Bankir Lokal Mulai Mbalelo? - MENKEU KRITIK CEO TIDAK HADIR

NERACA

Jakarta - Pertama kali dalam sejarah perbankan di republik ini, Kongres Persatuan Bank-bank Umum Nasional (Perbanas) XVIII yang berlangsung kemarin (31/10) di Jakarta, ternyata hanya dua orang Chief Executive Officer (CEO) bank yang hadir dalam pertemuan bergengsi itu. Ini jelas menggambarkan sebagian besar direktur utama (Dirut) bank besar di negeri ini mulai kurang peduli terhadap kepentingan organisasinya di tengah ancaman derasnya bank asing ke Indonesia jelang ASEAN Economic Community 2015.

"Perbanas adalah lembaga yang bermartabat. Untuk CEO hadir adalah bentuk komitmen," kata Menkeu Agus Martowardojo di sela-sela kegiatan seminar menyambut kongres tersebut di Jakarta, Rabu (31/10).

Kritikan ini langsung dilontarkan Agus sesaat memulai pidato. Peserta kongres yang umumnya adalah bankir, sejenak terdiam. Dia kemudian langsung mengubah suasana pertemuan dengan sedikit bergurau.

"Ini kan bagian dari keluarga Perbanas," tuturnya.

Namun Agus Marto mengingatkan, agar staf perbankan sebagai mewakili CEO untuk menyampaikan pesan tersebut. "Organisasi ini (Perbanas-Red.) sudah berumur 60 tahun, kalau pelaku tidak menghargai sendiri dan tidak siap menjadi negara besar, mau kemana kita," ujarnya.

Dari pantauan Neraca, kegiatan kongres tersebut terlihat yang hadir adalah Dirut Bank Mandiri Zulkifli Zaini yang datang bersama wakil dirut Riswinandi, kemudian hadir juga Dirut OCBC NISP Parwati Surjaudjaja, serta Wadirut Bank Permata Herwidyatmo.

Agus Marto selaku Ketua Dewan Penasihat Perbanas memang pantas meradang. Entah apa sebabnya dirut bank besar seperti BCA, BNI, BRI, BII, Danamon, Panin, tidak hadir dalam pertemuan tersebut. Lain halnya di negara lain seperti Singapura, Malaysia, AS, dimana wibawa seorang menteri keuangan sangat dihargai sekali di mata bankir-bankir di negaranya.

Menanggapi fenomena ini, pengamat perbankan Farial Anwar menilai sedikitnya CEO perbankan nasional yang hadir disinyalir sudah banyak perbankan nasional yang dikuasai asing. “Jadi, CEO-nya mungkin juga orang asing, sehingga mungkin mereka merasa tidak berkepentingan untuk datang. Walaupun semua bank swasta, asing dan nasional, pasti diundang untuk hadir,” kata Farial kepada Neraca di Jakarta, Rabu (31/10).

Menurut dia, para CEO tersebut harusnya hadir dalam acara akbar seperti itu yang bisa menjadi forum untuk bertemu dan saling bertukar informasi, saran serta kritik. Terlebih lagi, kalau ada pejabat penting seperti Menkeu atau Gubernur BI. “Mereka (CEO) memang mesti datang. Yah, minimal berkenalan dan berdiskusi serta menyampaikan pendangannya,” ungkapnya.

Farial juga menambahkan, dalam satu bank terdapat banyak direksi, sehingga jika ada yang tidak bisa datang, maka bisa hadir mewakili. “Bank bisa mengutus wakil atau representasi dari perusahaannya,” imbuhnya. Dirinya pun bercerita ketika dahulu menjadi bankir. Farial menuturkan bahwa dia pasti akan menyempatkan datang ke acara penting seperti Kongres Perbanas.

“Dulu waktu saya masih jadi bankir terus ada waktu, saya pasti menyempatkan diri datang. Karena di sana saya dapat bersosialisasi dan berkenalan dengan para bankir. Selain itu bisa memperluas jaringan karena itu paling penting dalam industri perbankan,” terang Farial.

Dinamika Bisnis

Hal senada juga diungkapkan Direktur Indef, Ahmad Erani Yustika. Menurut dia, ketidakhadiran beberapa CEO perbankan pada saat pelaksanaan kongres perbanas tidak bisa dinilai secara hitam dan putih.

“Sebenarnya beberapa CEO bank pada pagi hari sudah datang, tetapi memang pada saat menteri keuangan datang beberapa sudah meninggalkan tempat dan diwakilkan pihak manajemen lainnya.” jelas Erani, yang saat itu ikut hadir dalam kongres tersebut.

Menurut Erani, sejauh ini CEO perbankan masih menganggap penting keberadaan otoritas keuangan. Hal tersebut ditunjukkan dengan bagaimana mereka mempercayakan ketua umum perbanas, Sigit Pramono menjadi juru bicara sekaligus mematuhi aturan-aturan yang berlaku.

Oleh karena itu, Erani menilai fenomena ketidakhadiran CEO pada saat Kongres Perbanas merupakan bagian dari dinamika bisnis. Meskipun penyelenggaraan kongres tersebut tentunya sudah diagendakan jauh sebelumnya dan pihak CEO diharapkan harus hadir.

“Kita tidak dapat menampik kalau dalam dunia bisnis ada dinamikanya, di mana pada saat-saat tertentu ada hal-hal mendadak yang tidak bisa digantikan meskipun oleh wakilnya.” paparnya.

Sementara itu, Wakil Direktur Utama Bank Mandiri dan juga Ketua Pelaksana Kongres Perbanas XVIII, Riswinandi mengatakan, kritikan Agus Marto menjadi pelecut semangat organisasi untuk berkembang di masa mendatang.

Menurut Riswinandi, kritikan pertama perihal tidak hadirnya seluruh CEO bank-bank yang menjadi anggota Perbanas disebabkan oleh kesibukan bos-bos yang tidak bisa ditinggalkan. Namun dia memastikan, CEO perbankan hadir dalam kongres. Hanya saja tepat saat kedatangan Agus Marto, tidak semua dari merreka berkumpul. lia/ria/ardi

BERITA TERKAIT

PII : Skema KPBU Mulai Banyak Diminati Investor - Resmikan SPAM Semarang Barat

        NERACA   Semarang - Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM)…

Mata Uang Digital Di Indonesia Mulai Tumbuh

  NERACA   Jakarta - Pakar keuangan dari Skipjack Corporation Profesor Dr Mike Irvan melihat mata uang digital mulai tumbuh…

Kemendagri: Tidak Benar Sistem Pengaman KTP-el Jebol

Kemendagri: Tidak Benar Sistem Pengaman KTP-el Jebol NERACA Jakarta - Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membantah pemberitaan menyebutkan sistem pengamanan KTP…

BERITA LAINNYA DI BISNIS INDONESIA

DINILAI MELANGGAR UU MINERBA - Iress Tolak Revisi PP 23/2010

Jakarta-Indonesian Resources Studies (Iress) menolak rencana pemerintah kembali merevisi Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan…

BANYAK FINTECH ILEGAL DARI CHINA - Satgas OJK Tindak Tegas 404 Fintech Ilegal

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas Waspada Investasi akhirnya menghentikan kegiatan usaha dari 404 penyelenggara layanan pinjam meminjam (peer to…

Butuh Kolaborasi Tingkatkan Daya Saing Pasar Rakyat

NERACA Jakarta – Daya saing yang dimiliki oleh pasar rakyat memiliki potensi besar dibandingkan dengan pasar swalayan. "Artinya secara daya…