Perbanas Kritik Minimnya Kontribusi Pasar Modal

NERACA

Jakarta – Minimnya kontribusi pasar modal pada sektor keuangan menjadi kritikan tajam bagi PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Pasalnya, Perhimpunan Bank-Bank Umum Nasional (Perbanas) menilai kontribusi pasar modal di sektor keuangan tidak mengalami signifikan dan diminat untuk lebih ditingkatkan agar dapat mendorong pertumbuhan sektor lainnya.

Ketua Bidang Pengkajian Perbanas Raden Pardede mengatakan, pasar modal perlu dipacu pertumbuhannya, kemampuan pasar modal dalam penyediaan likuiditas masih terbatas sekitar Rp30 triliun per tahun, padahal pertumbuhan di sektor lain cepat,”Jadi kontribusi pasar modal perlu ditingkatkan, “katanya di Jakarta, Kamis (1/11).

Menurutnya, pasar modal yang dapat berkembang lebih baik maka industri perbankan juga akan mengalami hal sama. Pasar modal perlu dikembangkan dikarenakan bank tidak dapat berkembang tanpa pasar modal.

Dia mengemukakan, industri perbankan saat ini menguasai sekitar 70 persen dari pangsa pasar di sektor keuangan, ke depannya diharapkan kontribusi pasar modal dapat seimbang dengan industri perbankan."Secara perlahan ke depan akan bergeser aset keuangan bisa 50-50 antara perbankan dan pasar modal. Hal itu untuk pertumbuhan, perlu modal yang tumbuh juga,"

"Bank tidak bisa maju sendirian. Pasar modal harus maju juga, karena permodalan bank nanti dari sana tidak hanya dari DPK (dana pihak ketiga) lagi,”ungkapnya.

Untuk mengembangkan sektor lainnya, dikatakan dia, penyedian modal cukup dibutuhkan saat ini, yakni dengan pendalaman pasar keuangan. Dengan begitu, menurut dia, merupakan prasyarat untuk mendukung perkembangan sektor perbankan yang sehat, terutama di dalam penyediaan likuiditas.

Raden menyarankan beberapa langkah yang perlu dilakukan untuk mendorong perkembangan pasar keuangan, diantaranya mendorong pasar uang lebih efisien agar lebih dalam dan likuid, memperdalam pasar surat utang pemerintah untuk berbagai tenor.

Kemudian, pengembangan berbagai alat dan instrumen bank sentral dalam pengelolaan likuiditas dan acuan suku bunga perbankan nasional, memperluas pelanggan atau investor SUN (surat utang negara) baik di tingkat domestik maupun di tingkat global. Selain itu, perlu juga mendorong distribusi dan diversifikasi kepemilikan yang lebih luas, memperdalam likuiditas sehingga mengurangi risiko.

Pengamat ekonomi Aviliani menambahkan, industri perbankan diharapkan terus berusaha meningkatkan modalnya dikarenakan pada tahun 2015-2016 sebanyak 50 bank diperkirakan membutuhkan modal yang cukup mendesak.

Dirinya mendesak, pemilik bank juga harus sudah mengambil strategi apakah nantinya harus mencari partner atau 'merger' dengan bank lainnya. "Diatas 50 bank kebutuhan modal mendesak di 2015-2016, apakah pemiliknya mau nambah modal? Jika iya, berarti harus cari 'partner' atau 'merger'. Itu harus disiapkan dari sekarang," kata dia.

Dengan begitu, lanjut dia, industri perbankan akan memiliki daya tahan dan daya dukung kuat terhadap perkembangan ekonomi mendatang. (ria)

BERITA TERKAIT

SKK Migas Inginkan Penyebaran Informasi Kontribusi Hulu Migas Di Daerah

NERACA Balikpapan - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) bersama Kontraktor Kontrak Kerjasama…

BI Yakin Arus Modal Asing Tetap Deras - Suku Bunga Acuan Turun

      NERACA   Jakarta - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo meyakini aliran modal asing akan tetap masuk…

Investor Ritel di Pasar Obligasi Masih Minim

NERACA Jakarta – Tren pertumbuhan obligasi yang terus meningkat tidak diiringi dengan pertumbuhan investor ritel yang berinvestasi di pasar obligasi.…

BERITA LAINNYA DI BURSA SAHAM

Genjot Pertumbuhan KPR, BTN Gandeng TNI

NERACA Jakarta – Kejar pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR), PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk terus memperluas kerjasamanya. Setelah awal…

Perluas Inklusi Keuangan Lewat Inovasi Layanan Kekinian

Istilah fintech (Financial Technology)  kini bukan hal yang asing didengar seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri digital saat ini. Bergerak dinamis perubahan industri…

Bantah Kendalikan Harga Saham - Bliss Properti Siap Tempuh Jalur Hukum

NERACA Jakarta – Emiten properti, PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA) angkat bicara soal tuduhan soal mengendalikan harga saham yang…