Pemerintah Kesulitan Genjot Produksi Minyak - Tingkatkan Eksplorasi Lapangan Tua

NERACA

Jakarta - Direktur Jenderal Minyak Bumi dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Evita H Legowo mengungkapkan, untuk meningkatkan produksi minyak mentah dengan satu juta barel per hari itu hal yang tidak mudah. “Ini akan kita lanjutkan dan kita pertahankan sampai tahun 2025, itu tidak mudah,” kata dia di Jakarta, Senin (5/11).

Lebih jauh lagi Evita menegaskan pemerintah tengah merencanakan upaya untuk meningkatkan eksplorasi minyak ini. Salah satu upaya yang akan dilakukan pemerintah adalah dengan melakukan efisiensi eksploitasi minyak pada sumber atau lapangan yang telah ada dengan menggunakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR). "EOR merupakan salah satu upayanya. Itu adalah untuk lapangan yang tua atau mayor, itu salah satu upaya. Itu untuk meningkatkan eksplorasi," ujarnya.

Evita mengatakan, dari 416 lapangan major atau tua yang sudah dieksplorasi hanya ada 40% yang sudah dieksplorasi menggunakan teknologi EOR. "Jadi masih banyak lapangan yang bisa kita gunakan, dan kita kembangkan dengan EOR," kata Evita.

Tahun ini pemerintah pesimis bisa mencapai produksi seperti yang ditargetkan dalam APBN 2012. Dalam anggaran negara tersebut disebutkan bahwa perusahaan migas Indonesia harus memproduksi 930.000 barel minyak per hari. Kenyataannya, produksi minyak masih bertengger di kisaran 800.000 barel per hari.

Evita juga mengatakan, sekira 25-30% APBN 2012 masih disumbang oleh minyak dan gas bumi kategori konvensional. "Sampai saat ini, migas yang katanya sumber energi yang konvensional tetap masih merupakan tulang punggung penerimaan negara hampir 25-30%," kata Evita.

Namun, menurut Evita, saat ini produksi minyak bumi mengalami penurunan sehingga pihak Badan Pelaksana Hulu Minyak dan Gas bumi (BP Migas) berusaha untuk mempertahankan penurunan rata-rata (decline rate) produksi yang hampir mencapai 12%. "Dengan segala upaya (penurunan) jadi 3%," ungkap Evita.

Evita menambahkan, dengan menggunakan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) dapat mengambil 45% minyak bumi yang berada di sumur-sumur tua. Evita mengaku penggunaan teknologi EOR tersebut sangat mahal tetapi teknologi tersebut terbukti dapat meningkatkan produksi minyak nasional.

"Untuk kami EOR dengan primary dan secondary maksimal 45% bisa diambil yang di perut bumi. Syaratnya, biaya mahal untuk harga minyak bumi USD100 per barel masih mencakup keekonomiannya," tutur Evita.

Alokasi Ekspor

Di tempat yang sama, Deputi Perencanaan Badan Pengelola Minyak dan Gas (BP Migas) Widhyawan Prawiraatmadja memastikan 60% produksi gas dari lapangan gas Blok Tangguh fasilitas ketiga LNG liquefaction Train III di Papua akan dialokasikan untuk kebutuhan ekspor. Sementara sisanya 40% untuk dalam negeri khususnya PT PLN (Persero). Diperkirakan, pembangunan lapangan gas ini akan selesai tahun 2018. "Ada 40% domestik yang dari tren III, 60% ekspor 40% domestik," kata Widhyawan.

Dia mengatakan, alokasi gas untuk domestik akan bergantung kepada kebutuhan dalam negeri sendiri karena menurutnya, tidak ada ketentuan untuk menetapkan besaran alokasi gas untuk domestik. "Itu kan memang secara kontekstual kan memang nggak ada ketentuan domestik berapa. Kalau ada domestik ya kita untuk domestik," katanya.

Mengenai harga, ia belum dapat menjawab secara pasti. Namun menurutnya, harga yang diberikan perusahaan patungan Pertamina dan PGN, yaitu Nusantara Regas akan menjadi acuan ditetapkannya harga nanti. "Kan sekarang ada preseden yang Nusantara Regas kan, itu akan menjadi acuan. Paling tidak sama dengan itu," katanya.

Seperti diketahui British Petroleum dipastikan akan kembali mengelola lapangan gas Blok Tangguh di Papua. Investasi senilai US$ 12 miliar, sekitar 7,5 miliar pound sterling atau Rp 108 triliun, telah disiapkan. Pembangunan fasilitas ketiga LNG liquefaction Train III segera dimulai. Perusahaan minyak asal Inggris itu sepakat 40% hasil produksi gas Train III itu akan dijual ke PT PLN (Persero) untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listriknya.

BERITA TERKAIT

Bank Kalteng Tingkatkan Kredit Produktif

    NERACA   Kalteng - PT Bank Kalimantan Tengah meningkatkan penyaluran kredit produktif untuk memacu kinerja perekonomian daerah sesuai…

Pemerintah Dukung IoT Untuk Kemajuan Industri - Laboratorium IoT XL Terlengkap

NERACA Jakarta - Pemerintah mendukung operator telekomunikasi membentuk Internet of Things (IoT) sebagai salah satu solusi untuk mendukung kemajuan sektor…

SDM Jadi Perhatian Pemerintah - Alokasi Anggaran untuk Pendidikan dan Kesehatan

      NERACA   Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pemerintah akan memperhatikan secara serius kualitas sumber…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

INSA Dukung Implementasi Kebijakan B20 untuk Kapal Laut

NERACA Jakarta - Ketua Umum DPP Indonesian National Shipowners Association (INSA) Johnson W. Sutjipto mendukung penuh pemerintah yang mewaijbkan semua…

4 Pilar Utama Bikin Indonesia Hebat - Pemerintah Terus Pacu Industri Nasional Berdaya Saing Global

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menyebutkan ada empat pilar utama yang akan membawa Indonesia mengalami lompatan jauh dengan…

Manufaktur - Tumbuh 10%, Industri Minuman Didorong Terapkan Standar Hijau

  NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong sektor manufaktur di Indonesia untuk menerapkan konsep industri hijau. Upaya ini sejalan…