Industri Furniture Ditaksir Tumbuh 10%

NERACA

Jakarta – Direktur Industri Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Aryan Wargadalam mengatakan pertumbuhan industri furniture hingga akhir tahun ditaksir bisa mencapai 10% salah satu pendukungnya adalah rotan.

“Walaupun kondisi pasar ekspor Amerika Serikat dan Eropa tidak kondusif akibat krisis ekonomi, pertumbuhan industri furnitur kayu pada tahun ini sebesar 10%. Salah satu subsektor yang cukup menjanjikan adalah industri furnitur rotan dengan omset penjualan mencapai USD200 juta, tumbuh 28,5% dibandingkan realisasi tahun lalu sebesar USD143 juta,” kata dia di Jakarta, Kamis (1/11).

Sementara itu, kata dia, untuk omset industri furniture pada tahun ini meningkat 5% dari realisasi tahun lalu. “Pada tahun lalu, omset industri furnitur kayu mencapai USD1,6 miliar dan hingga akhir tahun diproyeksikan meningkat 5%,” ujarnya. Menurut dia, Industri furnitur nasional masih mengalami kendala untuk menjadi pemimpin di kawasan Asean. “Posisi pertama industri furniture masih dipegang Vietnam dan masalah investasi serta faktor teknologi yang minim merupakan salah satu kendalanya,” paparnya.

Aryan menambahkan, pada industri furnitur rotan yang merupakan subsektor industri kayu menunjukkan kinerja yang postif. “Rata-rata omset sebulan produsen rotan olahan mendekati USD20.000. Menjelang akhir tahun omsetnya diperkirakan mencapai USD200 juta,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Argo Kementerian Perindustrian, Benny Wahyudi menilai bahwa saat ini pemerintah terus melakukan pengembangan industri furnitur nasional. Dengan banyaknya bahan baku yang ada di dalam negeri, pemerintah mengharapkan produk yang dihasilkan bernilai tambah, berdaya saing global dan berwawasan lingkungan.

Daya saing furnitur Indonesia didukung sumber bahan baku alami yang melimpah dan berkelanjutan, serta keragaman corak desain yang berciri khas lokal."Indonesia merupakan salah satu negara yang sangat kaya akan sumber daya hutan," ujarnya.

Benny menambahkan Indonesia memiliki hutan tropis seluas 133,84 juta hektar yang dapat menghasilkan bahan baku yang tumbuh lebih cepat. Selain itu, jatah produksi rotan lestari secara nasional tahun 2012 sebesar 143.120 ton. "Indonesia merupakan penghasil bahan baku rotan dunia sekitar 85%," katanya.

Perdagangan furniture dunia secara konsisten berkontribusi sebesar 1% dari total perdagangan manufaktur dunia. Pada 2009 perdagangan furniture dunia mencatat sebesar USD 96 miliar dan naik menjadi USD 107 miliar di 2010. Tahun 2011 naik sebesar 6%. Pada tahun ini diharapkan perdagangan furnitur naik 2%.

Tingkatkan Kualitas

Namun demikian, Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono memandang bahwa tidak lama lagi, merek furniture ternama asal Swedia, IKEA akan ikut meramaikan persaingan pasar furniture di Tanah Air. “Para pengusaha furnitur lokal harus merasa tertantang dengan meningkatkan kualitas dan menggarap pasar lokal dan internasional lebih intens lagi,” tuturnya. Pasalnya menurut dia, selama ini kalangan industri furnitur di Indonesia terlalu asyik menggarap dan berekspansi di pasar ekspor. Alhasil, pasar lokal tak digarap secara optimal.

Menurutnya, ketidaksiapan pengusaha dalam negeri ditandai dengan respon “gelagapan” begitu mendengar kabar bakal adanya serbuan pemain furnitur dari luar negeri. Dijelaskan Ambar,, mau tak mau, pengusaha furnitur lokal harus lebih serius menggarap pasar lokal. Sebab, kondisi pasar di Amerika Serikat (AS) dan Eropa sedang jatuh. Jika tak menggarap pasar lokal, pebisnis furnitur lokal bisa surut.

Ambar juga memprediksi penjualan ekspor tahun ini akan ikut merosot 10%. Sebaliknya, penjualan dalam negeri justru berpotensi meningkat 10%, seiring pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kondisi seperti inilah, kata dia, yang menjadi daya tarik peritel furnitur asing. Menurut Ambar, selain IKEA, pasar furnitur Indonesia sudah lebih dulu digempur furnitur asal China. Menurut dia, sulit membendung serbuan furnitur luar negeri di tengah era pasar bebas seperti saat ini.

Ambar menjelaskan, kehadiran IKEA akan menjadi pesaing berat bagi para pemain lokal yang menggarap segmen menengah ke bawah. “IKEA akan bertempur dengan Olympics dan Ligna,” ujarnya lagi. Ditambahkan, IKEA selain akan menggarap pasar Indonesia, juga akan berencana membuka pabrik di Indonesia dan Vietnam.

BERITA TERKAIT

BI: Ekonomi Banten Tumbuh Sangat Baik Pada 2018

BI: Ekonomi Banten Tumbuh Sangat Baik Pada 2018 NERACA Serang - Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten Rahmat Hernowo…

Penetrasi Bisnis LNG Skala Kecil Pertamina ke Industri Wisata dan Horeka - Sangat Strategis

Penetrasi Bisnis LNG Skala Kecil Pertamina ke Industri Wisata dan Horeka Sangat Strategis NERACA Jakarta - Penetrasi bisnis gas alam…

Taiwan Dukung Pertumbuhan Industri Non Migas Indonesia

HL6-4   NERACA   Jakarta - Kementerian Perindustrian Republik Indonesia menargetkan pertumbuhan industri pengolahan non-migas pada tahun 2018 sebesar 5,6…

BERITA LAINNYA DI INDUSTRI

Kampus Diminta Gelar Lokakarya Penumbuhan Wirausaha

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian semakin gencar mendorong tumbuhnya wirausaha industri baru karena ikut berperan penting dalam menggerakkan roda perekonomian…

Insinyur Perlu Berkontribusi Ciptakan Inovasi

NERACA Jakarta – Insinyur dinilai berperan penting dalam menyukseskan penerapan revolusi industri 4.0 di Indonesia melalui penguasaan teknologi terkini. Hal…

Sektor Riil - Komplek Petrokimia Senilai US$3,5 Miliar Dibangun di Cilegon

NERACA Jakarta – Kementerian Perindustrian terus mendorong tumbuhnya industri petrokimia di Indonesia untuk semakin memperkuat struktur manufaktur nasional dari sektor…