Pertumbuhan Ekonomi K-III 6,17% - Dibayangi Lemahnya Perekonomian Global

NERACA

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia selama kuartal III-2012 berada pada kisaran 6,17%. Pertumbuhan tersebut menurun dari kuartal II-2012 yang sebesar 6,4% dan kuartal III-2011 yang tumbuh 6,5%. Pertumbuhan ekonomi akhir tahun diperkirakan masih dibayang-bayangi melemahnya perekonomian global.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia secara tahunan naik 6,17%, secara kuartalan naik 3,21% dan secara akumulasi naik 6,29%," kata Kepala BPS Suryamin di kantornya Jakarta, Senin (5/11). Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia tersebut dikontribusi oleh konsumsi rumah tangga 5,68%. Namun konsumsi tersebut bukan disebabkan karena konsumsi makanan tapi karena Lebaran, liburan dan sebagainya yang mengontribusikan kenaikan 6,7%. Sementara itu, konsumsi rumah tangga dari sektor makanan mengontribusi kenaikan sebesar 4,72%.

Pemerintah juga mencatat penurunan konsumsi sebesar 3,22% karena realisasi gaji PNS ke-13 sudah dibayar Juni 2012. “Jadi sekarang tidak ada pembayaran gaji lagi. Ada juga moratorium pegawai, penerimaan PNS di akhir 2011 serta penurunan juga untuk bantuan sosial. Raskin (beras miskis)juga menurun 1 juta rumah tangga," tambahnya.

Kontribusi Kenaikan

Selain itu, dari sisi sektor, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dikontribusikan dari sektor perdagangan, hotel, restoran yang naik 1,22%, pengangkutan dan komunikasi yang naik 1,02% serta sektor industri pengolahan yang naik 1,62%. "Ini merupakan tiga sektor tertinggi yang menyebabkan ekonomi Indonesia tumbuh. Itu merupakan sektor non tradeable, yang menyerap tenaga kerja tinggi, tapi itu hanya yang punya skill saja," tambahnya.

Sedangkan, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) naik 10,02%, ekspor turun 2,78% dan impor turun 0,54%. “Juli lalu kita mengalami deflasi. Selama Agustus dan September kita juga sudah mengalami surplus, meski tipis. Ini juga menjadi penopangnya," tambah Suryamin.

Di sisi lain, ekonomi Indonesia pada kuartal III-2012 secara kuartalan naik 3,21%. Kontribusinya dari pengeluaran konsumsi rumah tangga 2,71%, PMTB naik 2,94%, ekspor turun 0,21% dan impor naik 8,36%. Secara akumulasi, PDB Indonesia naik 6,29% yang disebabkan karena kenaikan konsumsi rumah tangga 5,29%, belanja pegawai naik 2,97%, PMTB 10,77%, ekspor 2,21% dan impor 6,04%.

Sektor Pertambangan

Suryamin menjelaskan, sektor pendorong penurunan pertumbuhan ekonomi adalah pertambangan dan penggalian. "Pertambangan mendorong ke bawah, terjadi penurunan tambangan migas, turun, baik year-on-year (yoy), quartal-to-quartal (qoq), dan kumulatif to kumulatif," ujarnya.

Sementara itu, pertumbuhan q to q tertinggi adalah pertanian, peternakan, kehutanan, dan perikanan sebesar 6,15%. Dia menambahkan, yang kedua tertinggi pengangkutan dan komunikasi 4,2% dan industri pengolahan 3,99%. "Pertumbuhan yoy yang ditunjang oleh tertinggi pengangkutan dan komunikasi 10,48%," ujar Suryamin.

Sementara itu, untuk pertumbuhan tertinggi kedua adalah konstruksi sebesar 7,98%, disusul keuangan, real estate dan jasa perusahaan 7,41%. Pemerintah menargetkan PDB di kisaran 6,7%. Target tersebut kemudian direvisi menjadi 6,5% pada draf APBN-P. Alasannya, krisis ekonomi global yang belum menemukan titik cerah, berpotensi menurunkan laju pertumbuhan ekonomi global, dan menyeret PDB Indonesia.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang PS Brodjonegoro mengatakan, pertumbuhan ekonomi tidak akan mencapai target 6,5%, lantaran ekspor Indonesia tidak sebaik perkiraan. "Yah, karena ekspornya sedikit terganggulah pada intinya," katanya. Apalagi, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama ini juga ditopang oleh besarnya daya beli konsumsi masyarakat. "Walau ekspor turun, tapi impor juga drop, sehingga neraca perdagangan kita juga positif," tambahnya.

Awalnya, pemerintah bahwakan menargetkan pertumbuhan ekonomi 2012 sebesar 6,7% berkat dukungan investasi dan konsumsi rumah tangga. Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan, konsumsi rumah tangga diprediksi meningkat dari 4,7% pada 2011 menjadi 4,9% pada 2012, atau meningkat sekitar 0,2%. (Novi)

BERITA TERKAIT

PERTUMBUHAN EKSPOR EMAS

Pedagang menata perhiasan emas yang dijual di Depok, Jawa Barat, Kamis (18/7/2019). BPS mencatat ekspor perhiasan dan permata produksi dalam…

INDUSTRI OTOMOTIF SAMBUT POSITIF PENURUNAN BUNGA - BI Prediksi Pertumbuhan Stagnan di Triwulan II

Jakarta-Kalangan industri otomotif menyambut positif penurunan suku bunga acuan. Pasalnya, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia bisa berdampak pada penurunan…

Dua Tantangan Perpajakan Di Era Ekonomi Digital

    NERACA   Jakarta - Direktur Jenderal Pajak Robert Pakpahan mengungkapkan terdapat dua tantangan utama yang harus dihadapi Direktorat…

BERITA LAINNYA DI BERITA EKONOMI

Sentry Safe Hadirkan Brankas dengan Proteksi terhadap Kebakaran dan Banjir

  NERACA Jakarta – Brankas biasanya digunakan untuk menyimpan dokumen-dokumen penting ataupun barang-barang berharga. Oleh karena itu Sentry Safe mengeluarkan…

SKK Migas Inginkan Penyebaran Informasi Kontribusi Hulu Migas Di Daerah

NERACA Balikpapan - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerjasama…

Sky Energy Luncurkan Produk Teringan di Dunia - Pembangkit Tenaga Surya

      NERACA   Jakarta - Kebutuhan akan listrik semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi. Pada 2019, kebutuhan listrik dunia…