Target Transaksi Pameran Alat Musik Rp22 Miliar

NERACA

Jakarta - Target transaksi pameran peralatan musik Jakarta Audio Expo (Japex) 2012 diproyeksikan mencapai Rp22 miliar atau tumbuh 30% dibandingkan dengan realisasi penyelenggaraan tahun lalu sebesar Rp17 miliar. Media Center PT Jakarta International Expo, penyelenggara Japex 2012 Siswanto, menuturkan jumlah pengunjung juga ditargetkan naik dari 15.000 orang pada tahun lalu menjadi 21.000 orang tahun ini.

Japex 2012 digelar di Jakarta International Expo (JIExpo), Kemayoran, Jakarta, pada 1—4 November 2012. Para disk jockey, pecinta musik, dan pengusaha hiburan bisa mengikuti perkembangan alat-alat musik dan peralatan pertunjukan dalam pameran tersebut. Japex merupakan pameran perlengkapan musik instrumen dan sound system yang dinilai terbesar di Indonesia dan sudah termasuk dalam rentetan pameran audio musik dunia.

Dalam pameran ini, pengunjung bisa melihat perkembangan, penjualan, dan pengenalan produk-produk terbaru dalam dunia musik mulai dari instrumen hingga sekolah musik. “Beberapa peserta pameran akan menyuguhkan peralatan musik instrumen, termasuk aksesorinya,” kata dia di Jakarta, Kamis (1/11).

Selain itu, produk pameran tersebut juga terdiri dari audio profesional, sound system, dan perlengkapan lighting system. Seperti pameran tahun lalu, kata dia, kali ini akan berkumpul para pengusaha hiburan, musisi, komunitas musik, pemilik rental alat musik, pemilik karaoke, dan pengelola sekolah musik.

Panitia penyelenggara memprediksi jumlah pengunjung pameran tersebut mencapai 5.000 orang per hari. Dengan demikian, pengunjung pameran yang telah digelar delapan kali ini ini diharapkan mencapai 21.000 pengunjung selama 4 hari penyelenggaraan tahun ini.

Dalam Japex tahun ini juga akan dimeriahkan acara panggung klinik musik yang akan diisi oleh pemusik kelas atas, seperti Abdi Slank, Gugun Blues Shelter, Firman Al Hakim, Choky Netral, Titi Sjuman, Badai Kerispatih, dan Robby Freakenstain. “Pengunjung diharapkan mendapatkan pengetahuan dan informasi apa saja yang terkait dengan produk alat musik instrumen dan juga soal sound system,” tuturnya.

Dorong Industri Musik

Sementara itu, Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan Edy Putra Irawadi mengatakan pemerintah sangat mendorong penuh berkembangnya industri musik ditanah air. Pasalnya industri musik adalah salah satu sumber pendapatan negara. “Industri musik pendorong penerimaan (negara), itu berarti menolong daya konsumsi. Oleh karena itu pemerintah mendorong karena kreatifitas ini sumber ekonomi, kegiatan ekonomi, kegiatan produksi,” katanya.

Penerimaan pajak, sambung dia, dari sektor industri musik sekitar 10%. Menurutnya banyak sumber-sumber PPN yang bisa didapat dari industri musik diantaranya CD player, dan sofwer. Selain itu, lanjutnya, alat-alat musik seperti gitar, piano dan sebagainya yang harus mengekspor. “Bayangkan alat musik ekspornya besar, ekspor gitar, piano itu besar belum lagi konsumsi dalam negerinya, jadi kalau kreatifitas ini dimatikan. Maka saya percaya sumber nilai, kreatifitas turun, industripun akan turun,”ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, semua negara konsen terhadap industri musik, maka alangkah naifnya jika RI tidak konsen terhadap nilai, kreatifitas, konsumsi, industri dan ekspor dalam industri musik. Menurutnya, sudah banyak yang dilakukan pemerintah terhadap dunia musik.

“Upaya pemerintah terhadap industri musik tidak banyak disadari, terutama pengamanan pasar dalam negeri mungkin dulu banyak yang paham bagaimana kita mengamankan pajak dan impor terhadap CD-CD. Dulu memang dalam kepingan tetapi nilai tambah didalam CD, jadi selama ini yang kita pungut hanya dalam CD kepingan. Tapi sekarang kita pindahkan klarisikasi nomornya sehingga yang dikenakan bea masuk adala kontennya sehingga bea masuk jadi lebih tinggi harga barang impornya,” terangnya.

Sementara Plt. Dirjen Nilai Budaya, Seni & Film Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Ukus Kuswara mengatakan dari data sementara tahun 2010 PDB kontribusi nasional yang berasal dari industri musik mencapai 0,37%. Dimana jumlah tenaga kerja yang terserap dalam dunia ini mencapai 150.516 orang. Untuk nilai ekspor industri musik,tutur dia, sebesar Rp173.069 juta, dan nilai impor Rp82.155 juta. “Ini sesuatu yang luar biasa kalau kita mengembangkan ini. Sudah saatnya ini kita genjot bersama,” tegasnya.

BERITA TERKAIT

Libur Lebaran, Transaksi Elektronik Mandiri Syariah Tumbuh

    NERACA   Jakarta - Selama libur lebaran Mei 2019, transaksi kanal elektronik (electronic channel) PT Bank Syariah Mandiri…

Siapkan Capex Rp 28 Miliar - Bali United Bidik Laba Operasi Rp 10 Miliar

NERACA Jakarta – Menjadi klub sepakbola pertama di Asean yang sahamnya tercatat di pasar modal, PT Bali Bintang Sejahtera Tbk…

Tawarkan Harga Rp 231-243 Persaham - MNC Vision Network Incar IPO Rp 856 Miliar

NERACA Jakarta – Danai ekspansi bisnisnya, PT MNC Vision Networks bakal melakukan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) saham pada…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Diminati Pasar Global, Ekspor Batik Dibidik 8%

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus berkontribusi dalam upaya pelestarian batik Nusantara serta mendorong pengembangan industri batik nasional agar lebih…

Niaga Internasional - Amerika Serikat Tetap Jadi Tujuan Penting Ekspor Indonesia

NERACA Jakarta – Walaupun terkena imbas dari perang dagang antara Amerika Serikat dengan China, Amerika Serikat tetaplah tujuan penting dari…

Pasar Produk Kerajinan Nasional Semakin Meluas

NERACA Jakarta – Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menjelaskan, pemerintah menyadari produk kerajinan…