Diterpa Sentimen Global, IHSG Masih Dalam Tekanan

NERACA

Jakarta – Harapan transaksi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mampu mencatatkan penguatan diakhir perdagangan meleset dari yang diharapkan. Pasalnya, aksi jual investor memicu sentimen negatif pasar regional. Indeks hampir saja lengser dari level psikologis 4.300.

Kata analis Panin Sekuritas Purwoko Sartono, IHSG ditutup melemah pada awal pekan. Meski mengalami tekanan jual, akan tetapi terlihat indeks BEI masih mampu bertahan diatas level psikologis 4.300 poin, “IHSG ditutup merosot 35,953 poin (0,83%) ke level 4.302,939. Sementara Indeks LQ45 ditutup melorot 7,271 poin (0,97%) ke level 740,889,”katanya di Jakarta, Senin (5/11).

Menurutnya, IHSG melemah mengikuti gerak bursa regional menyusul kekhawatiran akan gagalnya Yunani memperoleh dana talangan (bailout). Selain itu, lanjut dia, pasar juga masih "wait and see" menjelang dekatnya pemilu Presiden AS yang akan dilaksanakan pada 6 November 2012 mendatang.

Purwoko menyarankan, investor untuk melakukan pembelian selektif pada saham yang telah mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir. Diproyeksikan indeks BEI akan bergerak "mixed" dengan kecenderungan menguat terbatas pada Selasa, “Kisaran pergerakan IHSG diperkirakan di level 4.273-4.320 poin," ujarnya.

Pada perdagangan Senin awal pekan kemarin, rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatatkan pada triwulan III-2012 ekonomi RI naik 6,17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Secara triwulanan, ekonomi tumbuh 3,21% tidak mampu membawa indeks BEI kezona positif. Pasalnya, sentimen positif dari dalam negeri itu belum cukup membuat investor lakukan aksi borong saham. Sebaliknya, investor terus melakukan aksi jual gara-gara merosotnya pasar saham Asia.

Aksi jual dilakukan investor lokal dan asing. Saham-saham unggulan berbasis tambang terkoreksi cukup dalam akibat rendahnya harga komoditas. Saham-saham lapis dua juga ikut terkena koreksi akibat tekanan jual.

Perdagangan berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 92.795 kali pada volume 3,334 miliar lembar saham senilai Rp 3,72 triliun. Sebanyak 67 saham naik, sisanya 176 saham turun, dan 91 saham stagnan.

Bursa-bursa di Asia kompak melemah di zona merah awal pekan kemarin. Pemilu Presiden AS membuat pelaku pasar regional menahan diri untuk bertransaksi. Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Sarana Menara (TOWR) naik Rp 300 ke Rp 19.800, Lionmesh (LMSH) naik Rp 300 ke Rp 8.400, Asuransi Binda Dana Arta (ABDA) naik Rp 290 ke Rp 1790, dan Fast Food (FAST) naik Rp 200 ke Rp 12.200.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Mayora (MYOR) turun Rp 1.400 ke Rp 21.550, Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.200 ke Rp 46.650, United Tractor (UNTR) turun Rp 550 ke Rp 20.650, dan Nippon Indosari (ROTI) turun Rp 300 ke Rp 5.850.

Perdagangan sesi I, indeks BEI ditutup terkoreksi 38,914 poin (0,90%) ke level 4299,978. Sementara Indeks LQ45 terkoreksi 7,853 poin (1,05%) ke level 740,307. Perdagangan hari ini berjalan cukup sepi dengan frekuensi transaksi mencapai 43.975 kali pada volume 1,725 miliar lembar saham senilai Rp 1,624 triliun. Sebanyak 50 saham naik, sisanya 175 saham turun, dan 76 saham stagnan.

Saham-saham yang naik signifikan dan masuk dalam jajaran top gainers diantaranya Lionmesh (LMSH) naik Rp 300 ke Rp 8.400, Fast Food (FAST) naik Rp 200 ke Rp 12.200, Multi Prima (LPIN) naik Rp 150 ke Rp 9.050, dan Duta Pertiwi (DUTI) naik Rp 150 ke Rp 3.150.

Sementara saham-saham yang turun cukup dalam dan masuk dalam kategori top losers antara lain Gudang Garam (GGRM) turun Rp 1.100 ke Rp 46.750, HM Sampoerna (HMSP) turun Rp 800 ke Rp 54.200, Mayora (MYOR) turun Rp 550 ke Rp 22.400, dan United Tractor (UNTR) turun Rp 450 ke Rp 20.750.

Sementara diawal perdagangan, indeks BEI dibuka turun 11,04 poin atau 0,25% ke posisi 4.327,86. Sementara indeks 45 saham unggulan (LQ45) melemah 2,81 poin (0,38%) ke level 745,35.

Analis Samuel Sekuritas Benedictus Agung menuturkan, bursa Asia dibuka melemah dipicu koreksi bursa AS seiring pasar 'wait and see' terhadap ketidakpastian hasil pemilu AS yang akan berlangsung di pekan ini.

Menurutnya, koreksi yang terjadi pada harga komoditas dunia juga menjadi salah satu faktor pendorong indeks BEI tertekan. Harga minyak terkoreksi 2,5% ke level 84,8 dolar AS per barel, terendah dalam empat bulan terakhir, “Saham-saham sektor komoditas diperkirakan mengalami tekanan koreksi seiring penurunan harga minyak,”paparnya.

Sedangkan analis Sinarmas Sekuritas James Wahjudi menambahkan, perdagangan awal pekan ini, secara teknikal indeks BEI bergerak "mixed" di kisaran 4.300-4.360 poin, “Dirilisnya data-data ekonomi AS, serta data tingkat produk domestik bruto (PDB) Indonesia kuartal III 2012 akan memberikan sentimen terhadap pergerakan indeks," ujarnya.

Tercatat bursa regional diantaranya indeks Hang Seng Senin awal pekan kemarin dibuka melemah 74,58 poin (0,34%) ke level 22.036,75, indeks Nikkei-225 turun 27,86 poin (0,31%) ke level 9.023,36, dan Straits Times melemah 18,28 poin (0,60%) ke level 3.022,47. (bani)

BERITA TERKAIT

IHSG Masih Tren Melanjutkan Penguatan

NERACA Jakarta - Indeks harga saham gabungan (IHSG) hingga akhir sesi perdagangan, Rabu (12/12) berbalik melesat naik atau menguat ke…

Suku Bunga Acuan Masih Akan Naik di 2019

P { margin-bottom: 0.08in; }A:link { }       NERACA   Jakarta – Chief Economist Bank Mandiri Anton Gunawan…

Laju IHSG Belum Beranjak dari Zona Merah

NERACA Jakarta – Mengakhiri perdagangan Selasa (11/12), indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) masih tertahan di…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Berkah Kinerja Emiten Meningkat - Jumlah Investor di Sumbar Tumbuh 46%

NERACA Padang – PT Bursa Efek Indonesia (BEI) perwakilan Sumatera Barat (Sumbar) mencatat jumlah investor saham asal Sumbar di pasar…

Indo Premier Bidik AUM 2019 Tumbuh 50%

Tahun depan, PT Indo Premier Investment yakin dana kelolaan atau asset under management (AUM) mereka akan tumbuh hingga 50% seiring…

HRUM Siapkan Rp 236 Miliar Buyback Saham

PT Harum Energy Tbk (HRUM) berencana untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback sebanyak-banyaknya 133,38 juta saham atau sebesar 4,93%…