Sepanjang 2012, Penjualan Obat Tumbuh 15%

NERACA

Jakarta - Hingga akhir tahun penjualan obat di dalam negeri tumbuh 15% karena besarnya permintaan dari konsumen. Peningkatan penjualan itu juga yang menstimulasi sejumlah produsen melakukan ekspansi dengan mendirikan pabrik baru.

“Meningkatnya permintaan obat dipasar domestik yang mencapai 15% membuat beberapa produsen obat mulai menambah kapasitas produksi. Selain itu, beberapa perusahaan seperti Kalbe Group, PT Indofarma dan PT Phapros mulai berekspansi dengan mendirikan pabrik,” kata Direktur Eksekutif Gabungan Perusahaan (GP) Farmasi Indonesia, Dorodjatun Sanusi, di Jakarta, Kamis (1/11).

Perusahaan farmasi di dalam negeri, menurut Dorodjatun, ingin memperbesar kapasitas produksinya dengan mendirikan pabrik baru. “Kondisi pasar domestik yang cukup baik membuat permintaan obat berlabel serta generik semakin besar. Hal ini berdampak pada perluasan pabrik di Indonesia,” paparnya.

Untuk penjualan obat nasional pada tahun lalu, lanjut Dorodjatun, mampu menembus angka US$5 miliar. “Apabila pada tahun lalu nilai penjualan obat nasional berkisar US$5 miliar, maka pada tahun ini diyakini tumbuh 13%-15%,” ujarnya.

Sejumlah indikator yang menjadi patokan pertumbuhan industri farmasi adalah pesatnya pertumbuhan ekonomi, peningkatan jumlah penduduk, serta membaiknya taraf ekonomi dan pendidikan masyarakat. Untuk negara maju mungkin pertumbuhan industri farmasinya rendah, yakni sekitar 3%, sedangkan negara-negara berkembang seperti Indonesia bisa 10% hingga 2015.

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Lucky S. Slamet mengungkapkan Pemerintah akan memblokir 83 laman internet yang menjual obat ilegal. "Kami akan mengirimkan suratnya hari ini, ke Kementerian Kominfo agar website yang teridentifikasi menawarkan dan memasarkan produk obat ilegal secara online ini untuk diblokir," kata Lucky.

Operasi Pangea adalah aksi internasional yang menyasar penjualan produk obat ilegal termasuk palsu secara online. Keikutsertaan Indonesia dalam aksi ini sudah kali kedua sejak operasi itu digelar lima tahun yang lalu.

Operasi Pangea V diikuti sebanyak 100 negara, yang dikoordinasikan oleh International Criminal Police Organization (ICPO)- Interpol. Sementara di Indonesia, operasi dilakukan secara terpadu antara BPOM, Kepolisian, Kejaksaan Agung, Kementerian Kominfo dan Ditjen Bea Cukai Kementerian Keuangan dalam kerangka Satuan Tugas (Satgas) Pemberantasan Obat dan Makanan Ilegal.

Pada saat pelaksanaan operasi, BPOM melakukan pemeriksaan atas empat sarana distribusi yaitu tiga sarana di DKI Jakarta dan satu sarana di wilayah Yogyakarta. Sebanyak 66 obat ditemukan dan disita dari operasi tersebut yang terdiri atas 40 item produk obat untuk disfungsi ereksi, tiga item produk perangsang libido wanita, dan empat item anestesi lokal.

Selain itu, 8 item obat tradisional penurun berat badan dan dua barangsuplemen makanan ilegal, serta sembilan produk kategori lainnya. Nilai keekonomian dari barang yang disita tersebut ditaksir sekitar Rp150 juta.

"Tren temuan Operasi Pangea V di Indonesia ini hampir sama dengan tren temuan Operasi Pangea IV tahun 2011 yaitu obat disfungsi ereksi, diikuti jenis obat penurun berat badan dan perangsang libido wanita," kata Lucky.

Dua orang pelaku yang memasarkan produk obat ilegal secara online juga telah ditahan di Bareskrim Polri dan telah dilakukan penyitaan terhadap seluruh barang bukti untuk diproses secara hukum. Lucky meminta kepada masyarakat untuk membantu melaporkan praktik penjualan obat dan makanan ilegal baik secara online maupun tidak, untuk membantu penertiban karena efek dari obat dan makanan ilegal itu berbahaya bagi manusia terutama jika dikonsumsi dalam jangka waktu lama.

"Untuk obat pelangsing yang disita saat ini kandungannya sedang dalam pengujian, tapi kajian kami dari produk serupa mengandung bahan kimia yang tidak diperbolehkan yang efek sampingnya mulai dari denyut jantung meningkat, gangguan ginjal, kejang, sulit tidur dan lainnya," papar Lucky.

Jejaring media sosial juga tidak akan luput dari pantauan Satgas karena media itu juga seringkali melakukan penjualan obat ilegal. "Social media ini target selanjutnya. Kami memang akan memperluas cakupan operasi, baik dari daerah maupun jenis medianya. Kita lakukan pemantauan sepanjang tahun," kata Lucky.

BERITA TERKAIT

Sentul City Bukukan Penjualan Rp 813 Miliar

NERACA Bogor – Emtien properti, PT Sentul City Tbk (BKSL) berhasil mencatatkan kinerja positif di kuartak tiga 2018. Dimana perseroan…

BI: Ekonomi Banten Tumbuh Sangat Baik Pada 2018

BI: Ekonomi Banten Tumbuh Sangat Baik Pada 2018 NERACA Serang - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten Rahmat Hernowo…

Mata Uang Digital Di Indonesia Mulai Tumbuh

  NERACA   Jakarta - Pakar keuangan dari Skipjack Corporation Profesor Dr Mike Irvan melihat mata uang digital mulai tumbuh…

BERITA LAINNYA DI BERITA KOMODITAS

Hingga Akhir Tahun 2018, Udang Masih Jadi Primadona Ekspor Sektor Perikanan

  NERACA Jakarta - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatat hingga akhir tahun ekspor hasil perikanan jelang akhir tahun 2018…

Penilaian Menteri - Perang Dagang Seharusnya Bisa Tingkatkan Produksi dan Ekspor

NERACA Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan, fenomena perang dagang antara Amerika Serikat dan China seharusnya bisa…

Ekspor Melalui Kuala Tanjung Ditargetkan Capai 1.000 TEUS

NERACA Jakarta – Ekspor langsung melalui Pelabuhan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, ditargetkan bisa mencapai hingga 1.000 TEUs saat dioperasikan pada…