Penjualan Lahan Kawasan Industri Laris Manis - Sektor Manufaktur Tumbuh

NERACA

Jakarta – Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi mengaku semakin tumbuhnya industri manufaktur membuat penjualan lahan di kawasan industri selama triwulan III-2012 mencapai 315,714 hektar.

“Dengan banyaknya investasi pada sektor manufaktur menyebabkan pembelian lahan baru di kawasan industri pada triwulan III tahun ini mencapai 94,21 hektar dan sisanya merupakan pra komitmen transaksi. Sedangkan untuk komitmen investasi di kawasan industri Sei Mengkei membutuhkan lahan sekitar 200,304 hektar dan kawasan indutri di Dumai mencapai 40,66 hektar,” ungkap Dedi di Jakarta, Senin (5/11).

Ia menjelaskan dengan banyaknya permintaan lahan industri di wilayah Sumatera merupakan salah satu cara untuk meningkatkan penyebaran industri di luar Pulau Jawa. Menurut Dedi, saat ini telah terjadi pergeseran investasi dimana penyebaran kawasan industri tidak hanya di Pulau Jawa tapi sudah menyebar ke Pulau Sumatera. “Kami berharap jika status lahan di kawasan industri Sei Mangkei selesai, pemerintah bisa melanjutkan proses percepatan penyelesaian masterplan di beberapa kawasan industri,” paparnya.

Setelah Sei Mangkei, lanjut Dedi, pemerintah akan mengembangkan kawasan industri di Palu. “Belajar dari masalah di Sei Mangkei, semua proses alih fungsi lahan harus segera diselesaikan. Saat ini, sudah ada investor yang siap mengembangkan kawasan industri di wilayah Sulawesi Tengah,” ujarnya.

Dedi menjelaskan, dari total lahan seluas 1.500 hektar di Palu, investor akan membangun pabrik tahap I seluas 500 hektar. “Investor akan menghabiskan dana Rp20.000 per meter persegi untuk pembebasan lahan. Hal ini membuktikan bahwa investasi di kawasan Indonesia Timur semakin diminati,” tuturnya.

Pertumbuhan Manufaktur

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan produksi industri manufaktur besar dan sedang secara year on year (yoy) pada kuartal II tahun 2012 mengalami kenaikan sebesar 2,55% dari kuartal II tahun 2011. Kenaikan industri barang logam, bukan mesin, dan peralatan serta industri kendaraan bermotor, traler, dan semi-trailer mendoorng pertumbuhan produksi industri manufaktur. “Pertumbuhan produksi industri manufaktur triwulan 2 2012 meningkat dibandingkan triwulan 2 2011 sebesar 2,55%,” kata Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suryamin.

Jenis industri manufaktur besar dan sedang yang mengalami pertumbuhan produksi pada kuartal II 2012 adalah barang logam, bukan mesin, dan peralatannya naik 19,98%, kendaraan bermotor, trailer, dan semi-trailer 16,1%, karet, barang dari karet, dan plastik 15,43%, peralatan listrik 12,74%, farmasi, produk obat kimia, dan obat tradisional 11,51%, serta pengolahan tembakau 10,78%. Sementara, jenis industri manufaktur besar dan sedang yang mengalami penurunan produksi adalah kayu, barang dari kayu dan gabus, barang anyaman dari bambu, rotan, dan sejenisnya turun 20,48%, logam dasar 12,89%, jasa pengolahan lainnya 12,71%, serta mesin dan perlengkapan 12,52%.

Lebih lanjut, Suryamin mengatakan pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil pada kuartal 2 2012 mengalami kenaikan 2,11% dari kuartal 2 2011. Industri pendorong pertumbuhan produksi industri manufaktur mikro dan kecil antara lain, industri alat angkutan lain serta industri kulit, barang dari kulit, dan alas kaki. Jenis industri manufaktur mikro dan kecil yang mengalami kenaikan adalah alat angkutan lainnya naik 11,44%, kulit, barang dari kulit, dan alas kaki 9,35%, percetakan dan reproduksi media rekaman 6,5%. Sedangkan jenis industri manufaktur mikro dan kecil yang mengalami penurunan adalah farmasi, obat, dan obat tradisional turun 19,44%, karet, barang dari karet, dan plastik 14,28%, serta pengolahan lainnya turun 5,92%.

BERITA TERKAIT

RI-Ceko Incar Peningkatan Investasi dan Ekspor di Sektor Industri

NERACA Jakarta – Indonesia dan Ceko tengah menjajaki peluang kerja sama ekonomi khususnya di sektor industri. Potensi kolaborasi kedua negara…

Pemerintah Tetapkan Hasil Penjualan SBR004 Rp7,3 Triliun

    NERACA   Jakarta - Pemerintah menetapkan hasil penjualan Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR004 sebesar Rp7,3 triliun dengan…

Neraca Keuangan Sektor Migas Diprediksi Surplus

      NERACA   Jakarta - Kontribusi sektor energi dan sumber daya mineral (ESDM) terutama migas dalam perekonomian nasional…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

DHL Express Indonesia Bangun Fasilitas Baru di Pulogadung

NERACA Jakarta – DHL Express, penyedia layanan ekspres internasional terkemuka di dunia, hari ini secara resmi meluncurkan fasilitas baru di…

Revolusi Industri 4.0 Buka Peluang Dongkrak Keterampilan SDM

NERACA Jakarta – Era revolusi industri 4.0 membuka kesempatan bagi sumber daya manusia (SDM) di sektor manufaktur untuk memiliki keahlian…

RI dan Korsel Berkolaborasi Untuk Sukseskan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian RI dan Dewan Riset Nasional untuk Ekonomi, Kemanusiaan, dan Ilmu Sosial atau National Research Council…