Impor Beras Akan Terus Hingga 2014

NERACA

Jakarta - Manajer Advokasi Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan Said Abdullah meyakini impor beras akan terus dilakukan hingga 2014 karena saat ini Bulog masih mengalami kesulitan dalam menyerap beras petani.

"Keterbatasan anggaran, infrastruktur dan kewenangan menjadikan bulog tak akan bisa melampaui angka 10 persen dalam penyerapannya. Jika demikian gudang Bulog akan terus mengalami kekosongan. Impor menjadi cara jitu memenuhinya," kata Said Abdullah seperti dikutip Antara di Jakarta, Senin.

Kedua, imbuh dia, menjadi sebuah kemustahilan dalam dua tahun kedepan tingkat produksi meningkat rata-rata 6,2% untuk mengejar 10 juta ton cadangan beras nasional.

"Catatan data menunjukkan yang terjadi justru produksi dalam negeri terus menurun. Peningkatan produksi padi di Indonesia mengalami akselerasi hanya pada 1980-an. Laju pertumbuhan produksi padi rata-rata meningkat dari 1,10% per tahun pada periode 1970-1979 menjadi 5,32% per tahun pada periode 1980-1989," kata dia.

Namun pada periode 1990-1999, produksi terus menurunan rata-rata menjadi 1,29% per tahun dan 0,71% per tahun pada periode 2000-2011.

Menurut dia, pemerintah menargetkan memiliki cadangan beras nasional 10 juta ton pada 2014 yang bersumber dari produksi dalam negeri. Target ini dirasa tidak akan tercapai kecuali melalui impor.

"Apakah kontrak kerjasama impor beras dengan negara produsen semacam Thailand, Vietnam, dan Kamboja merupakan alternatif pemenuhan target tersebut," kata dia.

Hal tersebut patut diawasi, kata dia, karena jika demikian adanya, target 10 juta ton itu tak lebih dari target dagang belaka.

Ia mengatakan jika saat ini cadangan pangan hanya 2 juta ton, maka ada 8 juta ton yang harus dipenuhi. Jumlah sebanyak itu tidaklah sedikit baik dalam hal jumlah maupun keuntungan yang dihasilkan jika impor dilakukan.

Sebelumnya, Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Deddy Saleh mengatakan, pada tahap awal, Pemerintah Kamboja akan mendatangkan 100 ribu ton beras ke Tanah Air pada Desember 2012 dan pada 2013 sebanyak 1 juta ton. Komitmen ini diperoleh setelah ada kesepakatan antara Menteri Perdagangan Gita Wirjawan dan Menteri Perdagangan Kamboja Cham Prasidh pada 28 Agustus lalu di Kamboja.

"Nantinya Bulog bisa beroperasi di Kamboja, beras tidak perlu semua dikirim ke Indonesia, tetapi dijadikan stok di sana, bisa untuk komersial (dijual lagi) dan bisa diambil sewaktu-sewaktu untuk memenuhi kebutuhan beras di dalam negeri," kata dia. (doko)

BERITA TERKAIT

Kabupaten Sukabumi Akan Peringati Hari Koperasi di Kawasan Geopark Ciletuh

Kabupaten Sukabumi Akan Peringati Hari Koperasi di Kawasan Geopark Ciletuh NERACA Sukabumi – Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Sukabumi, akan memperingati…

Ubah Diversifikasi Tekan Impor

Memotret fluktuasi ekonomi Indonesia saat ini tentu sangat kontras jika dibandingkan era booming harga komoditas pada 2003‐2008, lalu menukik ke…

Kadin akan Tambah Fasilitas untuk OSS

      NERACA   Jakarta - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia akan menambah fasilitas meja bantuan (help desk)…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Bappenas Inisiasi Indeks Pembangunan Ekonomi Inklusif

      NERACA   Jakarta - Dalam penutupan Indonesia Development Forum (IDF) 2018 pekan lalu, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang…

IBM Targetkan Penyaluran Qurban ke Pedalaman Meningkat

  NERACA   Jakarta – Insan Bumi Mandiri (IBM) menargetkan untuk dapat menyalurkan hewan qurban ke wilayah pedalaman Indonesia meningkat.…

Skema KPBU Banyak Diminati Investor

      NERACA   Jakarta - Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut minat investor cukup tinggi untuk proyek dengan…