Beban Usaha Meningkat, Laba KS Anjlok 99,25% - Permintaan Baja Meningkat

NERACA

Jakarta– Menyusul melorotnya laba PT Bukit Asam Tbk, kini giliran PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang juga membukukan penurunan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk (un audited) sebesar 99,25% menjadi Rp7,75 miliar hingga September 2012 dari periode sama sebelumnya Rp1,04 triliun.

Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam siaran persnya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Kamis (1/11). Dijelaskan, penurunan tersebut dikarenakan meningkatnya beban pendapatan perseroan yang tercatat mencapai Rp14,72 triliun dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp11, 44 triliun.

Selain itu, perseroan mengalami kerugian selisih kurs menjadi Rp197,02 miliar hingga kuartal ketiga 2012 dari periode sama sebelumnya untung Rp40,50 miliar. Padahal, pendapatan bersih perseroan tercatat mencapai Rp15,87 triliun atau naik dibandingkan periode sembilan bulan pertama tahun sebelumnya yang mencapai Rp12,65 triliun.

Total liabilitas perseroan sendiri tercatat naik menjadi Rp13,25 triliun pada 30 September 2012 dari periode 31 Desember 2011 sebesar Rp11,15 triliun. Sementara Ekuitas perseroan turun menjadi Rp10,12 triliun pada 30 September 2012 dari periode 31 Desember 2011 sebesar Rp10,35 triliun. Kas dan setara kas perseroan turun menjadi Rp2,32 triliun pada 30 September 2012 dari posisi 31 Desember 2011 sebesar Rp3,59 triliun.

Revitalisasi Pabrik

Selain itu, perseroan juga akan mempercepat revitalisasi pabrik baja slab I yang saat ini prosesnya hampir mendekati 100% sebagai antisipasi meningkatnya permintaan baja pada 2013 utamanya dari pasar domestic, “Revitalisasi pabrik baja slab I saat ini sudah mencapai 96%, diperkirakan akan selesai dalam waktu dekat," kata Direktur Utama PT Krakatau Steel Tbk. Irvan Kamal Hakim.

Menurutnya, melalui revitalisasi tersebut produksi baja slab KS dapat ditingkatkan menjadi 2,1 juta ton per tahun, tumbuh 16,7% dari sebelumnya. Baja slab tersebut selanjutnya akan diolah lagi menjadi hot strip mill.

Sepanjang sembilan bulan tahun ini, konsumsi baja di Indonesia cenderung meningkat, khususnya di sektor konstruksi, manufaktur dan infrastruktur. Hal itu tercermin pada peningkatan volume penjualan KS pada Q3 2012 tumbuh 16,3 persen (YoY) sebesar 1,7 juta ton. Tren peningkatan tersebut diperkirakan akan terus berlanjut hingga akhir 2012.

Peningkatan penjualan tersebut ditopang oleh peningkatan produksi baja hot roll coil (HRC) KS pada Q3 2012, sebesar 5,2% (YoY) mencapai 1,3 juta ton dengan tingkat utilisasi meningkat 76%. Peningkatan penjualan itu juga mengontribusi pertumbuhan pendapatan perseroan pada kuartal ke-3 2012, yang tumbuh 25,48% menjadi Rp15,88 triliun dari Rp12,65 triliun pada periode sebelumnya.

Namun, mengingat perseroan tengah merevitalisasi pabrik slab, akibatnya kebutuhan slab harus dipenuhi dari pihak luar. Hal itu membuat biaya yang ditanggung perseroan juga meningkat. Hal itu terlihat pada beban usaha KS, yang meningkat 1,77% menjadi Rp977,61 miliar dari Rp960,6 miliar, sehingga laba usaha tergerus 31,11% menjadi Rp172,07 miliar dari Rp249,79 miliar.

Untuk menyiasati hal tersebut, selain mempercepat revitalisasi pabrik slab, manajemen KS melakukan efisiensi, salah satunya dengan mempercepat pembangunan Pabrik Blast Furnace.

Pabrik yang akan memproduksi baja cair dan slab ini diharapkan bisa selesai lebih cepat dari tenggat waktu yang ditetapkan pada semester kedua 2014."Pabrik tersebut dapat menghemat biaya produksi, mengingat teknologinya menggunakan energi batubara. Seiring meningkatnya harga gas, penggunaan batubara jauh lebih efisien," ujar Irvan.

Menurut Sekjen IISIA Edward Pinem, kondisi industri baja nasional saat ini dipengaruhi berbagai faktor, diantaranya kelangkaan dan mahalnya harga bahan baku serta persaingan dengan baja impor yang membanjiri pasar dalam negeri.

Begitupula industri baja regional, sebagian besar perusahaan baja di Asia juga mengalami penurunan kinerja."Kinerja perusahaan baja di Taiwan, Korsel, Jepang, Malaysia dan negara lainnya juga tengah tertekan. Posco saja saat ini tengah mengalami kesulitan, sehingga harus melepas beberapa asetnya," ujar Edward. (bani)

BERITA TERKAIT

Kadin Berharap Pemerintah Susun Regulasi Lebih Pro Dunia Usaha - Sektor Riil

NERACA Jakarta – Kamar Dagang dan Industri Indonesia berharap pemerintah membuat kebijakan dan regulasi bidang kelautan dan perikanan pro dunia…

LPDB Ajak KUMKM Babel Kembangkan Usaha

LPDB Ajak KUMKM Babel Kembangkan Usaha NERACA Pangkal Pinang - Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah…

PTBA Bukukan Laba Bersih Rp 3,93 Triliun

Di kuartal tiga 2018, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) membukukan laba bersih Rp3,93 triliun, naik 49,67% year on year (yoy)…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

BEI Suspensi Saham Shield On Service

Setelah masuk dalam pengawasan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) lantaran terjadi peningkatan harga saham di luar kewajara, kini BEI menghentikan…

Gugatan First Media Tidak Terkait Layanan

Kasus hukum yang dijalani PT First Media Tbk (KBLV) memastikan tidak terkait dengan layanan First Media dan layanan operasional perseroan…

Strategi Hilirisasi - Pabrik Feronikel Antam Rampung Akhir Tahun

NERACA Jakarta – Komitmen PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjalankan strategi hilirisasi terus dilakukan dengan pembangunan pabrik Feronikel Haltim dengan…