Teknologi Mutakhir Optimalkan Program Bayi Tabung - In Vitro Fertilization

Mempunyai keturunan bagi pasangan suami dan istri adalah tujuan untuk membentuk keluarga yang sempurna. Namun sayang, tak semua keluarga mampu mewujudkannya, sebagian pasangan suami-istri justru sulit mendapatkan keturunan walaupun sudah menikah lama.

NERACA

Perkembangan program kesuburan professional di Indonesia dalam beberapa tahun ini berkembang pesat. Kini, kesulitan mendapatkan keturunan tak lagi menjadi momok di kalangan masyarakat cerdas. Ya, dengan program bayi tabung atau In Vitro Fertilization (IVF), telah banyak contoh suksesnya, apalagi semua itu semakin didukung oleh teknologi kedokteran yang semakin maju.

Padahal, sebelumnya tak jarang program bayi tabung menuai banyak risiko dan kegagalan. Karena itu, sebuah teknologi anyar hadir menyempurnakan proses program tersebut, yakni Kultur Blastocyst. Teknologi baru di laboratorium ini memberikan kemungkinan untuk pemilihan embrio yang lebih matang sehingga dapat mengurangi jumlah embrio yang dimasukkan dengan tujuan akhir mendapatkan bayi yang sehat.

Dengan teknologi bari itu, semua hal jadi lebih terintegrasi. Karena di situ telah diterapkan teknologi kedokteran dan laboratorium embriologi mutakhir serta persiapan aspek psikologis pasien sebelum dan sesudah mengikuti program bayi tabung. "Ini yang saya sebut bagian integrasi dalam program bayi tabung,” ungkap Direktur Pengembangan Produk PT. Bundamedik, dr.Ivan Sini.

Menurutnya, sekitar 12% pasangan suami-istri mengalami kesulitan memperoleh keturunan atau infertilitas sehingga memerlukan bantuan medis untuk mendapatkan kehamilan. Sedangkan, dilihat dari demografi infertilitas atau ketidaksuburan di seluruh dunia hampir sama."Di Indonesia, dari populasi reproduksi yang mencapai 40 juta diperkirakan terdapat 4 juta pasangan yang sulit mendapat keturunan," katanya dalam acara media edukasi mengenai teknologi terkini bayi tabung di RS.Bunda Jakarta, pekan lalu.

Kendati jumlah penduduk Indonesia saat ini sudah lebih dari 240 juta jiwa, namun menurut Ivan gangguan kesuburan menjadi problem yang dianggap penting bagi tiap pasangan. Tak jarang orang yang sulit punya anak sering menarik diri dari pergaulan sosial karena merasa inferior.

Sementara itu, terdapat beberapa penyebab gangguan kesuburan, di klinik bayi tabung Morula IVF Indonesia, kebanyakan disebabkan karena endometriosis atau kista, saluran telur tersumbat, atau infeksi radang panggul. Penyebab dari pihak pria antara lain jumlah dan kualitas sel sperma rendah, serta azoospermia alias tidak punya sel sperma.Namun menurut Ivan berbagai masalah kesuburan itu kini lebih mudah diatasi. Salah satunya dengan program bayi tabung (in vitro fertilization/IVF).

Senada dengan Ivan, Direktur laboratorium embriologi Klinik Morula IVF, Prof.Arief Boediono mengatakan, teknologi yang semakin mutakhir berpengaruh besar pada perbaikan diagnosis dan pendekatan klinis masalah kesuburan. Dan kini, ada beberapa teknologi terbaru dalam terapi bayi tabung yang bisa meningkatkan angka kehamilan.Dan kemajuan teknologi bayi tabung di Indonesia tidak kalah dengan rumah sakit luar negeri. "Dari segi biaya di luar negeri hampir tiga kali lipat lebih mahal tapi hasil akhirnya hampir sama dengan di tanah air," kata

Menurut standar internasional angka kehamilan program bayi tabung berkisar 35-36%, namun di klinik Morula IVF Indonesia angkanya bisa mendekati 40%.

Terkendala Biaya

Meski peminat program meningkat drastis, program bayi tabung masih terkendala biaya yang mahal dan kurangnya SDM. Menurut CEO Morula IVF dr Ivan R Sini SpOG ,biaya program bayi tabung memang terlihat relatif mahal, yakni sekitar Rp45 sampai Rp70 juta.

"Biaya itu menyangkut dua hal, teknologi penerapan dan obat-obatan. Mungkin angkanya relatif mahal. Tapi berdasarkan survei, pasangan di Indonesia, jika gajinya diakumulasikan hasilnya antara Rp 5 juta sampai 10 juta per bulan. Kalau mereka bisa saving 20% tiap bulan selama dua tahun, program ini masih terjangkau," ungkapnya.

Namun, Ivan mengakui biaya tersebut menjadi mahal, karena program bayi tabung hingga saat ini tidak diiringi angka keberhasilan hingga 100%. Dan dalam masa perkembangannya, angka kelainan pada anak tidak ditemukan, jika dibandingkan dengan anak yang lahir dari konsepsi natural.Meski begitu, Ivan memastikan, tingkat keberhasilan program bayi tabung akan terus meningkat. "Di Morula IVF Indonesia, RS Bunda, telah lebih dari 1.000 anak lahir selamat dari program tersebut," kata dia.

Soal SDM, Ivan tidak memungkiri jika SDM spesialis bayi tabung juga masih sangat sedikit. Padahal diperkirakan ada sekitar empat juta pasangan yang membutuhkan bantuan terkait program bayi tabung tersebut."Masih sangat sedikit. Mungkin hanya ada sekitar 30 dokter spesialis bayi tabung. Sementara yang membutuhkan bantuan banyak sekali, ada sekitar empat juta pasangan. Terbayangkan, bagaimana kita para dokter membantu, jika SDM-nya tidak memungkinkan," papar Ivan.

Yang menjadi kendala dalam program bayi tabung adalah pengabungan embrio. Karena idealnya program ini dilakukan pada wanita berusia di bawah 35 tahun. Karena semakin tinggi usia wanita, maka kualitas sel telur dan embrio yang ada pada tubuh wanita menjadi tidak bagus lagi. "Selain itu tingkat stres dan kualitas hidup juga menjadi pemicu kegagalan bayi tabung,” ujarnya.

Namun, permasalahan bukan hanya terdapat di wanitanya saja, karena para suami juga membawa faktor kegagalan. Berdasarkan data WHO, jumlah sperma pada pria terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Bahkan, lembaga kesehatan dunia PBB tersebut terpaksa menurunkan standar jumlah sperma pria."WHO sudah merubah standarnya tahun 1999, sperma sebanyak 20 juta itu normal. Tapi standar itu menurun pada 2010, menjadi 15 juta. Bisa kita bayangkan 10 tahun lagi, mungkin lima juta yang dianggap normal,” tutupnya.

BERITA TERKAIT

Memberdayakan Disabilitas From Zero To Hero - Inovasi Program RISE

Stigma negatif baik dalam keluarga dan masyarakat masih menghantui penyandang disabilitas. Pasalnya, penyandang disabilitas dianggap sebagai beban, merepotkan, memalukan, tidak…

Dukung Cashless, BNI Tawarkan Program Cashback di SPBU Pertamina

      NERACA   Jakarta - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) bekerja sama dengan Pertamina Marketing Operation…

Lebak Optimalkan Lahan Kering Dorong Komoditas Perkebunan

Lebak Optimalkan Lahan Kering Dorong Komoditas Perkebunan NERACA Lebak - Pemerintah Kabupaten Lebak, Banten, mengoptimalkan lahan kering untuk mendorong komoditas…

BERITA LAINNYA DI KESEHATAN

Indonesia Pimpin Aksi Penanggulangan Zoonosis Global

Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen untuk mencegah dan menanggulangi penyebaran penyakit zoonosis secara global dengan menyelenggarakan Pertemuan Pencegahan dan Pengendalian Zoonosis,…

Bersama Hadapi Ancaman Keamanan Kesehatan

Perubahan iklim dan peningkatan resistensi anti-mikroba telah mendorong peningkatan munculnya new-emerging diseases dan re-emerging diseases yang berpotensi pandemik dengan karakteristik…

Mengatasi Diabetes Akut dengan Diet Vegan

Tiga tahun lalu, Khaled Al-Suwaidi (35) mendapat kabar buruk yang mengubah gaya hidupnya secara drastis. Dia didiagnosis menderita penyakit kronis…