Harga Baja di Pasar Dunia Makin Tertekan - Dampak Perlambatan Ekonomi China

NERACA

Jakarta – Sejumlah negara produsen baja terkena dampak yang signifikan dari perlambatan ekonomi China dan krisis global yang melanda Eropa dan Amerika. Akibatnya permintaan baja mulai menurun. Asosiasi Baja Dunia memprediksi pertumbuhan permintaan baja akan turun cukup signifikan menjadi 2,1% dari 6,2% hingga akhir tahun.

Sekjen Indonesia Iron and Steel Industry Association (IISA) Edward Pinem mengatakan bahwa penurunan penurunan kinerja para produsen salah satunya disebabkan karena menurunnya perekonomian China.

“China itu sebagai lokomotof industri dunia mengalami dampak yang luar biasa, akibatnya industri baja mengalami penurunan permintaan dan harga jual baja yang semakin tertekan,” ungkap Edward di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia mengatakan bahwa perlambatan ekonomi China membuat permintaan baja menjadi terperosot sehingga mengakibatkan kelebihan kapasitas produksi. Bahkan, lanjut dia, salah satu produsen baja terbesar China Baoshan Iron & Steel Co (Baosteel) terpaksa menghentikan salah satu pabriknya untuk mengurangi kerugian yang lebih besar.

“Tak hanya di China sejumlah perusahaan baja lain seperti Lion Diversified (Malaysia) merugi hingga US$78,5 juta, Sahaviriya (Thailand) rugi US$240 juta, dan Pakistan Steel (Pakistan) rugi US$745 juta. Bahkan BlueScope (Australia) dan Nippon Steel (Jepang) merugi hingga miliaran dolar,” ujarnya.

Selain produsen dari China, tambah dia, perusahaan baja asal Korea, Posco mengalami penurunan kinerja sehingga lembaga pemeringkat Moodys Investor Service menurunkan peringkat utang Posco dari A3 menjadi BAA1 dengan outlook negatif. Penurunan peringkat Posco tersebut terutama karena kemerosotan kinerja yang terus dialami produsen baja asal Korea tersebut. Bahkan, sedemikian parahnya, Posco terpaksa menjual aset-asetnya senilai 2,5 triliun won, untuk menutup keuangannya.

Dia mengatakan perusahaan baja itu baru-baru ini juga menurunkan target penjualan 2012 untuk ke tiga kalinya, setelah perolehan laba kuartal ke tiga tidak mencapai target. “Hal itu mengakibatkan pendapatan induk usaha diprediksi turun menjadi 36,3 triliun won atau US$32,9 miliar untuk tahun ini. Target tersebut turun dari yang ditetapkan pada Juli lalu 37,5 triliun won,” ujarnya.

Sepanjang kuartal tiga 2012, lanjut dia, laba bersih induk perseroan mencapai 744 miliar won, kurang dari estimasi rata-rata 17 analis yang disurvei Bloomberg, yakni 753,6 miliar won. Harga rata-rata lembaran baja dari Posco, yang dipakai untuk kapal dan mesin, turun 17% pada kuartal ke tiga tahun ini, penurunan paling dalam dalam dibandingkan produk-produk lainnya, sedangkan harga gulungan baja, yang merupakan produk utamanya, turun 10%. “Kondisi serupa juga dialami sejumlah perusahaan baja lainnya,” tutur Pinem.

Produksi Turun

Meski tak separah Posco, Bluescope Steel, misalnya, produsen baja asal Australia itu menurunkan kapasitas produksinya hingga 50%. Akibatnya, pada semester pertama 2012, Bluescoop merugi hingga US$1,09. miliar. Kondisi serupa dialami Sahaviriya, produsen baja asal Thailand yang pada semester pertama kemarin merugi hingga US$159,13 juta, serta perusahaan baja asal Malaysia, Lion Diversified yang rugi hingga US$78,5 juta pada periode yang sama.

Untuk menyiasati penurunan kinerja tersebut, perusahaan di kawasan Australia dan Amerika rata-rata memotong kapasitas produksi hingga separuh posisi awal. Eropa memangkas kapasitas produksi sekitar 30% dan China menurunkan hingga kisaran 25% - 30%. Clarkson Plc, perusahaan ekspor-impor terbesar dunia menyatakan, permintaan ekspor baja turun 53% pada 9 bulan pertama tahun ini menjadi 31,1 juta ton berat mati, terendah sejak 1999.

Kendati demikian, Edward optimistis, kinerja industri baja dunia pada tahun depan, akan kembali bergairah. “Syaratnya adalah kondisi ekonomi dunia kembali membaik serta Cina kembali meningkatkan pertumbuhan ekonominya. Apalagi, pasar baja dalam negeri juga menunjukkan pertumbuhan permintaan antara 6%-7% per tahun,” pungkasnya.

BERITA TERKAIT

Dunia Usaha - Industri Hijau Bisa Masuk Bagian Program Digitalisasi Ekonomi

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian bertekad untuk terus mendorong sektor industri manufaktur di Indonesia agar semakin meningkatkan kegiatan yang terkait…

Membaiknya Ekonomi, Penerimaan Pajak Hampir Capai Target

        NERACA   Jakarta - Lembaga riset perpajakan DDTC menilai bahwa penerimaan pajak pada 2018 yang hampir…

Diversifikasi Pasar Ekspor untuk RI yang Sejahtera

  Oleh: Nurul Karuniawati, Peneliti Universitas Udayana               Setiap peluang perdagangan akan menentukan pertumbuhan ekonomi sebuah bangsa. Karena itu,…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Industri Minuman Ringan Sudah Terapkan Teknologi HPP

NERACA Jakarta – Industri makanan dan minuman di Indonesia semakin siap menerapkan revolusi industri 4.0 dengan pemanfaatan teknologi terkini. Berdasarkan…

Memacu Manufaktur Lewat Percepatan Industri 4.0

NERACA Jakarta – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengungkapkan pihaknya berkomitmen untuk membangun industri manufaktur nasional yang berdaya saing global melalui…

Pemerintah Serahkan Bantuan ke 47 Usaha Kreatif

  NERACA Jakarta – Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) telah menyerahkan secara simbolis Bantuan Pemerintah untuk 47 pelaku di sektor kreatif.…