan Rakyat (PD BPR)…

BERITA LAINNYA DI INFO BANK

OJK Jalin Kerjasama dengan Kemendagri dan PPATK - Cegah dan Berantas Pencucian Uang

  NERACA   Jakarta - Guna mencegah dan memberantas tindak pidana pencucian uang di Industri Jasa Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan…

Gubernur BI Rombak 18 Pejabat

    NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo, Senin, melantik 18 pejabat baru BI, di antaranya…

BPR Diminta Konsolidasi Untuk Perkuat Modal

    NERACA   Jakarta - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meminta bank perkreditan rakyat (BPR) yang tidak bisa memenuhi syarat…