Kampanye BBM Non Subsidi Dilematis - Gara-Gara Pertamax Rp9.050

Gara-Gara Pertamax Rp9.050

Kampanye BBM Non Subsidi Dilematis

Jakarta---Melonjaknya harga Pertamax menjadi Rp9.050 membuat kampanye penggunaan Pertamax menjadi terganggu dan dilematis. Karena masyarakat menjadi malas mengkonsumsi Premium. Alasanya perbedaan harga Pertamax dan Premium, dua kali lipat. "Itu dilematis dan menjadi sangat sulit untuk kita menganjurkan pengguna BBM beralih ke pertamax," kata anggota Komite Badan Pengatur Hilir Kegiatan Minyak dan Gas (BPH Migas), Adi Subagyo kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/5)

Namun demikian, kata Adi, pihaknya tetap berusaha untuk menghimbau konsumen agar membeli Pertamax. "Karena memang di sisi lain masyarakat menjadi lebih berat untuk membeli Pertamax. Namun kami di sisi lain pun menghendaki subsidi jangan terlalu naik," tambahnya.

Diakui Adi, naiknya harga Pertamax tentu menurunkan jumlah konsumennya. Oleh karena itu jalan tengahnya, sebaiknya menggunakan mobil seperlunya saja. “"Kalau harga naik (pertamax Cs) pasti bisa menurun konsumsinya. Kita berusaha menganjurkan tapi kan kemampuan masyarakat terbatas, makanya kurangi mobil pribadi kalau tidak perlu sekali jangan pakai mobil pribadi," paparnya.

Saat ditanya berapa besar jumlah konsumsi Pertamax untuk April 2011, Adi mengaku hingga saat ini dirinya belum menerima laporan lengkap. Namun kemungkinan beberapa kemudian sudah bisa dapat informasinya. “Untuk bulan April ini kami belum terima laporan, mungkin besok. Sedangkan Mei baru dua hari. Mudah-mudahan besok kita sudah bisa ketahui berapa volume penjualan BBM April," jelasnya.

Sementara itu Ketua Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas (Hiswana Migas) Eri Purnomo hadi berujar, kenaikan harga pertamax tersebut otomatis memicu kepindahan konsumen ke premium. "Kenaikan (harga) itu akan lebih memicu pengguna pertamax untuk mencari BBM lain yang lebih murah, ya salah satunya ke BBM subsidi (premium)," katanya.

Menurut Eri, perbedaan harga menjadi suatu hal yang sensitif. Ada perbedaan Rp 100 bisa menimbulkan peralihan, apalagi jika premium dan pertamax memiliki disparitas harga yang kini selisihnya sudah Rp 4.500 per liter. “Premium juga lebih mudah didapat di semua SPBU," ujarnya

Yang jelas, kata Eri, peralihan ke premium dari pertamax dapat terjadi setiap saat. "Data dari pertamina, penurunan pertamax sekitar 20%-25%, namun masih ada beberapa yang benar-benar setia dengan pertamax berapapun harganya," tambahnya.

Dorong Inflasi 1,6%

Terkait dengan rencana penghapus BBM bersubsidi jenis Premium diprediksi akan memberikan dampak yang siginifcant terhadap inflasi. Padahal akibat kenaikan Pertamax saja membuat konsumennya beralih ke Premium. Bahkan bobot inflasi sekitar 3%. Oleh menaikkan harga premium menjadi pilihan alternative Namun juga beresiko mendorong inflasi sebesar 1,6%.

“Saya kira tak sesederhana itu, harga premium menjadi harga pertamax, kecuali premium oktannya lebih kecil. Tapi sama saja menaikkan harga premium, bisa sekitar 1,6% tambahannya untuk inflasi," kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan kepada wartawan di Jakarta, Senin (2/5)

Rusman menjelaskan setiap kenaikan harga pertamax sebesar Rp 500/liter memberikan dampak inflasi sebesar 0,2-0,3%. Sedangkan setiap kenaikkan harga Rp 1.000/liter maka dampak terhadap inflasi mencapai sebesar 0,5-0,6%. "Akan ada dampaknya kepada inflasi tapi dampaknya beda-beda. Selain itu ada multiplyer efeknya," tandasnya.

Diakui Rusman, hingga akhir April 2011, terjadi pergeseran konsumen Pertamax ke Premium yang cukup significant. Sehingga memberikan tekanan sekitar 3%. "Bukan saja bergeser, banyak sekali konsumen yang dari dulu tidak pantas tapi nggak bergeser ke pertamax, pergeseran itu sekitar 3%," tambahnya.

Seperti diketahui, Menteri Keuangan Agus Martowardojo menegaskan pemerintah akan menghapus BBM jenis premium dan juga tidak akan memberikan subsidi untuk Pertamax. Kapan waktunya, masih sangat tergantung dengan koordinasi kementerian energi sumber daya mineral (ESDM) dan DPR. **cahyo

BERITA TERKAIT

Modena Kenalkan Mesin Cuci Pembasmi Virus

    NERACA   Jakarta - Di tengah situasi penyebaran virus Corona (COVID-19) yang makin tak terkendali, masyarakat dituntut kian…

Anggaran Pembangunan Ibukota Baru Minta Dialihkan untuk Beli APD Tenaga Medis

    NERACA   Jakarta - Sekjen Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS), Hardjuno Wiwoho meminta pemerintah merealokasikan semua dana pengembangan…

Kebijakan Penanganan Covid 19 Harus Berbasis Riset

    NERACA   Jakarta - Kebijakan pemerintah dalam menangani wabah virus corona (Covid 19) yang telah menewaskan ratusan jiwa…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Herborist Pasok 2500 Liter Hand Sanitizer ke RSPAD Gatot Soebroto

    NERACA   Jakarta - Pada awal Maret 2020, Presiden Joko Widodo, telah mengumumkan mulai terdapat orang yang dinyatakan…

Modena Kenalkan Mesin Cuci Pembasmi Virus

    NERACA   Jakarta - Di tengah situasi penyebaran virus Corona (COVID-19) yang makin tak terkendali, masyarakat dituntut kian…

Anggaran Pembangunan Ibukota Baru Minta Dialihkan untuk Beli APD Tenaga Medis

    NERACA   Jakarta - Sekjen Gerakan Hidupkan Masyarakat Sejahtera (HMS), Hardjuno Wiwoho meminta pemerintah merealokasikan semua dana pengembangan…