Laba Anjlok, Target Dividen BUMN Meleset - RAPOR MERAH BUMN SEKTOR TAMBANG

NERACA

Jakarta – Imbas melempemnya harga komoditas dunia ternyata memberikan dampak yang berarti bagi industri pertambagan dan termasuk Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor energi dan tambang. Tercatat pada kuartal tiga, kinerja keuangan BUMN tambang meraih rapor merah dengan penurunan laba dan pendapatan.

Pengamat pasar modal dari FEUI Budi Frensidy mengatakan, menurunnya kinerja BUMN tambang akan berimbas pada target setoran dividen BUMN kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), “Menurunnya laba BUMN, maka menurun pula pemberian dividen kepada negara sehingga tidak seperti yang diharapkan,”katanya kepada Neraca di Jakarta, Kamis (1/11).

Asal tahu saja, Prestasi BUMN pertambangan mencatakan penurunan kinerja pada kuartal III-2012. Hal ini bisa dilihat dari perolehan laba yang turun, mulai dari laba PT Timah Tbk (TINS) yang anjlok 57% dari Rp 860 miliar menjadi Rp 370 miliar dan laba PT Bukit Asam Tbk (PTBA) juga turun 5,33%. Kini menyusul Timah dan Bukit Asam, ada PT Aneka Tambang Tbk (Antam) yang juga mencatatkan perolehan laba bersih kuartal ketiga 2012 turun menjadi Rp627,77 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,55 triliun.

Kondisi yang sama juga dialami PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang membukukan penurunan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (unaudited) sebesar 99,25% menjadi Rp7,75 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,04 triliun.

Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk Irvan Kamal Hakim mengatakan, penurunan laba dikarenakan meningkatnya beban pendapatan perseroan yang tercatat mencapai Rp14,72 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp11, 44 triliun.

Selain itu, perseroan mengalami kerugian selisih kurs menjadi Rp197,02 miliar hingga kuartal ketiga 2012 dari periode sama sebelumnya untung Rp40,50 miliar. Padahal, pendapatan bersih perseroan tercatat mencapai Rp15,87 triliun atau naik dibandingkan periode sembilan bulan pertama tahun sebelumnya yang mencapai Rp12,65 triliun.

Oleh karena itu, dirinya menyakini hingga akhir tahun ini target dividen BUMN kepada negara tidak akan tercapai. Alasannya, kondisi harga komoditas yang tidak bagus seiring dengan perlambatan ekonomi global akan memaksa kinerja BUMN pertambangan tidak sesuai target.

Menurut Budi, selama ini dividen Indonesia memang bergantung kepada BUMN perbankan dan tambang, apabila salah satu mengalami kendala dalam memberikan dividen maka akan menurunkan dividen Indonesia.

Dia mengatakan, apabila pemerintah ingin menaikkan dividen BUMN maka naikkan saja dividen payout nya sehingga bisa memenuhi target deviden negara. Namun, yang menjadi permasalahan adalah apakah BUMN tambang akan menaikkan dividen payout untuk memenuhi target dividen negara.”Dengan kondisi ekonomi global yang tidak menentu maka akan sulit bagi BUMN tambang untuk menaikkan dividen payout-nya,” tandasnya.

Dia menambahkan bahwa dengan turunnya dividen payout ratio BUMN perbankan sekitar 25% dari 30-40% bisa mempengaruhi masuknya dividen negara dalam APBN. Angka dividen payout BUMN perbankan yang turun akan mengakibatkan sumber dividen dari perbankan menjadi menurun juga.

Sebab itu, pemerintah dituntut untuk mencari jalan keluar agar target dividen dapat tercapai dan salah satunya diperlukan sinergi antara BUMN perbankan dan tambang, “.”Pemerintah memberikan kebijakan yang bisa menguntungkan bagi BUMN dan pemerintah itu sendiri.”tegasnya.

Hal senada juga disampaikan pengamat pasar modal dari FE Univ.Pancasila Agus S. Irfani, target pencapaian dividen BUMN di akhir tahun ini kemungkinan besar tidak akan tercapai, mengingat ini juga sudah memasuki November.

Menyoal kinerja BUMN sektor tambang, menurutnya, memang masih terpengaruh harga komoditas yang menurun akibat krisis ekonomi global. "Pengaruh krisis global sangat besar, terutama di Eropa sehingga ekspor kita tidak bisa berharap banyak ke sana. Karena mereka juga sedang mengetatkan anggaran, salah satunya untuk impor. Oleh karena itu BUMN pertambangan tidak akan pernah untung ke depannya," paparnya.

Dia juga mengungkapkan, BUMN perbankan masih yang terbaik dan tersehat dari BUMN-BUMN di sektor lainnya. Meskipun demikian, hal tersebut tidak akan bisa menutup kekurangan target dividen kepada negara.

Selain itu, Agus Irfani juga menilai, kinerja BUMN tambang menurun merupakan akibat dari program clean corporate governance yang sedang dijalankan Dahlan Iskan di semua perusahaan BUMN. "Jadi BUMN semakin berhati-hati. Mereka jadi takut jika ada "tikus" dalam perusahaannya yang ketahuan kerjasama dengan "tikus" di DPR. Kemudian hal ini membuat pasar jadi pesimis," jelasnya. mohar/ria/bani

BERITA TERKAIT

BUMN Diusulkan Bantu Milenial Miliki Rumah

BUMN Diusulkan Bantu Milenial Miliki Rumah NERACA Jakarta - Pengamat properti, Ali Tranghanda menyampaikan usulan agar BUMN dapat membantu generasi…

Pengembang Minta Target Rumah Bersubsidi Naik di 2019

      NERACA   Jakarta - Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) meminta Pemerintah menaikkan jatah unit…

Citibank Peroleh Laba Rp1,4 Triliun

  NERACA   Jakarta - Citibank N.A., Indonesia (Citibank) mencatatkan laba bersih hingga kuartal III-2018 mencapai Rp1,4 triliun. Sayangnya, angka…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

MENKEU IMBAU MASYARAKAT KURANGI KEGIATAN KE LUAR NEGERI - BI: CAD Triwulan III-2018 Capai 3,37% PDB

Jakarta-Bank Indonesia mengungkapkan, defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit-CAD) pada triwulan III-2018 mencapai US$8,8 miliar atau 3,37% terhadap PDB,…

Ancaman Industri Hengkang di Tengah UMP 2019

NERACA Jakarta-Meski ada penolakan dari sebagian serikat pekerja, sejumlah provinsi telah mengumumkan kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2019 sesuai dengan…

SATGAS PANGAN POLRI KEJAR PELAKU PENGUBAH SPESIFIKASI BERAS - Tidak Ada Alasan Harga Beras Naik, Stok Cukup

Jakarta-Kementerian Pertanian mengklaim kenaikan harga beras kualitas medium merupakan anomali, karena stok beras di gudang milik Bulog maupun di Pasar Induk…