Badai Sandy Tak Ganggu Ekspor RI ke Amerika

NERACA

Jakarta - Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan bencana alam badai Sandy yang melanda pantai timur Amerika Serikat diperkirakan tidak akan mengganggu kinerja ekspor Indonesia ke negeri Paman Sam itu.

"Ekspor Indonesia ke AS yang melalui wilayah tersebut hanya berkisar 26,5%, jadi mungkin dampaknya tidak akan terlalu besar," kata Bayu dalam jumpa pers tentang kinerja perdagangan Indonesia di Kementerian Perdagangan, Jakarta, akhir pekan lalu.

Berdasarkan neraca perdagangan yang diumumkan Badan Pusat Statistik, nilai ekspor komoditas non migas Indonesia ke Amerika Serikat selama Januari - September 2012 tercatat sebesar US$ 11,08 miliar atau 9,69 % dari keseluruhan ekspor non migas sebesar US$ 114,36 miliar.

Menurut Bayu, dari nilai ekspor sekitar US$ 3,24 miliar yang masuk melalui pelabuhan di kawasan timur AS, sebagian besarnya masuk melalui New York yaitu sebesar US$ 1,64 miliar ."Tapi saya perkirakan dalam dua pekan ke depan perekonomi AS akan kembali pulih," kata Bayu.

Bayu mengatakan beberapa produk ekspor utama Amerika Serikat adalah karet ( US$ 1,2 miliar ), mesin cetak ( US$ 323 juta), pakaian tekstil ( US$ 305 juta). Namun dia tidak bisa menyebutkan secara spesifik komoditas apa saja yang terkena dampak badai Sandy."Kalau yang terkena badai Sandy, itu tergantung dari rute mana yang dilewatinya, yang pasti tiga komoditas itu merupakan ekspor terbesar kita," katanya.

Nilai ekspor Indonesia ke AS pada September 2012 tercatat mengalami peningkatan sebesar US$ 16,7 juta menjadi US$ 1,18 miliar dari sebelumnya sebesar US$ 1,16 miliar pada Agustus 2012. Badai Sandy, salah satu topan akhir musim Atlantik terburuk dalam beberapa dekade, telah menewaskan 41 orang di Karibia dan sedikitnya 10 orang di New York. Media lokal melaporkan kerusakan paling parah akibat badai itu terjadi di daerah dataran rendah di New York dan sekitarnya.

Ekspor Non Migas

Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan mengungkapkan penguatan ekspor yang didorong oleh meningkatnya ekspor nonmigas telah memberikan sinyal positif bagi kinerja ekspor Indonesia Juli 2012, di tengah melemahnya ekspor migas.

“Total ekspor Indonesia di bulan Juli 2012 mencapai US$ 16,2 miliar, meningkat 4,6% dibandingkan bulan sebelumnya (MoM). Peningkatan ini didorong oleh kenaikan ekspor nonmigas sebesar 5,0%, sementara ekspor migas hanya naik sebesar 2,7%,” sambung Mendag Gita Wirjawan. “Pertumbuhan ekspor Juli tahun ini sebesar -7,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (YoY), lebih baik dari bulan Juni dan Mei yang masing-masing mencapai -16,2% dan -8,2%,” imbuh Mendag.

Secara kumulatif, ekspor Januari-Juli 2012 mencapai US$ 113,1 miliar, menurun 2,4% (YoY). Penurunan ekspor terjadi akibat melemahnya harga komoditi ekspor utama Indonesia di pasar internasional, seperti batubara turun 19,0%, palm oil (8,2%), palmkernel oil (33,6%), udang (18,8%), karet (30,5%), dan barang tambang selain batubara rata-rata (22,3%).

Beberapa produk yang nilai ekspornya mengalami peningkatan signifikan antara lain: minuman naik lebih dari 1.200%, gandum-ganduman (698,9%), makanan olahan (54,1%), kendaraan dan bagiannya (39,2%), sabun dan pembersih (35,7%), dan minyak nabati (26,1%).

Ekspor Bulan Juli 2012 Naik 4,6% Setelah Sebelumnya Mengalami Penurunan Sementara itu, ekspor bulan Juli 2012 naik 4,6% (MoM) setelah sebelumnya mengalami penurunan. Ekspor bulan Juli 2012 tersebut mencapai USD 16,2 miliar, namun turun 2,5% dari bulan yang sama tahun lalu (YoY). Ekspor tersebut terdiri dari ekspor migas sebesar US$ 3,0 miliar (naik 2,7% MoM dan turun 1,0% YoY) serta ekspor nonmigas sebesar US$ 13,2 miliar (naik 5% MoM dan turun 2,9% YoY).

Kenaikan ekspor nonmigas Juli dipicu oleh meningkatnya ekspor di sektor pertanian dan sektor industri yang masing-masing meningkat 20,6% dan 6,3% (MoM). Sementara kenaikan ekspor migas bersumber dari naiknya ekspor hasil minyak dan gas.

Gita juga menjelaskan bahwa ekspor nonmigas Indonesia ke beberapa negara emerging market seperti negara-negara di kawasan Afrika selama periode Januari-Juli tahun ini tumbuh pesat. Ekspor Indonesia ke Pantai Gading meningkat 391,6% (YoY)menjadi USD 71,97 Juta pada Januari-Juli tahun ini.

“Ekspor Indonesia juga meningkat pesat ke beberapa negara lain seperti Lybia, Mauritania, Pakistan, Yaman, Angola, Djibouti, dan Saudi Arabia yang masing-masing meningkat 357,8%, 287,5%, 83,5%, 83,5%, 74,9%, 65,6%, dan 52,6%,” ujar Mendag.

BERITA TERKAIT

Pemerintah Terus Berupaya Perluas Pasar Ekspor Otomotif

Pemerintah tengah berupaya menggenjot nilai ekspor produk manufaktur dalam upaya memperbaiki perekonomian nasional. Hal ini seiring implementasi peta jalan Making…

Sepanjang Januari- Juli 2018, Toyota Ekspor 117 Ribu Mobil

PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) mengumumkan capaian positif ekspor kendaraan sepanjang Januari-Juli 2018 mencapai 117.200 unit, meningkat 1,3 persen,…

Indonesia-Sri Lanka Lanjutkan Kesepakatan Ekspor Pakaian

NERACA Jakarta – Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe di Hanoi, Vietnam, Rabu, membahas tindak…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

CIPS: Lindungi Petani, Waktu Impor Beras Harus Tepat

NERACA Jakarta – Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Assyifa Szami Ilman mengatakan, pemerintah perlu mempertimbangkan waktu impor beras…

Indonesia-Sri Lanka Lanjutkan Kesepakatan Ekspor Pakaian

NERACA Jakarta – Pertemuan Presiden Joko Widodo dengan Perdana Menteri Sri Lanka Ranil Wickremesinghe di Hanoi, Vietnam, Rabu, membahas tindak…

Pemerintah Serius Tarik Investasi Sektor Riil Asal Korsel

NERACA Jakarta – Pemerintah Indonesia terus berupaya menarik investasi Korea Selatan di sektor industri manufaktur. Langkah strategis ini bertujuan untuk…